Bahasa Puisi dan Tanggung Jawab Penyair

Bahasa Puisi dan Tanggung Jawab Penyair

Oleh Edy A Effendi
SURAT Sastro Joko Pinurbo (Kompas, 2/6), dalam banyak hal, memberi isyarat cukup signifikan pada dunia penulisan puisi yang selalu terjerat pada lingkaran media massa, percetakan dan penjaga gawang rubrik sastra.

Lebih jauh, surat sastra Joko itu, mengingatkan saya bukan hanya pada persoalan salah cetak semata, dan argumentasi “hiburan” Sutardji Calzoum Bachri-sebagai penjaga gawang puisi di lembar Bentara-tetapi kata-kata dan bahasa yang dituang penyair telah menjadi the web of significance, jaringan makna yang seringkali memintal sendiri posisi
penyair sebagai bagian yang terpisahkan dari puisi (teks) yang ia tulis.

Dari sini, kita diingatkan oleh asumsi Clifford Geertz ketika mengutip Max Weber yang melihat manusia sebagai hewan yang terjerat dalam jaringan makna yang ia pintal sendiri (Clifford Geertz The Interpretation of Cultures, 1973).

Perihal bahasa puisi
Kekuatan bahasa sastra sebagai sarana representasi dari mekanisme kerja keseharian, senantiasa menawarkan ruang-ruang subyek, untuk beroperasi melakukan tindakan-tindakan sosial, serta menentukan strategi-strategi dan tema-tema yang diyakini mampu membangun medan kesadaran publik. Dari sinilah posisi bahasa tidak sekadar alat korespondensi antar- subjek, tetapi bahasa telah membangun satu peta
kekuatan di luar dirinya.

Bahasa dalam takaran ini, menurut Benjamin Lee Whorf, tidak hanya medium untuk berkomunikasi, tetapi pada wilayah tertentu berfungsi untuk mendefinisikan kehidupan dirinya. Bahasa, bukan hanya alat reproduksi untuk menyuarakan kembali gagasan-gagasan, namun justru bahasa itu sendirilah yang menjadi pembuat gagasan, program dan panduan aktivitas mental individu, untuk menganalisis kesan dan untuk sintesis kemampuan mentalnya.

Pikiran Whorf, setidak-tidaknya menolak doktrin tradisional bahasa, yang dihinggapi definisi-definisi normatif sebagai alat komuni-kasi dan pemekaran jurisdiksi kata-kata. Menu-rut doktrin tradisional, kata-kata yang ter-tuang dalam puisi memerlukan penjelasan lebih lanjut, karena hubungan antara realitas kosmik dengan bahasa manusia telah memudar selama kurun waktu tertentu, yang menilai alam secara kuantitatif dan mempelajari bahasa secara ana-litis belaka, dengan mengabaikan aspek kuali-tatif sintetis puitis.

Bahasa sastra hadir sebagai ragam ekspresi yang melewati perakitan-perakitan psikopsikis dalam diri seseorang. Mengenai bahasa dalam wilayah sastra, Sutan Takdir Alisjahbana pun memberi komentar bahwa bahasa hanyalah alat untuk menjelmakan perasaan dan pikiran yang terkandung dalam sanubari pujangga.

Bagi Takdir, tiap-tiap pujangga bebas memakai alat sekehendak hatinya, asal saja dengan jalan demikian terang dan indah ia menggam-barkan perasaan dan pikirannya… Apa pula salahnya, kalau orang hendak melagukan dendangnya dengan perkataan arianingsun, mayapada, laksamana, imbang irama, kesturi (Surat Untuk Armijn Pane, 12 Oktober 1932).

