Sajadah Terakhir: Analisis Semiotik Michael Rifaterre

Sajadah Terakhir: Analisis Semiotik Michael Rifaterre

Abstract:
The feeling of loneliness to find the turning point in life is the great motivation for noble creatures to meet the Lord. It is started from the awareness toward the hazardous of unsatisfying life which is full of hedonisms. Someone only can get a real satisfaction in his life when God blesses him, when he realizes that God is near. Human should keep struggle to gain such life. Edy A Effendy’s Sajadah Terakhir reflects the hard effort of human being to get close to his Lord. Many symbols which are used in this poem, and it becomes a mystery that should be revealed. Those symbols are used to describe the struggle of human to meet his God. This article is aimed at revealing the meaning of this poetry and getting the meaning behind the words by using the semiotics concept of Michael Rifaterre. It will be done through four steps; heuristics reading, hermeneutics reading, finding matrix model and variant, and finally is hypo gram.

A. PENDAHULUAN
Makna umum karya sastra yang sudah lazim disepakati adalah bahwa karya sastra merupakan sebuah karya imaginatif manusia, yang fungsi estetik-nya sangat dominan serta menggunakan medium bahasa. Di antara tiga genre sastra (prosa, puisi, dan drama), puisi memiliki keunikan dan sekaligus kesulit-an tersendiri untuk membongkar makna-nya. Hal ini antara lain disebabkan oleh memang bahasa yang sering digunakan adalah bahasa yang berbeda dengan bahasa sehar-hari, dan aturan formula-nya pun berbeda dengan dua genre yang lainnya.
Sebuah piranti yang ada dalam ilmu sastra untuk menemukan makna puisi adalah sebuah konsep semiotik yang ditawarkan oleh Michael Rifaterre. Secara mengerucut konsep ini memang diarahkan untuk menyingkap makna dari simbol-simbol yang ditemukan dalam karya sastra khususnya puisi. Langkah kerjanya dimulai dari pembacaan heureustik, pembacaan hermeneutik, me-nemukan matriks, model dan varian, serta hipogram. Tulisan ini akan mencoba mengupas satu-persatu langkah tersebut dalam mengapresiasi puisi karya Edy A Effendi yang berjudul Sajadah Terakhir.

SAJADAH TERAKHIR

di beranda, segelas rum Puerto Rico
dengan tangki-tangki enamel putih
dan pipa kronium mengantarku pada Claude Levi-Strauss

angin memecah malam
tak ada lagi segelas rum Martinique
yang disuling dengan instrumen-instrumen lapuk sejak abad 18.
Aku merindukanMu di sini,
di antara kamar tidur dan rahim ibuku
yang telah dihuni batu-batu.

malam hari, bersama Gramsci
engkau mengajakku menari
di atas ribuan gelombang dan ombak kecil yang menyapu di setiap pagi
aku pungut gelombang, ombak
dan pasir putih yang tergeletak di tepi laut

dan di beranda rumah kecilku,
langit menghujani bumi
ketika tiap nafas bergulir di sela rawa-rawa
aku panggil sajadahku yang tak lagi
berjalan diatas rakaat subuhku
kulayarkan sajadahku menepi di pinggir jendela kamar
membaringkan langkahku yang terbujur di selokan rumah

di simpang jalan, ketika sarung
sembahyangku tak lagi bicara
sepasang merpati terbang di atas taman
mematuk putik, mengabarkan tentang tulang sumsumku
yang kian mendayuh di tepi laut

Dikutip dari buku "Puisi Tidak Pernah Pergi“, Buku Kompas, 2003.



Dikutip dari buku kumpulan puisi “Sajak-sajak Bentara: Puisi Tidak Pernah Pergi“

Buku Kompas, 2003

B. PEMBAHASAN

1. Pembacaan Heuristik

Kata “sajadah” yang digunakan oleh penulis pada judul puisi di atas berarti selemabar kain atau bahan yang biasanya terbuat dari beludru yang diapakai oleh orang muslim untuk alas sholat. Kata “terakhir” berarti bagian ujung dari sebuah urutan (sequence), bisa digunakan untuk mendiskripsikan bagian ujung dari sebuah perjalanan, peristiwa, usaha, waktu, dan sebagainya.

Di beranda, segelas rum Puerto Rico. Kata di beranda menunjukkan keterangan tempat dimana sebuah peris-tiwa atau kejadian terjadi. Beranda merupakan bagian depan sebuah rumah, yang biasanya dipakai untuk tempat santai keluarga atau melayani tamu yang datang. Segelas berarti takaran atau satuan yang digunakan untuk menye-butkan jumlah zat cair atau sejenis minuman. Segelas menunjukan bahwa saat peristiwa ini terjadi di beranda tersebut ada satu gelas minuman. Rum Puerto Rico adalah jenis atau nama minuman yang ada dalam gelas di beranda itu. Rum adalah minuman nasional di Amerika, dapat dibeli di hampir semua tempat di sana. Puerto Rico adalah minuman terkemuka di dunia sebagai produsen rum, 80% dari yang dikonsumsi di Amerika Serikat dari pulau Hails. Dari Puerto Rico Barat India dan pulau-pulau lainnya, minuman keras telah dikirim ke Amerika. Rum pernah menjadi minuman yang diragu-kan karena rendah penyulingan metode dan kualitasnya. Akhirnya karena menyadari masalah ini, di Puerto Rico, pemerintah menetapkan standar baku untuk produksi, pencampuran, dan cairan ini. Dengan tangki - tangki enamel putih. Kata dengan menunjukan hubungan referensial dengan kata sebelumnya, yaitu kata rum Puerto Rico. Hubungan kata tersebut dengan kata sebelumnya adalah, hubungan keterang-an pemakaian. Tangki-tangki yang ada digunakan sebagai wadah untuk meleta-kan atau menyimpan rum Puerto Rico. Tangki berarti sebuah benda yang biasanya berbentuk slinder, dan memi-liki kapa-sitas tertentu untuk menyimpan benda cair. Dalam larik ini, kata tangki disebut dengan tangki-tangki yang menunjukan jumlah jamak, atau lebih dari satu. Enamel adalah sejenis zat padat dan permukaannya halus. Putih adalah jenis warna. Bila dihubungkan dengan kata enamel, maka kata putih menjadi keterangan dari kata enamel, yang berarti bahwa enamel yang dimaksud ternyata berwarna putih.

