Kisah Sedih Sastra Islam

Kisah Sedih Sastra Islam

Oleh Edy A Effendi
PADA tahun 1948, sebuah sandiwara radio bertajuk Sinar Memancar dari Jabal An-Nur karya Bahrum Rangkuti digugat oleh publik, karena menyuguhkan adegan Nabi Muhammad menerima wahyu pertama di gua Hira melalui mikrofon.

Cerita itu disadur dari The Christmas Carol karangan Charles Dickens dengan mengambil tema Natal, yang kemudian atmosfirnya diubah oleh Bahrum Rangkuti ke dalam lingkungan Islam; semalam sebelum lebaran. Anehnya, ketika cerita tersebut dimuat dalam Majalah Indonesia, Juli 1949, tidak mendapat reaksi dari publik.

Memasuki tahun 1968, pada bulan Agustus, Majalah Sastra memuat cerita pendek Langit Makin Mendung karya Ki Panjikusmin, dan mendapat reaksi sangat keras dari masyarakat pembaca, karena cerita tersebut memperlakukan Nabi dengan pernyataan-pernyataan yang amat kasar dan dianggap menghina Islam.

Dua kasus di atas memberi satu bukti bahwa transformasi ide melalui dunia sastra tidak bisa dibebaskan dari masyarakat pembaca yang memiliki kaidah-kaidah normatif (Islam) dan sudut pandang yang berbeda dari sang kreator, ketika berhadapan dengan wilayah bacaan sastra.

Situasi itu mempertegas bahwa peran bahasa dalam proses penciptaan begitu dominan. Realitas ini memberi isyarat bahwa bahasa memang memegang peranan vital dalam konstelasi komunikasi keseharian, dimana bahasa tidak hanya menjadi bagian pembicaraan dalam relasi antar manusia, tapi bahasa sekaligus sebagai pengimbang, penjaga keselarasan kosmik. Dari sinilah kemudian bisa ditarik satu perbedaan awal perihal posisi bahasa dalam wilayah sastra dan posisi bahasa dalam pagar agama. Dalam sastra, seperti pernah diungkap Abdul Hadi WM, bahasa yang dipergunakan berbeda dengan bahasa percakapan keseharian.

Abdul Hadi mengatakan bahasa sastra menggambarkan “dunia dalam” atau “bayangan batin” yang bergerak, tapi disamping itu gaya pengucapannya pun merupakan sesuatu yang penting diperhatikan dalam segi-seginya yang menyangkut pilihan kata, penyusunan irama, pengembangan kontradiksi-kontradiksi, penampilan imaji-imaji visual dan auditif, unsur-unsur musikal dan dadakan-dadakannya.

Apa yang digambarkan Abdul Hadi WM memperlihatkan bahwa posisi bahasa dalam sastra lebih banyak mengungkap “dunia dalam” atau “bayangan batin” daripada realitas keseharian, yang banyak ditempuh dengan percakapan “dunia luar”.
Mengenai bahasa dalam wilayah sastra, Sutan Takdir Alisjahbana pun memberikan komentar, bahwa bahasa hanyalah alat untuk menjelmakan perasaan dan pikiran yang terkandung dalam sanubari pujangga. Bagi Takdir tiap pujangga bebas memakai alat sekehendak hatinya, asal saja dengan jalan demikian terang dan indah untuk menggambarkan perasaan dan pikirannya (Surat untuk Armijn Pane, 12 Oktober 1932).

Pikiran Takdir berkaitan erat dengan era Pujangga Baru yang ingin melakukan pembaruan dalam tradisi sastra dengan melakukan eksperimentasi terhadap wilayah kata, ketika seorang penyair melahirkan sebuah puisi.
Dalam wilayah sastra, khususnya puisi, bahasa menjadi satu kekuatan sentral dan menjadi satu gema untuk menciptakan kembali keberadaan dan kesadaran yang lebih tinggi dalam diri manusia. Puisi, dalam perspektif Hartojo Andangdjaja, menemukan artinya bagi kehidupan bersama bila bersumber pada sesuatu yang menemukan gemanya dalam kehidupan bersama itu sendiri.

Hartojo juga melihat puisi dengan menemukan artinya dalam kehidupan bersama pada wataknya yang impersonal. Watak impersonal itu akan kita temukan apabila puisi bersumber pada sesuatu yang lebih tinggi dari si penyair sebagai person.

Maka, ketika bahasa sastra memasuki ruang-ruang agama, ia akan membentur tembok agama yang dihinggapi aturan bahasa dari tindakan-tindakan Tuhan sebagai penentu bahasa. Disinilah salah satu letak kekurangan Abdul Hadi WM ketika membicarakan sastra yang dibingkai nilai-nilai islam, ia menafikan peran bahasa agama. Padahal, bahasa agama, menurut Komaruddin Hidayat (Memahami Bahasa Agama, 1996), secara historis-antropologis adalah bahasa manusia. Tetapi, secara teologis di dalamnya memuat kalam Ilahi yang bersifat trans-historis atau meta-historis. Dalam konteks ini, kehadiran Serat Gatoloco (tusuk penggosok), yang dianggap mengikuti kerangka umum pola khas kisah santri lelana, mendapat sandungan di masyarakat pembaca sastra, karena bahasa yang disebar keluar dari mainstream yang ada.

