Majalah Horison : Neo-Horison dan Politik Jurnalisme Seni

Majalah Horison : Neo-Horison dan Politik Jurnalisme Seni

Oleh Edy A Effendi

MEMASUKI bulan juli, majalah sastra Horison tampil dengan wajah baru. Kini ia dikawal oleh sepasukan kawasan pers profesional dan dikomandoi sang ‘resi’ dari TEMPO. Siapa lagi kalau bukan Goenawan Mohamad. Di jajaran redaksinya muncul para ‘begawan muda’ seperti Nirwan Dewanto, Taufik Rahzen, Bambang bujono, Sri Malela, dan kerabat Horison yang masih tersisa, Sapardi Djoko Damono.

Awalnya Sutardji Calzoum Bachri ikut dilibatkan sebagai redaktur puisi. Tatepi, ‘sang presiden penyair’ Indonesia ini nampak membetot aksi, ada riuh kecil menyelimuti penerbitan sastra yang bermaksud berganti baju itu. Alasan tarji yang masih misterius, mungkin bisa dikaji lebih dalam. Tetapi yang lebih penting tentunya adalah potret suasana ‘sakit usai melahirkan’ ini.

Masuknya Goenawan Mohamad sebagai ketua redaksi, otomatis menggeser Hamsad Rangkuti. Dari sinilah kita beranjak mengikuti satu peristiwa suksesi-tanpa-darah (mudah-mudahan tak menakutkan) yang berlangsung di kantor Horison. Akibat tragedi ini lahir berbagai pro dan kontra reinkarnasinya Horison. Reaksi pro dan kontra kebanyakan lahir dari pada seniman yang memiliki paradigma lama, yakni ingin membangun satu media yang tidak diliputi oleh hegemoni kekuasaan tunggal dalam medium bisnis.

Maka, impresi yang lahir dalam benak para pekerja seni yang menolak kehadiran Neo-Horison, tak lain tentu sebuah anggapan bahwa Goenawan Mohamad dan ‘grup’-nya akan membawa Horison ke dalam lalu lintas media jurnalisme yang bertumpu pada orientasi pasar. Inilah dugaan awal dari pada pekerja seni yang melakukan makar untuk tidak menulis di majalah Neo-Horison.

Sayang sekali, klaim semacam ini, saya anggap trlalu tergesa-gesa. Karena kita belum mendata secara pasti gerakan yang mau dikibarkan oleh Neo-Horison. Ini memang tembang lama yang selalu didendangkan. Ambillah satu kasus, ketika sastra Kisah mengalami peremajaan menjadi majalah Sastra, yang juga memprsilakan pro dan kontra. Semacam kembangan psikologis yang seringkali mengikuti gerakan kemunculan baru penerbitan media sastra.

Masalah etis timbul, ketika das sollen bertenturan dengan das sein dan melahirkan suatu komunitas ‘melawan’ kecenderungan dominan. Kondisi demikian, sebagai awal runtuhnya suatu cerita besar tentang media informasi budaya, alangkah sedapnya jika disikapi sebagai sarana menjalin komunikasi interpersonal dalam wilyah budaya. Tetapi, fakta yang berkembang, pergolakan dalam lingkup budaya memang lebih banyak digumuli konflik-konflik psikologis. Jadi, tak perlu heran, jika kelahiran kembali Horison, banyak dicurigai sebagai satu rekayasa golongan, (Wah, maaf, bukan sedang mengaduk idiom politik). Satu propaganda dari kalangan seniman tertentu menuju kelompok lain yang berdiri berseberangan.

Secara faktual, konflik psikologis dalam mensikapi Neo-Horison, kebanyakan berada di tataran atas. Yakni satu kecurigaan sekaligus kecemasan terhadap hegemoni kekuasaan media berada dalam satu personifiksi tunggal (meminjam istilah Afrizal Malna). Maka, melalui Habermas, konisi ini bisa dilihat sebagai satu oposisi terhadap rasio yang perpusat pada subjek.