Dan pipa kronium mengantarku pada Claude Levi-strauss. Kata dan adalah kata hubung untuk menunjukan kesetaraan. Kesetaraan yang dimaksud adalah dengan larik yang ada diatasnya. Pipa adalah sebuah benda berbentuk slinder memanjang, yang biasa dipakai untuk menyalurkan zat cair dan sejenis-nya. Kronium menunjukan dari bahan jenis apa pipa tersebut terbuat. Kronium disebut juga Kromium heksavalen, Cr (VI), banyak digunakan oleh industri sebagai bahan pelapis yang mencegah korosi. Logam ini juga banyak diguna-kan oleh industri pembuatan stainless steel, welding, aplikasi cat & pigmen, electroplating, dan berbagai proses coating lainnya. Logam yang terdapat secara alami di alam ini diketahui memiliki sifat toksik dan bersifat karsi-nogen bagi manusia jika diinhalasi. Sebagai contoh, sebuah stasiun sistem pendinginan secara berkala akan meng-aplikasikan cat anti korosi pada koil pendinginnya dan melepas limbah air.

yang mengandung kromium ke ling-kungan. Walaupun Cr (VI) bersifat toksik, logam ini masih merupakan bahan penting dalam industri logam hulu sebagai pengontrol korosi. Namun dampak lingkungan dan kesehatan yang disebabkannya, dan semakin ketatnya regulasi yang berkaitan, menyebabkan ilmuwan berinisiatif untuk mengem-bangkan sistem pelapisan generasi baru.

Material baru yang sedang di-kembangkan dan digunakan industri modern mensyaratkan peningkatan sis-tem pelapisan yang sulit sehingga meningkatkan kinerja dan daya tahan-nya. Dengan semakin menurunnya kua-litas lingkungan akibat faktor aktifitas industri, keramahan terhadap lingkungan merupakan aspek penting yang menjadi perhatian dalam perancangan material baru - dan Cr (VI) tentunya tidak me-menuhi persyaratan tersebut. Lebih lanjut lagi, sementara pelapisan korosi konvensional hanya menjadi penghalang pasif yang mencegah interaksi spesi korosif dengan logam, pelapisan nano-teknologi di masa datang merupakan materi yang pintar, materi yang me-miliki beberapa kegunaan sehingga memberi hasil berupa kemampuan mem-perbaiki diri sendiri. Keseluruhan kon-sep mengenai material pintar yang dapat bereaksi terhadap dampak eksternal (pH, perubahan kelembaban, atau distorsi kesatuan pelapis) dan dapat memper-baiki diri telah mendapat perkembangan yang sangat besar dengan hadirnya nanoteknologi. Struktur pelapisan multi-layer skala nano, dimana komponen- komponennya terintegrasi dan saling reaktif, adalah pokok utama dalam sistem proteksi korosi yang kuat dan rumit. Para peneliti di Jerman telah mengembangkan metode baru untuk proteksi korosi multilayer di dalamnya termasuk perlakuan awal terhadap per-mukaan logam dengan sonikasi dan deposisi polielektrolit (polimer dengan gugus elektrolit) serta inhibitor. Hasil dari metode ini adalah terbentuknya smart polymer nanonetwork (polimer dengan jaringan skala nano) ramah lingkungan sebagai inhibitor korosi organik. Sistem pelapisan baru ini memiliki daya tahan yang sangat tinggi terhadap serangan korosi, kestabilan jangka panjang pada media yang agresif, ramah lingkungan dan prosedur pre-parasi yang mudah dan ekonomis.

Tes korosi 21 hari dalam larutan NaCl 0,1 M: pencitraan SEM dan foto plat aluminium yang tidak dilindungi dan mengalami degradasi korosi (kiri) dan plat aluminium tahan korosi yang dilapisi polielektrolit (kanan) Metode perlindungan anti korosi ini memiliki potensi aplikasi yang sangat luas. Semua komponen (polielektrolit dan inhibitor) dapat disesuaikan untuk berbagai per-mukaan aplikasi. Sistem pelapisan baru ini dapat diaplikasikan dalam dirgantara, otomotif, industri maritim dan bidang lainnya yang rentan terhadap kerusakan akibat korosi, seperti pipa gas dan minyak. Mengantar bermakna sesuatu yang bisa melakukan aktivitas membawa sesuatu ke tempat lain. Kata ku merupa-kan bentuk singkat dari aku yang berarti orang pertama tunggal. Di sini ku meng-isi posisi sebagai objek penderita dari akibat aktivitas mengantar. Pada ber-sinonim dengan ke atau kepada yang berfungsi sebagai petunjuk kemana suatu arah perbuatan berlaku. Di sini, kata pada berfungsi memberikan penghubung ke arah mana tujuan kata kerja meng-hantar. Claude Levi-Strauss adalah nama seorang ahli filsafat berkebangsaan Prancis, lahir pada tanggal 28 November 1909.

Angin memecah malam. Kata angin menunjukan sebuah fenomena alam, yang biasanya wujudnya tidak terlihat, akan tetapi efeknya bisa dirasa-kan atau dilihat, seperti menggoyang-kan pepohonan, meniup benda-benda, dan sebagainya. memecah adalah sebuah bentuk kata kerja, yang berarti membagi, atau merubah wujud sesuatu. Memecah bisa tampil dalam bentuk membagi atau merubah sebuah benda berwujud konkret, seperti memecah batu, tapi bisa juga bergandengan dengan kata seperti malam, sunyi, suasana dan lain-lain. Dalam hal ini, memecah lebih tepat bermakna merubah sebuah kondisi menjadi kondisi yang berbeda. Malam adalah lawan dari kata siang, kondisi di malam hari biasanya ditandai dengan ciri, gelap, ada bintang-bintang, bulan bersinar, dan sebagainya.

Tak ada lagi segelas rum Martinique. Kata tak merupakan bentuk tidak formal atau bentuk singkatan dari kata tidak. Kata ini berfungsi untuk memberikan negasi atau penidakan atas suatu kondisi. ada berarti eksis, wujud, nyata, atau bisa dirasakan dan disaksi-kan, dapat juga berarti hadir dalam suatu kondisi. lagi merupakan peneka-nan atau stressing untuk sebuah kondisi yang tidak berulang untuk kali yang kedua dan seterusnya. segelas berarti kata petunjuk untuk sebuah keterangan kuantitas benda cair yang bejumlah satu gelas. rum Martinique adalah sejenis minuman keras. Jenis Martinique per-tama kali diperkenalkan pada tahun 1970 oleh Gustave Garnier Presiden Asosiasi Profesional untuk Produsen dan Per-tanian Bottlers dari minuman keras di Martinique.

Yang disuling dengan instrumen-instrumen lapuk. Kata yang merupakan kata sambung yang berfungsi meng-hubungkan kata sebelum dengan keterangan yang terletak sesudahnya. disuling adalah bentuk pasif dari kata kerja suling. Kata suling sendiri ber-makna disalurkan sembari disterilisasi, dipisahkan bahan-bahan yang tidak dibutuhkan dengan bahan-bahan yang bermanfaat, membuang kotoran-kotoran yang berbahaya, atau memurnikan. Disuling berarti menerangkan kondisi rum martinique yang disalurkan sembari disterilisasi, dipisahkan bahan-bahan yang tidak dibutuhkan dengan bahan-bahan yang bermanfaat, dibuang kotoran-kotoran yang berbahaya, atau dimurnikan. Dengan berarti melalui, atau memanfaatkan seseuatu untuk suatu keperluan. Instrumen-instrumen adalah bentuk jamak dari kata instrumen. Instrumen berarti peralatan, perangkat perlengkapan, sarana dan prasarana yang bisa dipakai untuk suatu keperluan. Karena dalam larik ini menggunakan perulangan kata untuk kata instrumen maka terkandung arti bahwa jumlahnya lebih dari sat atau jamak. Kata lapuk berarti suatu kondisi yang tidak kokoh, tidak kuat, lemah, keropos, atau tidak layak lagi digunakan untuk sebuah keperluan. Kondisi lapuk ini bisa disebabkan oleh pengaruh waktu atau usia yang menyebabkan rusaknya bagian-bagian dari suatu benda, atau berkurangnya jumlah unsur sebuah benda.

Sejak abad 18, aku merindukan-Mu di sini Kata sejak berati permulaan waktu sesuatu dimulai, titik mula sesuatu berjalan. Abad adalah satuan keterangan waktu yang digunakan untuk jumlah kurun waktu yang sudah mencapai seratus tahun. 18 adalah bilangan nominal yang menunjukan jumlah benda yang ada sebelumnya. aku adaah kata ganti untuk orang pertama tunggal. Aku menjadi bisa berfungsi sebagai subyek, yang melakukan aktivitas kata kerja yang berada pada posisi prediket sesudahnya. Merindukan berati kangen, keinginan untuk bertemu dengan sese-orang sebagai bukti kecintaan atau kasih sayang. Rindu juga merupakan sebaga akibat lamanya tidak bertemu atau berjumpa dengan seseuatu atau sese-orang yang dikasihi. Mu merupakan bentuk singkat dari kamu. Kata Mu merupakan bentuk orang kedua tunggal. Kata Mu yang dimulai dengan huruf kapital membawa makna bahwa yang dimaksud adalah Tuhan. Kata di sini bermakna petunjuk tempat atau lokasi sesuatu yang iasanya dekat dari pembicara. Di sini juga merupakan perlawanan dari kata di sana yang dipakai untuk menunjukan tempat atau petunjuk lokasi yang agak jauh.

Di antara kamar tidur dan rahim ibuku yang telah. Kata di antara merupakan keterangan tempat untuk menerangkan posisi di tengah -tengah dua objek. Kamar tidur adalah ruangan yang biasanya digunakan sebagai tempat istirahat atau tidur. Di dalam kamar tersebut biasanya dilengkapi dengan kasur, atau sejenis tempat alas tidur lainnya yang bisa digunakan sebagai alas tidur atau istirahat. dan berati kata penghubung yang menunjukan kesetara-an antara benda benda yang dihubung-kan. rahim adalah bagian organ tubuh wanita, terletak dalam perut, tempat dimana calon bayi tumbuh dan ber-kembang selama lebih kurang sembilan bulan sebelum dilahirkan. ibuku adalah bentuk kepemilikan si aku terhadap kata ibu. Kata ibu sendiri berarti seseorang yang menikah dengan ayah, mengan-dung dan melahirkan anak, serta mem-besarkannya. yang adalah kata yang memiliki fungsi untuk menerangkan sebuah objek yang ada sebelumnya. Telah berati sudah, dimasa lewat atau masa lampau, sesuatu yang terjadi di masa yang berlalu.

Dihuni batu-batu. Kata dihuni merupakan bentuk pasif dari kata huni, bermakna diami, tempati, atau isi. Batu adalah benda dengan zat padat yang sangat keras dan sulit dipecahkan. Kata batu yang mengalami perulangan menjadi batu-batu membawa makna jamak, atau batu dalam jumlah yang lebih dari satu.

Malam hari, bersama Gramsci. Kata malam hari berarti kondisi di mana waktu malam telah tiba, suasana gelap, ada bintang dan bulan. Bersama berarti kodisi tidak sendiri, tapi ada kehadiran orang lain yang memiliki tujuan dan visi atau arah yang sama. Bersama bisa juga berati ditemani, atau memiliki sahabat dalam suatu tempat dan suatu ketika. Gramsci atau yang lebih terkenal dengan Antonio Gramsci, lahir 22 Januari, 1891, dan meninggal 27 April, 1937 di Kuwi sawijining, seorang penulis, dan politisi Italia.

Engkau mengajakku menari. Kata engkau merupakan kata ganti untuk orang kedua tunggal, yang juga berarti kamu atau anda. Mengajakku merupakan bentuk singkatan dari mengajak aku. Mengajak bermakna meminta kesediaan untuk melakukan sesuatu secara bersam-sama antara aku dengan orang yang mengajak itu. Menari merupakan sebuah bentuk kegiatan menggerakan tubuh secara beraturan, biasanya dapat di-temani dengan alunan nyanyi atau musik.

Di atas ribuan gelombang dan ombak kecil. Kata di atas adalah kata petunjuk yang memberikan keterangan arah atau tempat sesuatu berada atau terletak. ribuan merupakan kata satuan

untuk menunjukan jumlah yang banyak atau lebih dari seribu. gelombang adalah air yang bergerak, biasanya tidak begitu kuat. Kata dan adalah kata hubung yang menunjukan kesetaraan kata yang berada pada posisi sebelum dan sesudah kata tersebut. Ombak adalah gulungan air laut yang menghempas ke pantai dikarenakan hembusan angin. Kecil adalah kata keterangan untuk ukuran sesuatu yang tidak besar.

Yang menyapaku di setiap pagi. Kata yang adalah kata hubung untuk menerangkan keadaan kata yang berada sebelumnya. menyapa bermakna me-ngatakan sesuatu, memberikan isyarak dengan suatu cara, atau berkomunikasi dan menjalin kontak. Kata ku merupakan singkatan dari aku, merupakan bentuk orang pertama tunggal. Apabila di-gabungkan dengan menyapa, berarti mengisi posisi sebagai objek penderita dari aktivitas menyapa yang dilakukan seseorang. di setiap merupakan kete-rangan kondisi dari perbuatan yang rutin, selalu, dan tidak pernah mungkir. Pagi adalah keterangan waktu, posisinya berada antara malam dan siang hari, biasanya ditandai dengan munculnya matahari di ufuk timur, berkisar antara jam lima sampai dengan jam sebelas.

Aku punguti gelombang, ombak. kata aku merupakan subyek orang pertama tunggal yang melakukan aktivitas kata kerja yang terletak sesudahnya. Punguti berati perbuatan mengambil, mengumpulkan, atau men-jangkau dengan tangan sesuatu yang berserakan atu berjumlah banyak. Gelombang adalah gerakan air yang tidak begitu kuat. Ombak bearti kondsi air yang menggulung dan terhempas ke tepi pantai karena didorong oleh angin yang kuat.

Dan pasir putih yang tergeletak di tepi laut. Kata dan berarti peng-hubung dengan kata yang ada sebelum-nya, memberikan fungsi kesetaran antara kata yang dihubungkan dengan kata yang berada sesuadhanya. Pasir adalah butiran-butiran halus, keras, dan banyak berserakan di tepi pantai. Putih adalah warna dimana biasanya cukup terang, tidak hitam, dan tidak gelap atau bersih. Kata yang merupakan penghubung keterangan dari benda yang ingin dijelaskan. Tergeletak berarti terletak, berada pada posisi diatas lantai atau wadah lainnya, pada kondisi yang tidak berdaya atu lemah. Di tepi berarti di pinggiran, buka di tengah. Laut adalah bagian dari bumi yang diisi oleh air dalam jumlah yang sangat luas, biasanya airnya asin, bergelombang dan ber-ombak.

Dan di beranda rumah kecilku langit menghujani dunia. Kata dan merupakan kata sambung denga kata sebelumnya yang memberikan makna kesetaraan antara kata yang dihubungkan dengana kata sesudahnya. Di beranda adalah keterangan tempat, dimana sesuatu berlaku di bagian depan rumah yang disebut dengan beranda. Beranda biasa digunakan oleh anggota keluarga sebagai tempat bersantai atau menerima tamu. Rumah adalah tempat tinggal, dimana sebuah keluarga menetap. Rumah memiliki fungsi sebagai tempat berdomisisli sekaligus sebagai tempat berlindung dati terik matahari, udara dingin dan ancaman lainnya. Kecil berarti ukuran suatu benda yang tidak besar, atau lawan dari kata besar. Langit adalah bagian atas bumi kita, dimana disana ada awan. Menghujani adalah kata kerja yang berarti menjatuhkan sesuatu dalam bentuk benda-benda kecil dari tempat yang lebih tinggi. Dunia adalah kata ganti dari bumi, dimana manusia, binatang, tumbuhan dan makhluk lainnya berdiam atau hidup.

Ketika tiap nafas bergulir di sela rawa-rawa. Ketika adalah kata depan untuk menunjukan keterangan waktu kapan suatu peristiwa terjadi. Tiap merupakan keterangan untuk frekuensi atau kekerapan sesuatu terjadi, jumlah kejadiannya sangat dominan atau hampir tidak pernah absen. Nafas adalah aktifitas di mana makhluk hidup meng-hirup udara oksigen (O2) dan melepas-kan karbon dioksida (CO2), aktivitas ini sangat penting agar tetap bertahan hidup. Di sela adalah keterangan tempat, atau sesuatu yang berada diantara dua atau lebih benda. Rawa-rawa merupakan wilayah topografi di bumi yang iasanya terdiri dari genangan air, tanah yang lembek, dan tumbuhan rendah.

Aku panggil sajadahku yang tak lagi. Kata aku merupakan kata ganti untuk orang pertama tunggal, memiliki arti yang sama dengan saya. Panggil adalah aktivitas menggunakan media suara atau isyarat lainnya agar datang atau mendekat kepada orang yang memanggil. Sajadahku adalah suatu benda kepunyaan orang pertama tunggal (aku), sajadah merupakan selembar kain yang biasanya bisa juga terbuat dari beludru dan digunakan sebagai tempat alas sholat atau berdoa bagi kaum muslim. Yang tak lagi merupakan bentuk singkatan dari yang tidak lagi, kata ini bermakana bahwa seseuatu yang disebut sebelumnya tidak lagi bersikap sama dengan kondisi terdahulu, atau dengan kata lain ada sebuah perubahan men-dasar dari sifat, perilaku, atau bentuk.

Berjalan di atas rakaat subuhku. Berjalan adalah aktivitas melangkah sambil mengayunkan tangan untuk ber-pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dia atas merupakan keterangan tempat yang menunjukan posisi di atas sesuatu, lawan dari di bawah. Rakaat adalah satuan hitungan dalam sholat, biasanya menggunakan patokan ruku’ dan sujud dalam sholat. Subuhku berati sholat subuh kepunyaan aku. Sholat subuh dilaksanakan di waktu subuh, antara pergantian malam dengan siang atau sebelum fajar.

Kulayarkan sajadahku menepi di pinggir jendela kamar. Kata kulayarkan berati perbuatan berlayar yang dilakukan oleh aku. Berlayar berarti bergerak diatas permukaan air dengan meng-gunakan sarana kapal untuk menuju sebuah tempat yang dituju. Sajadahku berarti tempat alas sholat yang dimiliki oleh aku. Menepi di pinggir berarti bergerak dari tengah menuju ke bagian tepi atau pinggir, biasanya untuk beristirahat atau berhenti. Jendela kamar adalah bagian dari kamar yang bisa dibuka dan ditutup, terbuat dari kaca, berfungsi untuk menjaga sirkulasi udara dan pengaturan pencahayaan ke dalam kamar.

Membaringkan langkahku yang terbujur. Kata membaringkan berarti memuat sesuatu menjadi terletak daiat suatu tempat, dengan posisi santai, tidur, atau rehat. Langkahku berati gerakan melangkah, atau aktivitas berpindah dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan langkahan kaki dan ayunan tangan. ‘yang terbujur” berarti posisi yang lurus, terhulur, atau me-manjang.

Di selokan rumah. Kata di mem-berikan informasi tentang keterangan tempat dimana sesuatu terletak. Selokan rumah adalah bagian dari halaman rumah yang berfungsi untuk mengalir-kan air agar tidak tergenang.

Di simpang jalan, ketika sarung. Di simpang adalah kterangan tempat dimana ada dua atau lebih jalan yang bertemu dan saling potong. Kata ketika kata keterangan untuk meunjukan kapan masa suatu peristiwa terjadi. Sarung atau kain sarung adalah kain yang digunakan oleh kaum muslim untuk menutup bagian puasar hingga mata kaki ketika mereka melakukan ibadah sholat.

Sembahyangku tak lagi bicara. Kata sembahyang bersinonim dengan sholat, adalah bentuk ibadah yang dilakukan oleh umat islam untuk me-nyembah Allah SWT, sholat wajib ada lima kali sehari semalam. Tak lagi bicara bermakna sama dengan tidak lagi bicara, artinya tidak ada lagi kata-kata yag terucap darinya, tidak mengeluarkan ucapan atau ujaran apapun.

Sepasang merpati terbang di atas taman. Kata sepasang bermakna dua, dalam fungsi saling melengkapi dan berlainan jenis. Merpati adalah jenis burung yang biasa dijadikan hewan piaraan oleh manusia. Pada masa lampau katanya bisa dipergunakan untuk meng-antar surat. Terbang berarti bergerak denga mengepakan sayap dan melayang di udara. Di atas taman berarti pada posisi diatas lahan yang didalamnya ditanami beraneka ragam bunga sebagai hiasan.

Mematuk putik mengabarkan tentang tulang sumsumku. Kata mematuk berarti menggunakan patuk atau paruh untuk memakan sesuatu. Putik adalah buah yang baru lahir dari bunga, cikal buah, atau buah yang belum masak/ matang. Mengabarkan berarti memberi berita atau informasi, atau mengatakan seseuatu senagai informasi. Tentang tulang sumsumku. Kata tentang meng-antarkan kepada hal apa yang ingin dijadikan fokus pembicaraan, sementara itu tulang sumsum berarti tulang yang terletak di bagian belaknag manusia, berfungsi sangat vital untuk kehidupan. Ku adalah singkatan dari aku yang bermakna orang pertama tunggal sebagai kepemilkan.

Yang kian mendayuh di tepi laut. Yang kian berarti yang semakin, atau bertambah. Mendayuh berarti berusaha untuk menggerakan sesuatu dengan tangannya atau alat pendayuh meskipun dengan sangat susah atau berat. Di tepi laut adalah keyerangan tempat di bagian pinggir laut, arah ke pantai.

Berdasarkan pembacaan heuristik diatas, maka puisi Sajadah Terakhir ini bisa dinyatakan sebagai berikut:

Di beranda (aku duduk ditemani) segelas rum Puerto Rico (lengkap) dengan tangki - tangki enamel putih (serta) pipa kronium. (Semuanya seolah) mengantarku pada (masa) Claude Levi strauss. Angin memecah (kesunyian) malam. Tidak ada lagi segelas rum Martinique yang disuling dengan instru-men-instrumen lapuk sejak abad 18. Aku merindukanMu disini (Tuhan). Diantara kamar tidur dan rahim ibuku yang telah dihuni batu-batu. Malam hari, bersama Gramsci, engkau mengajakku menari, diatas ribuan gelombang dan obak kecil yang menyapaku di setiap pagi. Aku punguti gelombang, obak, dan pasir putih yang tergeletak di tepi laut. Di beranda rumah kecilku, langit meng-hujani dunia, ketika (setiap) nafas (manusia) bergulir di sela rawa-rawa. Aku panggil sajadahku yang (tidak) lagi berjalan di atas rakaat subuhku. (Kemudian) kulayarkan sajadahku me-nepi di pinggir jendela kamar (untuk) membaringkan langkahku yang terbujur di selokan rumah. Di simpang jalan, ketika sarung sembahyangku (tidak) lagi bicara, sepasang (burung) merpati ter

bang diatas taman, mematuk putik (dan) mengabarkan tentang tulang sumsumku yang kian (rapuh) di tepi pantai.

2. Pembacaan Hermeneutik

Keinsyafan, kerinduan untuk kembali, dan merindukan Sang Pencipta berawal dari kejenuhan dan kelelahan atas segala fenomena kemewahan yang tiada sempurna dan abadi. Si Aku menyatakan kerinduannya terhadap Sang Pencipta ketika ia tidak menemukan kebahagiaan sejati dari segala fasilitas dan kemewahan hidup yang dimilikinya. Gambaran kehidupan si Aku dideskripsi-kan dengan jenis minuman mewah rum Puerto Rico lengkap dengan perangkat perabut penunjang seperti tangki-tangki enamel putihya serta pipa kronium. Tidak semua orang memiliki minuman sejenis rum Puerto Rico, hal ini melam-bangkan kesejahteraan ekonomi, dan status sosial seseorang yang meng-konsumsinya. Selain itu jenis minuman yang dikonsumsi juga merupakan pres-tise bagi seseorang. Secara pemikiran, si Aku menganggap dirinya juga berwawa-san luas, seperti seorang Filosuf Claude Levi-Strauss yang banyak menjadi rujukan ilmuwan-ilmuwan di dunia. Namun ketika semua itu berlalu, dan dimakan usia, laksana instrumen-instru-men lapuk sejak abad 18, si Aku tiba-tiba merasakan kerinduan akan kehadir-an sebuah nuansa relgius dalam hidup-nya dengan mendekatkan diri pada Yang Kuasa. Si Aku juga teringat akan ibunya yang telah tiada, di sini digambarkan dengan rahim-rahim yang telah dihuni batu, atau dikuburkan. Secara pem-bacaan hermeneutik, stanza pertama memberikan gambaran awal, bagaimana pandangan si Aku tentang fenomena kehidupannya.

Dalam stanza kedua dari puisi ini, ada dua kalimat yang bertentangan, yaitu engkau mengajakku menari dengan diatas ribuan gelombang dan ombak. Kalimat pertama yang intinya adalah menari membawa makan keceriaan, kegembiraan, atau bahkan luapan emosi ketika seseorang merasa senang. Tetapi hal ini dibantah oleh kalimat yang kedua, bahwa hal tersebut tidak akan terealisasi, karena kondisinya berombak dan bergelombang. Artinya, seseorang tidak akan dapat menikmati hidup dengan sempurna tatkala ia berada di tengah kecamuk badai kehidupan.

Berbagai gemerlap kehidupan seolah mengajak si Aku untuk menari, melupakan sesaat segala hakikat kehi-dupan. Malam hari memberikan infor-masi tentang kehidupan yang santai, beristirahat, dan menikati segala hasil usaha/ kerjanya. Kemewahan ini dileng-kapi dengan informasi Gramsci seorang tokoh Italia.

malam hari, bersama Gramsci

engkau mengajakku menari

akan tetapi pada bagian berikutnya, si aku menggambarkan bahwa semua itu adalah tidak abadi, laksana gelombang yang menyapunya di setiap pagi datang. Ketika semua berlalu, ia hanya mampu memunguti sisa-sisanya, seperti me-munguti gelombang, ombak, dan pasir putih yang berserak di pantai.

Si Aku mulai menyadari semua kekhilafannya yang terpana dengan segala kemewahan sementara yang menghantarkannya pada kehancuran. Ketika orang lain masih terlena dengan itu semua, laksana nafas atau kehidupan mereka yang bergulir di sela-sela rawa-rawa. Rawa-rawa adalah representasi buruknya dan berbahayanya kehidupan yang sedang dijalani. Si aku merasa perlu bangkit dari kealfaannya, dan itu semua digambarkan dengan kembali ber-ibadah kepada Sang Pencipta dengan ungkapan aku panggil sajadahku. Makna yang tersirat didalamnya adalah, bahwa setiap kali seorang muslim akan melaksanakan sholat atau sembahyang maka ia akan mengambil sajadah atau alas sholat. Sajadah identik dengan penghambaan atau pengabdian seorang makhluk kepada Tuhannya. Hal ini diperkuat dengan ungkapan rakaat subuh. Rakaat subuh menunjukan ketaat-an seseorang muslim yang harus bangun di pagi hari, walaupun dalam kondisi mengantuk, berat dan malas, tapi ia tetap harus bangkit untuk menyembah Tuhan. Dengan sajadah dan sholat tersebut, si Aku membawa kehidupannya ke tepi segala fenomena keterlenaannya. Hal ini digambarkan dengan ungkapan mem-baringkan langkahku yang terbujur. Seseorang yang telah lelah melakukan sebuah perjalanan jauh dan letih dengan segala permasalahan, biasanya akan beristirahat atau membaringkan tubuh dan membujurkan kaki. Saat-saat seperti ini adalah saat dimana seseorang menenangkan diri dan berkontempolasi. Seorang muslim akan menjadikan sholat sebagai tempat beristirahat dari segala keletihan hidup di dunia. Di saat sholat lah seorang muslim akan menepi dari segala urusan kesibukan duniawi, mem-bujurkan tubuh dan kaki sesaat untuk menenangkan diri, sembari menyerap energi untuk kembali tegar dan ber-semangat dalam hidup. Sholat adalah sarana istirahat yang sangat efektif, karena seorang hamba bisa berkomu-nikasi dengan penciptanya.

Ketika pendekatan diri tidak lagi optimal dilakukan seorang hamba, maka ia akan hidup seperti di persimpangan jalan. Persimpangan jalan menyiratkan makana kebingungan, ketidakpastian arah dalam kehidupan, serta kegalauan untuk melangkah. Hal tersebut bisa terjadi ketika seseorang tidak lagi melakukan ibadah. Di sini diisyaratkan dengan sarung sembahyang. Tidak jauh berbeda dengan kata sajadah, sarung sembahyang memberikan makan identik dengan aktivitas sembahyang atau beribadah. Pada puncaknya, si Aku semakin tersadar akan hakekat hidupnya laksana kabar yang dibawa oleh burung Merpati. Pada zaman dahulu, burung merpati biasa dipakai untuk membawa pesan. Tentunya pesan di sini adalah pesan secara implisit, pesan tentang makna kehidupan. Kehidupan tidaklah kekal, karena sang waktu akan membuat tulang sumsum semakin melemah. Tukang sumsum adalah perlambang sumber kehidupan ,atau sesuatu yang membuat manusia bisa terap berdiri kokoh dan bertahan hidup. Tapi, sekali lagi si Aku menyadari bahwa kehidupan-nya terus melemah dimakan usia, laksana mendayuh di tepi laut. Laut adalah representasi luas dan ganasnya kehidupan, karena di lengkapi dengan kata ombak dan gelombang. Ketika seseorang tidak cakap dan hati-hati mengarungi lautan kehidupan, maka ia akan hanyut terbawa gelombang dan ombak. Ketika didera ombak dan gelombang, maka pada akhirnya ia akan lemah, mendayuh di tepi kehidupan, seperti seorang tua yang menjalani usia lanjutnya. Sebelum semua itu terjadi, sebelum tulang sumsum rapuh, maka ia harus cepat-cepat mengambil sajadah dan sarung sembahyangnya untuk men-dekatkan diri kepada sang Pencipta.

Aspek lain yang bisa dilihat dari pembangunan makna puisi ini adalah ditemukannya beberapa penggalan baris (enjambment) yang juga menambah keserasian bunyi dalam puisi ini. Misalnya, rata-rata baris pertama dan kedua diawal stanza memiliki rima yang serasi. Pada stanza kedua menggunakan bunyi [i] dan [i], sedangkan pada stanza ketiga [a] dan [a].

Pembacaan hermeneutik untuk puisi ini secara keseluruhan bermakana proses keinsyafan seorang aku yang mulai lelah dengan segala fasilitas dan kemewahan hidup yang dimilkinya. Ketika ia menyadari bahwa semua itu tidak memberikan kekekalan kepadanya, maka ia tersadar, bahwa seharusnya ia memilih kembali keada Sang Pencipta. Proses keinsyafan ini dimanifestasikan dengan beribadah secara benar kepada Tuhannya sebelum sang waktu memakan usianya.

3. Matriks, Model, dan Varian

Dalam puisi yang berjudul Sajadah Terakhir karya Edy A Efendi ini yang menjadi matriks adalah keinsya-fan. Si Aku merasa leltih dengan segala bentuk fenomena kehidupan yang di-hadapinya, harta dan fasilitas yang berlimpah ternyata tidak mengantarkan-nya kepada kebahagiaan sejati, malahan membuatnya semakin rapuh. Kesenang-an yang dimilkinya ternyata membawa gelombang dan ombak yang terus menerpa kehidupannya. Sampai ia menemukan sebuah titik balik untuk merobah kehidupannya dengan cara kembali kepada nuansa spritual, meng-hidupkan hatinya dengan menjauh dari keterlenaan.

Untuk kongkretisasi matriks tersebut, model yang dipakai adalah merindukanMu. Si Aku meriahkan perasaan kehampaannya dalam hidup dengan cara kembali mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat kembali, menyandarkan harapan. Dan semua itu tentulah bukan minuman dan makanan, bukan pula berbagai fasilitas yang dimilikinya, bukan pula seorang filsuf. Akan tetapi adalah sesuatu Yang Maha Menenangkan hati, dan Dia adalah Tuhan Yang Maha Mencipta. Fenomena seperti yang dialami si Aku dalam puisi ini tidak jarang terjadi dalam kehidupan nyata. Dimana seorang pada gilirannya akan kembali tersadar akan makna kehidupan yang sebenarnya, meninggal-kan glamor kehidupan fana. Di saat seperti itu lah seseorang akan memulai lembaran dan warna baru dalam hidup-nya, dengan sebuah merindukan saat-saat yang indah berkomunikasi, berdoa’ dan bermunajat kepada Tuhan. Ke-rinduan ini laksana membasuh luka dan derita kehidupan dari goncangan ombak dan gelombang yang menerpa.

Adapun varian-varian yang di-gunakan dalam puisi ini ada tiga varian, yaitu; sajadah, rakaat subuh, dan sarung sembahyang. Ketiganya memberikan sokongan makna kepada matriks dan model, dimana sajadah, rakaat subuh, dan sarung sembahyang adalah manifes-tasi nyata bagaimana si Aku mereali-sasikan keinsyafan dan kerinduannya kepada Tuhan melalui ibadah sholat/ sembahyang. Ketika seseorang meng-ambil sajadah, sarung sembahyang, dan melakukan rakaat subuh terutama, semua itu menunjukan bahwa ia adalah seorang yang insyaf dan rindu kepada Tuhannya. Ini adalah bentuk peng-abdian, bentuk kerinduan, ketaatan, sekaligus penyerahan diri kepada Tuhan.


4. Hipogram

Puisi ini disamakan dengan puisi karangan Chairil Anwar yang berjudul “Doa”. Berikut adalah puisi karya Chairil Anwar tersebut:

DOA

Chairil Anwar

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku
aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling


13 November 1943

Ada beberapa alasan kuat mengapa puisi “Doa” karya Chairil Anwar bisa dikata-kan hipogram dari “Sajadah Terakhir”. Karya Edy A Effendi.

Alasan pertama adalah, dari judul kedua puisi ini secara implisit sebenar-nya membawa makna yang sama. Maksudnya adalah, kata sajadah me-rupakan turunan makna dari seorang yang sholat atau sembahyang. Dalam terminologi Islam, sholat juga bermakna doa. Karena memang didalamnya berisi pengagungan kepada Allah SWT, dan sebagian yang lain adalah doa dan harapan. Jadi singkatnya bisa dikatakan, sajadah adalah perangkat alas sholat, seorang yang menggunakan sajadah berarti ia akan atau sedang sholat, sedangkan sholat itu sendiri adalah doa dalam Islam. Hal ini bermakna sama dengan puisi Doa karya Charil Anwar.

Alasan kedua adalah, stanza pertama dan kedua dari puisi Sajadah Terakhir berisi tentang kegalauan, ombak, dan gelombang kehidupan yang diahadapi oleh si Aku. Pada saat-saat demikian nyaris membuatnya lupa dengan Tuhan. Kata-kata yang menggambarkan ini bisa dilihat pada stanza pertama:


angin memecah malam

tak ada lagi segelas rum Martinique

yang disuling dengan instrumen-instrumen lapuk

hal ini diperkuat pada stanza yang kedua:

di atas ribuan gelombang dan ombak kecil

yang menyapu di setiap pagi

aku pungut gelombang, ombak

dan pasir putih yang tergeletak di tepi laut

intinya adalah, kedua penggalan puisi diatas memberikan informasi betapa ragam kehidupan yang dialaminya telah mengguncang kehidupan aku, sampai-sampai ia bosan dan letih dengan itu semua, untuk akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa ia sebenarnya me-rindukan Tuhan, meskipun hal itu sulit baginya untuk dilalui.