Tampak jelas, bahasa sastra mengedepankan kebebasan berekspresi, menuangkan ribuan gagasan dengan ruang-ruang imajinasi yang longgar.Dalam bahasa, selalu terdapat kese-larasan, bahkan terkandung dalam kata-kata atau substansi bahasa, maka menjadi lebih membekas dan mendalam, hingga terwujudlah sebuah puisi; melalui puisilah menggema kembali keselarasan fundamental yang memungkinkan manusia untuk kembali pada keberadaan dan kesadarannya yang lebih tinggi.
Maka, ketika seorang penyair berhadapan dengan puisi, ia harus mampu merumuskan gagasan tentang puisi yang ia tulis sebagai tanggung jawab dari kepenyairannya. Pada titik ini, seorang penyair harus mampu memberi bukti, bahwa kehadiran puisi yang seringkali melimpah-ruah dari tangan penyair, harus diper-tanggungjawabkan secara nalar, akal sehat dan kerumunan argumentasi dari sang penyair.

Kerja semacam ini, bertujuan agar puisi jangan dijadikan “pesta kreatif” sang penyair tanpa mau membedah kandungan makna yang ada di balik kata-kata. Karena dengan membiarkan penyair menumpahkan kata-kata tanpa makna dalam puisi dengan dalih kreativitas, akan memper-buruk stigma dalam tubuh penyair, bahwa mereka adalah gerombolan manusia di atas angin, yang menghamburkan kata-kata tanpa mau menengok subtansi makna kata.

Perlunya memahami makna kata ketika kata-kata dituangkan dalam puisi, adalah “untuk me-wujudkan orientasi esensi (maknawi) agar mampu menggantikan orientasi simbolik, sebagai bagian dari proses kerja kreatif seorang penyair.” Di sinilah kemudian, argumentasi Tardji layak dipersoalkan:gembirakanlah dirimu dengan salah-cetak. Salah cetak bukanlah musuh. Ia bahkan bisa memberikan berkah. Pada hakikatnya seorang penyair menulis untuk salah-cetak.Dalam wilayah sastra, khususnya puisi, kata menjadi satu kekuatan sentral dan menjadi satu gema untuk menciptakan kembali keberadaan dan kesadaran yang lebih tinggi dalam diri manusia. Hartojo Andangdjaja melihat puisi akan menemukan artinya dalam kehidupan bersama pada wataknya yang impersonal.

Watak impersonal itu akan kita temukan apabila puisi bersumber pada sesuatu yang lebih tinggi dari si penyair sebagai person. Maka sangat tidak signifikan, jika sebuah “proses kreatif” yang berurusan dengan dunia imaji, jagat kata dan ruang-ruang estetis, harus disandarkan pada argumentasi fatalis.

Bentuk dan makna

Tardji mungkin tidak lupa, bahwa keselarasan substansi bahasa puisi antara bentuk dan makna kata, juga ditemukan di Timur Jauh yang diungkapkan dalam polarisasi istilah Yin-Yang, dan dalam sumber Islam pun dibedakan antara bentuk (shurah) dengan makna (ma’na).

Penggunaan istilah shurah dalam konteks ini dan lawan katanya, ma’na, hendaknya tidak dikacaukan dengan penggunaan istilah shurah yang sama ketika dikontraskan dengan materi (madda atau hayula) dalam bahasa hilomorfisme yang digunakan oleh beberapa filosof Islam serta mereka yang mengikuti ajaran Aristote-lian. Dalam persoalan yang pertama, ma’na dapat disamakan dengan esensi atau prinsip dan shurah dengan segala sesuatu yang substansial, reseptif dan “material”; sementara dalam hal yang kedua, shurah digunakan dalam pengertian Aristotelian dan Thomistik, sebagai unsur yang esensial dan prinsipal yang berlawanan dengan unsur material.

Akhirnya, bukankah kita pernah diingatkan oleh seorang kawan “bahwa puisi menuntut “disiplin” agar koherensi itu terjaga, dalam imaji, bunyi, sugesti, kontras, dan keseim-bangan. Hanya saja prosesnya melintasi jalan yang berbeda dengan prosa.”

KOMPAS - Minggu, 13 Agustus 2000
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Jejak Langkah

Jejak Langkah

Menekuni dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA, Edy A Effendi terus mengasah kemampuan…
SAJADAH TERAKHIR

SAJADAH TERAKHIR

di beranda, segelas rum Puerto Rico dengan tangki-tangki enamel putih dan …