Angkatan Sastra: Resume yang Menyesatkan

Bahasa Puisi dan Tanggung Jawab Penyair

Capaian Asketik Penyair Generasi 90-an

‘Pinangan dari Selatan’, Risalah Membaca Novel Sejarah

   Membaca novel ‘Pinangan dari Selatan’ karya Indra J Piliang, seolah-olah membaca potret sejarah yang terluka dalam tubuh bangsa Indonesia.  Satu potret yang menyiratkan bahwa berbagai peristiwa yang hadir dalam laku lampah kehidupan sehari-hari, banyak dirimbuni oleh aura amarah, dendam, dengki dan napsu kekuasaan untuk saling menjegal satu sama lain...

RUMAH TANPA PENGHUNI

Jalan setapak menuju rumahku, jalan menuju kehidupan tanpa penghuni. Sepi, sunyi, senyap, mengalir deras di selokan rumahku. Masuk ke berbagai sudut rumah. Comberan yang diam. Kolam ikan yang mati, jadi pendulum rumah tanpa penghuni. Tak ada dunia di rumahku. Tak ada kehidupan di kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu...

Antara Rokok, Sholat dan Pacaran

Mengenang Sobat Naufal Ramzy Terbayang dalam ingatan saya CIputat era 80-an. Era di mana saya meracik pengetahuan sastra dan Islam. Satu dua pilar pengetahuan yang mengantar saya pada hakikat pengetahuan. Ilmu sastra merayakan estetika kata, Islam dengan Alquran sebagai petunjuk dan obat, melansir kata-kata yang sangat indah, sangat sastrawi Di...

Paralogi: Satu Residu yang Tersisa

Oleh Edy A Effendi Kenyataan sastra hari ini, mau tak mau, harus dilihat dan dipandang dalam prinsip-prinsip paralogi. Satu prinsip atau kaidah yang mendedahkan keberagaman realitas, unsur-unsur, dan ruang permainan dengan logikanya masing-masing, tanpa harus saling menindas atau mengerangkeng satu dengan yang lain. Para cerdik pandai melihat realitas ini,...

Puisi Indonesia: Sembunyi dalam Gelap

p.p1 {margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px ‘Helvetica Neue’; color: #454545} p.p2 {margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px ‘Helvetica Neue’; color: #454545; min-height: 14.0px} span.s1 {text-decoration: underline} span.s2 {text-decoration: underline ; color: #e4af0a} . Puisi yang penuh dengan metafor gelap, kalimat panjang yang hampir-hampir tak terpahami dan...

Kritik Sastra: Isu Lama, Kemasan Baru

p.p1 {margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px ‘Helvetica Neue’; color: #454545} p.p2 {margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px ‘Helvetica Neue’; color: #454545; min-height: 14.0px} Oleh Edy A Effendi PADA Agustus 1938 di majalah Poejangga Baroe, JE Tatengkeng, penyair terkemuka di awal kesusastraan Indonesia modern, memberitahu kita bahwa...

SAJADAH TERAKHIR

di beranda, segelas rum Puerto Rico dengan tangki-tangki enamel putih dan pipa kronium mengantarku pada Claude Levi-Strauss. angin memecah malam tak ada lagi segelas rum Martinique yang disuling dengan instrumen-instrumen lapuk sejak abad 18, aku merindukanMu di sini di antara kamar tidur dan rahim ibuku yang telah dihuni batu-batu....

Baginda Nabi Tak Meninggalkan Warisan Harta

Sebagian besar orang melihat kekayaan hanya dari sisi lahir, materi. Orang yang punya mobil langsung dicap lebih kaya ketimbang orang yang punya motor. Orang yang punya rumah dianggap lebih kaya ketimbang orang yang masih tinggal di kontrakan. Inilah ukuran kekayaan secara materi. Inilah ukuran kekayaan secara materi. Saya teringat...

Fanatisme dan Keseragaman dalam Puisi

Oleh Edy A Effendi NIRWAN Dewanto, seorang esais, dalam diskusi terbatas, di Warung Tenda Biru, Jalan Braga, Bandung, melihat ada gejala dalam proses penciptaan puisi dalam dasawarsa terakhir, yang ditandai semangat fanatisme dan keseragaman di sebagian penyair Indonesia. Tampaknya, lemparan pikiran Nirwan perihal sikap fanatisme itu, lahir dari semangat...