Fenomena yang dihadapi aku dalam puisi ini persis sama dengan apa yang dirasakan aku dalam puisi Charil Anwar. Hal ini dapat dilihat pada penggalan puisinya sebagai berikut:


Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh mengingat

Kau penuh seluruh


Dalam puisi karya Chairil Anwar ini digambarkan bahwa aku mengalami mis-orientasi dalam kehidupannya, sehingga sampai - sampai digambarkan dengan kondis termangu. Tapi walau demikian susahnya baginya untuk kembali, di-karenakan jeratan ombak dan gelombang kehidupan, ia tetap berusaha menyebut nama Tuhannya. Menyebut nama Tuhan bisa dimaknai dengan sholat, berzikir dan sebagainya. Sama dengan apa yang dirasakan dan dilakukan oleh aku pada puisi sajadah terakhir. Intinya, kedua aku dalam puisi diatas sama-sama berangkat dari problematika kehidupan yang sama, kemudian berusaha untuk merubah sikap mereka, menjadi makh-luk yang lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, meskipun hal tersebut tidak mudah untuk mereka lakukan.

Masih berkenaan dengan ke-jenuhan dengan hidup yang tidak terarah ini, gambaran tentang kondisi kedua aku dalam puisi diatas juga dapat dilihat pada penggalan berikut ini. Dalam puisi Chairil Anwar:

Tuhanku

aku hilang bentuk

remuk Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Dalam puisi Edy A Effendi

di atas ribuan gelombang dan ombak kecil

yang menyapu di setiap pagi

Dua puisi di atas sama-sama bercerita tentang kegalauan konsep hidup mereka tanpa kedekatan dengan Tuhan. Charil anear menyebut aku sebagai seorang yang hilang bentuk, dan juga remuk. Hal ini adalah deskripsi yang begitu kuat tentang pencitraan seorang yang sepi dari kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Tentang seseorang yang begitu jauh dari munajat keapad Tuhan. Sementara itu, dengan maksud yang sama, Edy A Effendi menggambarkan dalam puisinya bahwa orang yang jauh dari Tuhannya adalah ibarat seseorang yang hidup di atas ribuan gelombang dan ombak, yang terus menyapu pasir di pantai setiap pagi datang.

Alasan ketiga, mengapa kedua puisi ini disamakan adalah, kedua puisi ini berujung pada terminal kesadaran aku yang menyangkutkan dan mem-pasrahkan hidupnya kepada Tuhan, hal itu tercermin dalam pengakuan dari kedua aku yang ada dalam kedua puisi ini. Dalam puisi Charil Anwar digambar-kan bahwa aku tetap tegar dengan mengetuk pintu Allah, dalam artian bermunajat kepada Allah, menyerahkan diri secara totalitas kepadaNya, dan akhirnya disanalah ia mendapatkan ketenangan dan ia tidak mau berpaling lagi. Hal itu bisa dilihat pada kutipan berikut ini:


Tuhanku

di pintuMu aku mengetuk

aku tidak bisa berpaling

Begitu pula dengan aku pada puisi Edy A Effendi, si Aku akhirnya menemukan sosok dirinya dengan kembali kepada Tuhan. Berdoa dan bermunajat kepada Sang Pencipta melalui ungkapan aku panggil sajadahku dan sarung sembah-yangku.



C. KESIMPULAN

Dari penguarain simbol-simbol yang ada dalam puisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa puisi tersebut memi-liki pesan dan makna bahwa sebelum umurnya manusia habis dimakan waktu, maka ia ingin mengetuk pintu Tuhan dengan munajatnya. Dalam terminologi Islam dipahami bahwa seseorang yang berdosa sekalipun, meskipun disanya memenuhi langit dan bumi, berdosa siang dan malam, akan tetapi disaat seseorang tersebut betul-betul sadar akan kesalahannya dan mau bertaubat kepada Tuhan, maka dosanya akan diampuni. Cara untuk bertaubat adalh dengan kembali mengetuk pintu Tuhan meng-akui segala kesalahan dan beribadah kepadanya. Ibadah yang paling utama dalam agama Islam adalah dengan sholat dan banyak berdoa kepada Allah SWT. Orang yang akan melaksanakan salat selalu melengkapi diri dengan sajadah dan sarung shalat. Sajadah identik dengan salat, dan salat adalah doa dalam agama Islam.




BIBLIOGRAFI

Barthes, Roland. 1975. S / Z . London : Jonatahan Cape

Budianta, Melani. 2002. Membaca Sastra. Jakarta : Indonesiatera.

Eco, Umberto. 1979. A Theory of Semiotics. USA : Indiana University Press

Hawkes, Terence. 1977. Strukturalism and Semiotics. London : Richard Clay

Mellor, Bronwyn. 1990. Reading Stories. Australia : Chalkface Press

Noth, Winfried. 1995. Handbook of Semiotics. Bloomington and Indiana Polis Indiana University Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1997. Peng-kajian Puisi. Cetakan ke-5. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lemlit UI. 2002. Teori dan Kritik Sastra. Jakarta : PPPG Bahasa.

Redana, Bre. 2003. Sajak-Sajak Bentara 2003 : Puisi Tak Pernah Pergi. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara

Rifaterre, Michael. 1978. Semiotics of Poetry. Bloomington : Indiana University Press.

Sunardi, ST. 2002. Semiotika Negativa. Yogyakarta : Kanal

Sudjiman, Panuti dan Aart van Zoest. 1996. Serba-Serbi Semiotika. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Sarup, Madan. 2008. Poststrukturalisme dan Postmodernisme (terjemahan). Yogyakarta : Jalasutra

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta : Pustaka Jaya

Wellek, Rene & Austin Warren. 1977. Theory of Literature. New York : Harcourt Brace Javanovich

Oleh Muhammad Al-Hafizh

FBSS Universitas Negeri Padang
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Jejak Langkah

Jejak Langkah

Menekuni dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA, Edy A Effendi terus mengasah kemampuan…
SAJADAH TERAKHIR

SAJADAH TERAKHIR

di beranda, segelas rum Puerto Rico dengan tangki-tangki enamel putih dan …