Pendirian Gatoloco, tokoh sentral dalam Serat Gatoloco, ketika berdebat dengan tiga kali (Ngabdul Jabar, Ngabdul Manab, amat Ngarib) dari pondok yang tak dikenal dan tiga orang guru (Kasan Mustahal, Kasan Mustarib, Kiai Ngabdul Jalal) dari Pondok Cepekan, memperlihatkan sinisme yang tajam terhadap Islam, dengan bahasa tutur yang kasar dan beringas. Dan, hal itu didukung seorang punakawan bernama Darmogandul, yang menemani perjalanan Gatoloco.
Serat Gatoloco seperti halnya Serat Centhini, telah menjadi lambang pornografi dan anti Islam dalam sastra Jawa prakontemporer. Seperti halnya Langit Makin Mendung dan Ayat-ayat Setan yang ditulis Salman Rusdhie, Serat Gatoloco mempertaruhkan bahasa sastra memasuki ruang-ruang agama, dengan meruntuhkan kaidah-kaidah normatif sebagai simbol ekspresi kebebasan berkarya.

Hanya saja, ditengah maraknya arus kesusastraan Indonesia kontemporer, terutama puisi, sastra Islam tidak mampu menjadi pengimbang dalam latar sastra Indonesia. Maka, jika sastra Islam mengalami kemunduran dalam proses penciptaan, akan memiliki dampak pada wilayah lain. Bukankah ada satu anggapan yang berkembang, bahwa puncak kemajuan sastra (seni Islam) selalu menjadi pendorong kehidupan intelektual Islam (spiritualitas Islam). Dan sebaliknya, jika sebuah masyarakat tidak dihinggapi oleh tradisi intelektual (spiritualitas Islam), secara tidak langsung akan memberi dampak terhadap runtuhnya mutu seni Islam (sastra). Dalam konteks sastra Indonesia, meminjam pikiran Goenawan Mohamad, dalam roman-roman Buya Hamka, Islam baru menjadi latar belakang dan belum menjadi isu yang problematik.

Fenomena semacam itu –langkahnya karya sastra Islam—dipertegas oleh Abdul Hadi WM dalam tulisan Nafas Islam dalam Sastra Indonesia Kontemporer (Republika, 28/12/97) dengan memberi stigma pada tiga sosok sastrawan kita Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, dan M Fudoli – bahwa mereka mewakili genre sastra yang bernafaskan Islam. Mungkin karena kekurangan data atau psikologi generasi yang diemban, Abdul Hadi WM selalu merekomendasi tiga sosok tersebut sebagai wakil dari penjaga sastra Islam.

Dengan begitu, ia menutup pintu masuk nama-nama generasi sesudahnya, seperti Afrizal Malna, Acep Zamzam Noor, Ahmadun Y. Herfanda, Cecep Syamsul Hari dan Agus Noer di wilayah lain, dalam bentuk pengungkapan yang berbeda, yang memiliki persinggungan dengan konteks nilai utilitas Islam. Sebuah persinggungan dengan kultur lokal yang membesarkan mereka. Dan tentu, secara normatif, mereka tidak berdiri pada dataran formal sebagai penganjur bahasa agama.

Dengan demikian, jika brpijak pada takaran-takaran yang disodorkan Abdul Hadi WM, anggapan-anggapannya justru mempertegas kehidupan sastra Indonesia yang dihinggapi nilai-nilai Islam, hadir tanpa pembicara. Dan, menjadi benar pandangan Umar Junus, bahwa puisi Indonesia modern dihasilkan melalui pendengar yang tidak hadir (audience in absentie). Ia lahir melalui kehidupan yang terpencil, yang terbatas kepada dunianya sendiri. Ia juga bergantung pada ada atau tidaknya tema bersama yang meliputi dunia sastra (Keterbatasan Kepada Dunia Sendiri: Permasalahan Puisi Modern Indonesia, Majalah Budaya Jaya, 1979). Inilah sebuah kisah dari sebuah negeri yang memiliki label “meyoritas Islam”, tapi sastra Islam menjadi terasing di negerinya sendiri.

Karena itu, wajar kalau kita masih menjadi konsumen dari gagasan-gagasan “negeri orang” dan bukan menjadi produsen dari khasanah keislaman yang ada. Dan, menjadi benar apa yang pernah diungkapkan Ajip Rosidi di Majalah Budaya Jaya (1979) dalam tulisan berjudul Islam dalam Kesusastraan Indonesia, bahwa meskipun penduduk Indonesia 90% beragama Islam, tetapi sebenarnya, kita terpisah dari alur traidis sastra Islam.

dimuat Republika, 1998
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler