Sastra 2007 Tanpa Jejak Bahasa

Sastra 2007 Tanpa Jejak Bahasa

Oleh Edy A Effendi
PERJALANAN karya sastra Indonesia dalam kurun waktu 2007, tidak mampu meninggalkan jejak sejarah kebahasaan yang cukup berarti bagi tapak pertumbuhan sastra Indonesia. Jejak sejarah kebahasaan ini menjadi penting karena fakta-fakta sejarah yang lurus harus dibangun atas keselarasan antara bahasa dan pikiran. Seperti kata Roger Trigg, Thought without language becomes impossible, and difereent languages will produce different thought . Berpikir tidak mungkin dipisahkan dari bahasa, dan adanya perbedaan bahasa akan melahirkan perbedaan produk pemikiran.

Untuk membangun keselarasan antara bahasa dan produk pemikiran, para sastrawan semestinya harus ber-gumul secara intens dengan dunia bahasa dan tidak serta merta melahirkan karya tanpa mau menjenguk ceruk-ceruk kebahasaan yang paling dalam. Hanya beberapa buku sastra yang bisa dijenguk keseriusannya mencari bahasa sebagai jangkar kreativitasnya. Sebutlah kumpulan cerita pendek Gus tf Sakai, Perantau (GPU, Maret, 2007), dan antologi puisi Zen Hae, Paus Merah Jambu (Akar, Mei 2007). Pergumulan secara intens dengan hutan rimba bahasa inilah, yang seringkali dipinggirkan sebagian kalangan sastra. Dalam wilayah sastra, khususnya puisi, bahasa menjadi satu ke-kuatan sentral dan menjadi satu gema untuk menciptakan kembali keberadaan dan kesadaran yang lebih tinggi dalam diri manusia.

Dari sudut pandang yang lain, maraknya antologi puisi yang bertebaran, tidak mampu membangun semangat kerja baru dalam wilayah puisi, terutama dalam menerapkan konsep estetika kata sebagai bagian dari proses kerja kreatif kepe-nyairan seseorang. Maka, ketika sebuah antolo­gi ter-jebak dalam lingkaran wilayah kata yang dekaden, tradisi penulisan puisi yang dihibahkan dalam sebuah antologi, tidak lagi bersandar pada kekuatan kata dan berbagai varian yang berdiri di balik rimba kata. Pada dataran ini, puisi kehilangan ruh, sugesti dan daya pikat sebagai wacana fiksi yang berfungsi memperkaya kata. Dan akhirnya menjadi benar, sindiran yang pernah dilempar ke kubu penyair, bahwa bahasa yang ada masih seperti sebuah dusun datar yang baru saja dihuni para transmigran — lokasi yang diancam wabah, perdu yang dihampiri hama.

Situasi serupa juga menimpa pada proses penulisan cerita pendek. Cerita-cerita yang berhamburan di berbagai sudut media massa atau di berbagai ranah toko buku sepajang 2007, tak ubahnya jajaran cerita yang bisa disantap dengan sekejap. Ia tak mampu membangun monumen kebahasaan secara ajeg, utuh dan runut. Sebuah monumen kebahasaan yang sejatinya menghadirkan bahasa ibarat ruh atau inspirasi yang hidup dan bergerak dalam tubuh sang kreator.

Saya menemukan beberapa karya prosa pada kurun 2006-2007, jika dilacak dari sisi tapak kebahasaan, tidak cu-kup kuat membangun keselarasan teks dan konteks, bahkan tak cukup cermat memainkan kata-kata atau substansi ba-hasa dalam wilayah teks. Lihatlah prosa Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (Akmal Nasery Basral, Ufuk, November 2006), Dunia di Kepala Alice (Ucu Agustin, GPU, Agustus 2006), Edensor (Andrea Hirata, Bentang Pustaka, Mei 2007), Galigi (Gunawan Maryanto, Koekoesan, 2007), Janda dari Jirah, (Cok Sawitri, GPU, Juni 2007), Linguae (Seno Gumira Ajidarma, GPU, Maret 2007), Mahasati (Qaris Tajudin, Akoer, Mei 2007), Bulan Jingga dalam Kepala (M. Fadjroel Rahman, RPU, Oktober, 2007), September (Noorca M. Massardi, Tiga Serangkai, 2006), Sintren (Dianing Widya, Grasindo,2007).
Di tepi lain, saya menemukan karya-karya puisi yang terbit pada kurun 2006-2007, di mana penyair seringkali membiarkan sajak dengan tidak terlampau urut, terang dan padu, sehingga tidak mampu memberi vibrasi yang besar terhadap perkembangan bahasa itu sendiri. Lihat saja buku puisi Angsana (Soni Farid Maulana, Ultimus, Maret 2007), Bau Betina (Binhad Nurrohmat,I:BOEKOE, 2007), Dongeng untuk Poppy (M. Fadjroel Rahman, Bentang, Februari, 2007), Jam-Jam Gelisah (Todung Mulya Lubis, GPU, Desember 2006), Kepada Cium (Joko Pinurbo,GPU, 2007), Laut Akhir (Isbedy Stiawan ZS, bukupop, Januari 2007), Menjadi Penyair Lagi (Acep Zamzam Noor, Pustaka Azan, April 2007), Notasi Pen-dosa (Acep Iwan Saidi, LKiS, Juni 2007), Tamsil Tubuh yang Terbelah, (Amien Kamil, MataAngin,2007).