Lantas, apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam wilayah media budaya kita? Mungkin, satu hal yang bia dilacak secara kasar, adalah keadaan media kita yang telah terperangkap pola politik jurnalisme seni yang mementingkan komoditi bisnis ketimbang ‘misi’ budaya. Di sinilah pengamatan Marcuse berlaku, bahwa kebudayaan dewasa ini telah menciptakan suatu “proses modifikasi” terhadap kebudayaan lain dengan mengganti “kebudayaan luhur” menjadi “kebudayaan material”.
Sehingga sifat kritis kebudayaan luhur tersebut nampak memudar atau bahkan hilang. Pandangan Marcuse sejalan dengan pandangan Gramsehi, tentang kebudayaan borjuis yang dominan, yang telah menciptakan “kesadaran palsu” dalam masyarakat industri.

Seni Kontemporer
Kalau logika ini dikedepankan, untuk menakar majalah Neo-Horison, memang terasa kurang pas. Karena, betapa pun proyek suksesi majalah Horison adalah satu proyek rugi. Ia tetap tidak berpijak pada kepentingan pasar, tetapi lebih memprioritaskan sisi kualitas gagasan. Belum begitu detil dapat diamati, tetapi konon majalah Neo-Horison akan menampilkan isu seni kontemporer sebagai satu isu yang diproyeksikan sebagai bahan diskusi. Kabarnya pula, kemunculan ‘awal’ Neo-Horison akan diboboti jumlah halaman baru menjadi sekitar 64 halaman.

Sayangnya, kubu yang akan melakukan tindakan boikot terhadap Horison, dan mengibarkan panji perang untuk tidak menulis di Neo-Horison bagai tak memiliki paradigma yang jelas. Bukankah lebih penting kita bicara pada sodoran kontribusi pemikiran dalam medan komunikasi kebudayaan. Kalau yang digunjingkan ternyata adalah persoalan psikologis, pembicaraan ini seperti menyempit. Kondisi ini, sayangnya, akan menemboki kita pada tataran persoalan budaya yang lebih besar, yang diharapkan mampu memberi koridor dasar bagi komunitas budaya.

Saya teringat pada kekisruhan gagasan budaya ketika Kongres Jong Java 5 Oktober 1908, yang memberikan pijakan dasar bagi pikiran-pikiran budaya yang tercecer. Waktu itu, Radjiman Wediodiningrat, menyodorkan langkah bertahap untuk membangun bingkai kemajuan dengan melakukan rekonsiliasi pada penguasa. Sementara di kubu lain, Tjipto Mangunkusumo menawarkan perombakan masyarakat kolonial dan tradisional agar terbebas dari belenggu kebodohan. Polemik yang digelindingkan oleh dua dokter Jawa tersebut, dalam tingkat minimal, mampu membangun paradigma pemikiran bagi khasanah intelektual kita. Dengan tetap mengacu pada pergolakan pencarian akar budaya Indonesia.

Nah, kalu ditarik garis paralelnya dengan pro kontra majalah Horison, kita dapat mengambil hikayat lama itu dari sisi gagasan yang ditetaskan. Ia bukanlah semata pertentangan psikologis dari individu-individu yang mendiami komunitas tertentu. Tetapi lebih merujuk pada perjuangan ideologis untuk menyambut fajar nasionalisme Indonesia, fajar kebudayaan Indonesia (meminjam afirmasi Nirwan Dewanto).

Cemas
Kalau kita mau menolak kehadiran Neo-Horison, karena dihantui kecemasan-kecemasan monopoli tunggal dalam arus media informasi, itu sah-sah saja. Akan tetapi kecemasan-kecemasan itu seharusnya tetap berpijak pada rel brpikir membangun gagasan budaya lebih kondusif, untuk referensi publik. Sehingga, tema-tema yang digulirkan sebagai bahan ‘ngrumpi’ (kata pengganti untuk diskusi), tidak sekadar mempersoalkan kecemasan-kecemasan komunitas tertentu. Tetapi lebih mengarah pada sirkulasi pemikiran yang logis. Toh, kita tidak ingin mengulang tradisi yang dikembangkan kaum Sofisme.

Maka, kalau mau kembali pada gangguan yang selalu menggoda bagi kaum seniman, yaitu terjadinya politik jurnalisme seni, akar permasalahannya bertumpu pada kekuatan si seniman itu sendiri. Mampukah ia selalu ‘hadir’ di tengah-tengah percaturan media massa yang lebih banyak menyodorkan publikasi bisnis ketimbang kepentingan-kepentingan budaya. Dalam konteks persoalan ini, saya menyepakati anggapan-anggapan sebagaian orang, yang mengibarkan panji; individu sebagai penentu kekuatan.

Mari, saya ajak Anda, untuk mengamati kalimat individu sebagai penentu kekuatan, dengan memegang pada konvensi pemikiran budaya. Pada tahun 1850-an, kaum bangsawanlah yang pertama kali menikmati pendidikan Belanda. Mereka kaum bangsawan telah mampu menggunakan sarana barat modern dalam komunikasi, yakni media massa, untuk menyalurkan aspirasi budaya mereka. Sekitar tahun 1850-an itu, bersamaan dengan lahirnya surat kabar yang dikelola orang Indonesia, muncul ‘percobaan’ astra pertama dalam bahasa daerah. Jacob Sumardjo, memaparkan persoalan ini sebagai sebagai berikut: Tahun 1844 muncul buku Raja Pirangon yang dikerjakan oleh T. Rorda, dalam bahasa Jawa, kemudian disusul oleh raden Sasrawidjaja (Peorwa Tjarita Bali) setebal 106 halaman, Mas Kartosoebrata (Adji Saka) dan Ki Soradoemipa (Maneka Tjarita Toenggal Ati), yang masing-masing terbit pada tahun 1875, 1886, an 1902-1904.

Kemudian dalam bahasa Sunda terbit ‘ percobaan’ sastra modern dengan gaya penceritaan kembali kisah-kisah lama seperti: Tjarita’ Abdurachman Djeung Abdurachman, Dongeng-dongeng Nu Araneh, kedunya karya R.H. Muhammad Musa pada tahun 1884. Juga Masyarakat Tionghoa pada tahun 1870-an, ikut menyemarakkan dunia media massa. Mereka menulis ‘penceritaan kembali’ kisah-kisah Cina, semacam Djin Kui, Sun Go Kong, dan Ong Tjiu Kun dalam bahasa Malayu Rendah. Kemudian lahirlah beberapa figur setelah rentang waktu yang cukup lama, nama-nama Tjipto Mangunkusumo, Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana, yang mengibarkan pembebasan individu demi satu tahapan pembaruan. Armin Pane, novelis pelopor realisme Indonesia adalah seorang cendekiawan pembaru yang memiliki kutub lain. Ini kasus lokal.

Ambil contoh para pendekar sastra, yang berada dalam garis kekuatan individu, memiliki bobot yang cukup menggigit. Misalnya penerbitan novel Madame Bovary (1857) karya Gustave Flaubert (yang hidup sekitar 1802-1880), yang dimuat bersambung dalam L’Artist (1868). Juga lahirlah Feodor Dostojevski (1921-1881), Charles Dickens dan banyak lagi yang bisa saya sodorkan sebagai bukti bahwa individu mampu menjadi penggerak kekuatan.

Maka, saya memiliki satu keyakinan, Neo-Horison yang akan dikawal Goenawan Mohamad dan Nirwan Dewanto, mampu meruntuhkan kemelut yang sedang melanda dalam wilayah jurnalisme seni kita. Minimal, mereka membuyarkan anggapan-anggapan pembenaran yang selama ini berkembang perihal kemelut modifikasi seni, yang meramu antara ramuan bisnis dan bumbu budaya. Dengan demikian, kita pun akan mendengar, Neo-Horison bukan sekadar menyajikan monofoni dari satu kekuatan tertentu, tapi saya lebih banyak berharap akan lahir polifoni berita-berita budaya dan perdebatan-perdebatan pikiran budaya yang akan menciptakan bangunan kebudayaan. Mari, mulai pekan depan, kita ukur stamina mereka selama setahun ini.

dimuat Republika
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Kisah Sedih Sastra Islam

Kisah Sedih Sastra Islam

Oleh Edy A Effendi PADA tahun 1948, sebuah sandiwara radio bertajuk Sinar Memancar dari Jabal An-Nu…