Capaian Asketik Penyair Generasi 90-an

Capaian Asketik Penyair Generasi 90-an

Oleh Edy A Effendi

Wajah tanpa wujud
Bayang-bayang gaib yang menjelma
Di Keremangan. Aku sembahyang
Melewati dermaga, perahu-perahu
Melewati masa lalu yang jauh
Melewati sejumlah tempat dan kesepian


PUISI Acep Zamzam Noor di atas, bisa dijadikan satu variabel kecenderungan dominan penyair yang bergerak di sekitar periode 1990-an hingga akhir tahun 2000, yang lebih menyodorkan unsur asketik di antara kerumunan tema-tema sosial yang menghinggapi generasi penyair 90-an. Capaian asketik coba menawarkan "dunia dalam" dengan menghindarkan diri dari gemuruh dunia nyata dan coba membebaskan diri dari berbagai pesona-pesona verbal duniawi dengan menyandarkan pada gaya dan daya ungkap yang ritmis dan penuh ketakziman. Penyair yang bergerak pada tataran ini lebih mengedepankan unsur bunyi dan imaji dengan berusaha menjadikan puisi sebagai ekspresi verbal yang otentik.

Kehadiran sebuah puisi selain menempatkan imaji dan bunyi, ia juga membutuhkan "koherensi, dimana satu sama lain mampu menumbuhkan kontras dan sugesti". Atau dalam pandangan Octavio Paz, bahwa dalam puisi, sinkroni ber-sifat luwes; kata-kata yang mendukung sebuah puisi merupakan rangkaian bunyi yang mengandung makna. Setiap bunyi harus dipelajari dengan cermat agar maknanya dapat dipahami. Dalam puisi harmoni justru menimbulkan disharmoni. Puisi bisa harmonis jika struktur ujaran yang bermakna itu mengalami pembalikan dan penyimpangan. Dalam puisi, waktu bersamaan tidak hanya sekadar menjadi pembentuk puisi tersebut. Perbandingan metafora, ritme, dan rima merupa-kan konjugasi dan repetisi yang mengikuti prinsip waktu bersamaan. Maka bagi para penyair yang bergerak di sekitar dekade 1990-an, kenyataan ini haruslah menjadi tantangan, dalam puisi tidak hanya menyandarkan keliaran imajinasi, tetapi kemampuan menjaga koherensi puisi agar ia memiliki "disiplin" penciptaan.

Ahmadun Y Herfanda adalah penyair lain yang secara tidak sadar ikut menyokong capaian-capaian asketik penyair 1990-an. Puisi Sembahyang Rumputan adalah contoh konkret dari kecenderungan asketisme:/sembahyangku sembahyang rumputan/sembahyang penyerahan jiwa dan badan/yang rindu berbaring di pangkuan Tu-han/sembahyangku sembahyang rumputan/sembah-yang penyerahan habis-habisan/. Suasana asketik juga bisa dilihat dari puisi Dorothea Rosa Herliany, Katedral, Suatu Malam: /burung gereja telah tidur, tetapi aku mengetuk sangkarnya/mimpi panjangnya terpenggal kidungku. Bersamanya kunyanyikan syair litani yang teduh/. Hanya saja, generasi Acep, Ahmadun dan Rosa, sering kali terperangkap pada jebakan tema-tema yang bergerak pada tataran teologis. Ketika proses penciptaan puisi yang dikerjakan sebagian penyair generasi 1990-an terjebak pada tataran teologis, puisi yang tercipta hanya bersandar pada kemampuan memainkan irama kata dan teknik penulisan yang "dicanggihkan" agar atmosfer asketik terjaga.

Dari sinilah kemudian proses penciptaan puisi yang dikerjakan sering kali terjebak pada upaya "penuhanan kata-kata", dan pada akhirnya kreativitas dalam proses penciptaan tidak lagi menjadi tolok ukur; apakah puisi yang diciptakan sebagai sarana representasi dari bentuk kreatif sang penyair, atau sekadar kemampuan penyair mengakomodir kata-kata yang dituang dalam bentuk puisi?

Meskipun mereka menampung tema-tema demokrasi, ketimpangan sosial dan berbagai ragam ketidakadilan, namun muara yang mereka bangun selalu bergerak pada dimensi ketuhanan. Mereka limbung dengan bahasa-bahasa yang bersifat ale-goris tanpa mau meletakkan unsur estetik yang kuat dan utuh sebagai satu kekuatan hadirnya sebuah puisi. Para penyair generasi 1990-an di satu sisi keluar dari dominasi benda-benda yang sering kali digunakan Afrizal Malna sebagai "mikrofon" lain dalam menciptakan puisi.

Afrizal Malna yang juga menjadi penghuni generasi 1990-an, coba menghidupkan benda-benda di sekitar dirinya, "menjadi manusia lain"; kaleng Coca Cola, ember, cermin, gelas, dan segala rongsokan benda-benda ikut mewakili kehadiran si penyair. Pencerahan yang dilakukan Afrizal Malna memperlakukan benda-benda seperti seorang diktator terhadap rakyatnya (atau sebaliknya). Ia mengetahui benda-benda itu sejauh ia dapat memanipulasi benda-benda. Maka kehadiran Acep Zamzam Noor, Ahmadun Y Herfanda, Dorothea Rosa Herliany, Oka Rusmini, dan Isbedy Stiawan ZS adalah poros lain dari penyair yang coba meng-hidupkan alam semesta dengan nuansa ritmis, penuh imaji dan suasana spiritualisasi yang kental.
***

BANJIR penyair di era 1990-an, di samping melahirkan satu diskursus komunal, sehingga tumbuh gerakan sastra yang mengklaim dirinya sebagai Revitalisasi Sastra Pedalaman, Sastra Buruh, juga maraknya komunitas-komunitas sastra, yang seolah-olah direkayasa sebagai jembatan untuk menjadi penyair dan menempatkan diri dalam konstelasi kepenyairan Indonesia. Akibat dari proses kepenyairan semacam ini, adalah semangat komunalistik yang mengedepankan wilayah kelisanan dan sepinya produktivitas karya yang bermutu. Mereka hanya keluar dari cengkeraman "pusat" dan coba menciptakan pusat-pusat baru dengan mengibarkan bendera yang sama. Dan akibat yang lebih jauh adalah terganggunya wilayah reproduksi puisi; satu proses yang menjaga kontinuitas tradisi penulisan puisi dan koherensi pengetahuan praktis sehari-hari dalam wilayah kata.

Dalam konteks ini, terganggunya wilayah reproduksi puisi itu mengakibatkan krisis penciptaan dalam bentuk hilangnya makna puisi, dan krisis gagasan-gagasan sosial dalam bentuk krisis legitimasi, serta krisis kepribadian sang penyair itu sendiri, dalam bentuk krisis orientasi penulisan puisi.

Tidak dapat dipungkiri dalam perjalanan waktu yang cukup panjang sejak tahun 1970-an, ketika generasi 90-an tidak mampu keluar dari penjara kreativitas, Sutardji Calzoum Bachri (SCB) adalah satu-satunya sosok penyair yang mampu membuka kotak Pandora estetika ke-penyairan Indonesia ketika dominasi estetika Chairil Anwar merajai sebagian penyair generasi 70-an. Proses kreatif SCB yang bisa ditakar dengan hitungan waktu, tahun 1968 dan mencapai puncaknya pada kurun waktu 1970-an, berhasil membunuh kebuntuan proses penulisan puisi yang didominasi penalaran-penalaran pemaknaan yang bersikukuh pada otoritas kata sebagai satu-satunya tafsir tunggal terhadap
keberadaaan kata.

Dekade 1970-an adalah kerumunan ekstrim dari pencapaian proses estetika kesenian, termasuk didalamnya wilayah teater, tari dan seni rupa, Dan dalam hutan belantara ke-penyairan Indonesia dekade 1970-an bisa dijadikan tonggak terakhir capaian-capaian este-tika kepenyairan Indonesia, di mana hingga kini generasi pelanjut yang bergerak di sekitar tahun 1990-an, hanya menjadi "tukang catat" kerumunan estetika penyair pendahulunya, dengan cara mentakbirkan kembali atau mendaur ulang kenyataan-kenyataan estetik yang pernah ada. Atau dengan kata lain, generasi penyair pada poros waktu 1990-an, hanya ikut menjaga keberlangsungan estetika generasi sebelumnya.

Kenyataan ini mempertegas bahwa proses eksplorasi dan pembaruan dalam puisi yang kemudian diusung sebagai sebuah angkatan sastra, tidak serta-merta hadir tanpa adanya pergulatan yang khas, panjang dan dalam terhadap daya ungkap, capaian-capaian estetika dan eksplorasi kata-kata yang pada akhirnya membentuk mainstream baru; yang berbeda dan khas dari generasi sebelumnya.

Situasi seperti inilah-tidak adanya peng-gemparan kata, perambahan estetik dan eskplorasi radikal yang menjadikan generasi 90-an hanya menemukan tema-tema tanpa mampu mendobrak kebuntuan kreatif yang seharusnya dibongkar oleh satu komunitas yang selalu mentakbirkan diri sebagai "sang kreator". Mereka hanya melakukan rekreasi dan mengubur kreasi-kreasi baru. Kegamangan generasi dan kenyataan-kenyataan asketik, sebagai dua tema besar yang menjadi warna domiinan bagi generasi penyair 1990-an.

Kenyataan-kenyataan seperti ini melahirkan satu pertanyaan, kenapa generasi 1990-an tidak mampu keluar dari stigma lama, dan cenderung membombardir puisinya dengan gumpalan kata-kata yang sudah dirambah penyair pendahulunya. Situasi seperti ini dalam pandangan A. Teeuw, karena puisi Indonesia terjepit antara dua bahaya maut: pertama kemiskinan tradisi dalam bahasa Indonesia yang semula mumbang, yang memustahilkan dialog dengan masa lampau, dialog dengan sejarah sebagai sumber inspirasi, seperti misalnya terdapat di Barat, dengan persambungan bahasa dan tradisi puisi sejak Homerus, selama 3000 tahun-berkah dan tantangan yang tak tergali potensinya.

Dan bahaya maut kedua: bahasa dan puisi Indonesia yang masih rapuh-getas terancam hanyut, seperti 'mumbang-jatuh', oleh banjir teknologisasi dan birokratisasi masyarakat Indone-sia modern yang mutlak membutuhkan konsep yang jelas, makna yang taksa, arti yang tak terbantah.

Pada akhirnya, generasi 1990-an memang hanya menjadi pencatat peristiwa-peristiwa ketika fenomena "di luar" tengah diterjang badai kesemarakan beragama, sempitnya ruang ar-tikulasi publik dan lahirnya generasi yang gamang, para penyair mengusung peristiwa "luar" itu ke dalam kamar puisinya. Maka sangat tidak mungkin menciptakan sebuah angkatan tanpa adanya perambahan estetika dari sebuah generasi yang selalu mengklaim dirinya menjaga wilayah kata-kata.




KOMPAS - Minggu, 24 Desember 2000. Ini tulisan catatan akhir tahun
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Kisah Sedih Sastra Islam

Kisah Sedih Sastra Islam

Oleh Edy A Effendi PADA tahun 1948, sebuah sandiwara radio bertajuk Sinar Memancar dari Jabal An-Nu…