Kultur Lokal
Pada prosa Perantau Gus tf Sakai, misalnya, pengarang seharusnya bisa lebih menstimulir persoalan kelokalan dengan berpijak pada kultur Melayu sebagai akar bahasa Indonesia. Sayangnya, Gus tf Sakai, tidak sepenuhnya mengambil setting lokal sebagai kosmologi penceritaan yang utuh. Kasus serupa juga menimpa Zen Hae dengan kumpulan puisi Paus Merah Jambu. Penyair yang dilahirkan dari kultur Betawi ini, mengambil isu lokalitas hanya pada ruang pen-ceritaan dan dialog yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh dalam puisinya. Ia tidak menggarap secara lengkap potret lokalitas dari termin kebahasaan. Pada titik ini, dua pengarang, Sakai dan Hae, berhasil pada kemampuan me-mainkan irama kata pada teks yang disebar ke publik, tapi gagal mengambil lokalitas dari traktat kebahasaan.
Saya menangkap upaya pencarian kebahasaan dengan bersandar pada kekuatan lokal, adalah upaya ekstrim yang seharusnya dikembangkan pengarang, agar mampu mengambil identitas yang jelas dalam lajur kebahasaan.
Di tempat yang berbeda, kumpulan puisi Bau Betina Binhad Nurrohmat, pun hanya terampil memainkan kata dengan melakukan penggemparan makna di berbagi sudut puisinya. Ia dengan kredo penulisannya, berupaya mengolah diri dengan mencari kemungkinan-kemungkinan bentuk, cara, atau teknik alternatif untuk mengucapkan kenyataan. Se-dangkan bergerak untuk merambah wilayah baru adalah upaya menjamah realitas yang sebelumnya tak tergarap atau masih tergarap sepintas lalu, misalnya kekotaan, mitos lokal, seks dan tubuh. Sastra Indonesia mutakhir tampaknya cen-derung memasuki wilayah-wilayah mikro dengan cara ucap yang masih terus bergulat mencari bentuk.

Sejatinya, Binhad masih terjebak pada kubangan wilayah mikro dengan cara ucap yang masih melingkar-lingkar pada upaya pencarian bentuk, bukan pencarian dari ranah keba-hasaan. Semestinya problem pengarang, harus mampu mengambil setting lokal sebagai basis reproduksi penciptaan. Sebuah problem untuk melakukan sinergi dengan peristiwa di luar teks. Jika sinergi ini tidak dikerjakan dengan tepat, pe-nulisan setting lokal atau kultur lokal, akan terjebak pada penulisan fiksi yang ber-kiblat pada sejarah. Penulisan fiksi, penulisan sejarah dan peristiwa sejarah adalah beberapa hal yang memiliki kaidah penceritaan yang berbeda.

Selama ini, penulisan sejarah di bangku-bangku pen-didikan menjadi terdistori dan cenderung menyesatkan dari peristiwa sejarah yang sebenarnya. Atau mungkin benar apa yang pernah dipaparkan Clifford Geertz, man is animal suspended in the webs of significant he himself has spun, I take culture to the those webs. Bahwa kehidupan sosial manusia tidak bisa keluar dari jaringan nilai dan makna yang mereka rajut sendiri yang kemudian terabaikan dalam kultur.

Kritikus Renato Serra pernah mengajukan analogi, bahwa penulisan sejarah dan peristiwa sejarah adalah dua hal yang berbeda. Pelaku sejarah maupun penulis sejarah adalah fakta yang memiliki kaidah-kaidah sendiri. Menyimak pikiran Serra, perihal posisi penulisan sejarah dan peristiwa sejarah, dan memeriksa kembali kegemparan perdebatan intelektual pada abad ke 19, menjadi sangat menarik jika kita mengikuti pikiran yang dikembangkan Immanuel Wallerstein. Perde-batan intelektual pada abad itu, menjurus pada keretakan epistemologis antara pendekatan nomotetik yang berdasarkan pada hukum-hukum objektif dan universal yang telah dikembangkan dalam ilmu alam, dengan pendekatan idio-sintraktitk, yang disandarkan pada keunikan masing-masing kejadian sejarah.

Pada akhirnya, bahasa bukan sekadar alat ucap para kreator dalam memproduksi kata-kata di dalam teks. Ia tak ubahnya jembatan pengarang dalam melakukan pencarian identitas kebahasaan. Di ranah ini, para pengarang yang me-lahirkan karya-karya pada kurun 2007, tak memperlihatkan keseriusannya dalam mengelola bahasa.

dimuat Republika, Januari 2008
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Kisah Sedih Sastra Islam

Kisah Sedih Sastra Islam

Oleh Edy A Effendi PADA tahun 1948, sebuah sandiwara radio bertajuk Sinar Memancar dari Jabal An-Nu…