Sastra Islam di Tengah Krisis Intelektual

Sastra Islam di Tengah Krisis Intelektual

Oleh Edy A Effendi
ASUMSI-asumsi pembenaran yang digulirkan Simuh dalam tulisan Sastra Islam dan Masa Depan Umat (Republika, 15/2), bahwa sastra sufi lebih mengutamakan rasa pengala­man keagamaan, sehingga langsung memudarkan daya kritik keilmuan dalam Islam. Menurut Simuh, pengaruh tasawuf sejak abad ke-13, hingga kini mengalami kemandulan, dan tidak bisa melahirkan ulama yang bertaraf mujtahid, layak dipersoalkan sebagai agenda perbincangan yang membutuhkan penjelasan-penjelasan secara menyeluruh. Asumsi Simuh dipertegas dengan satu sinyalemen, bahwa akibat memudarnya pemikiran scientific yang kritis itu, sastra banyak terjerumus ke paham yang bertentangan dengan prinsip ajaran Islam yang lurus tanpa disadarinya. Sehingga para sufi cenderung mengadakan renungan-renungan pribadi secara bebas tanpa mencermati al-Qur’an dan Sunnah.

Asumsi yang dikembangkan Simuh, memberikan satu gambaran bahwa sastra Islam sufi yang berwatak “ekspresif irrasional”, telah mengabaikan logika sebagai implementasi dari cara berpikir rasional. Sehingga sastra sufi cenderung mengubur watak ilmiah dalam mewujudkan gagasan-gagasan melalui puisi-puisi yang disebar. Dan dari sinilah kemudian Simuh memberikan skala perbandingan, bahwa sastra Islam yang memiliki watak “idealisme progresif”, yang menyadap ilmu logika dan penalaran filsafat Yunani purba yang progresif, mengalami masa keemasan. Maka berkembanglah sastra budaya dalam cabang ilmu agama, ilmu tafsir, hadis, ilmu kalam, “fiqh” dan “ushul fiqh” beserta ilmu “nahwu sharaf” dan balaghah-nya; yang semuanya merupakan pengembangan ijtihad secara ilmiah rasional. Pikiran-pikiran Simuh, tampaknya perlu mendapat tambahan, agar stigma sastra sufi mengubur kritisme, tidak berlanjut.

Seperti diketahui bersama, dalam doktrin Timur secara umum, seperti yang dipaparkan Seyyed Hossein Nasr, tidak ada antagonisme antara logika dan puisi seperti yang terdapat di Barat selama beberapa abad yang lalu. Logika dalam doktrin Timur dipandang sebagai tangga untuk penda­kian menuju dunia spiritual, dunia makrifat dan pencerahan metafisik, sementara puisi tetap dipandang sebagai sarana untuk mengungkapkan tidak hanya perasaan-perasaan, melainkan juga pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang mendasar.

Bahkan jika kritisisme tertentu telah menciptakan logika atas nama Cinta Ilahi (’isyq) –seperti yang dikem-bangkan para sufi–, hal itu bertujuan untuk mencegah agar logi-ka tidak sekadar menjadi batasan melainkan pendukung, dan juga menghindari pengetahuan hanya bersifat teoritis semata, melainkan menjadi buah yang “mengundang selera” yang dicerna dan membantu proses transformasi seseorang.

Maka parameter yang dikembangkan Simuh bahwa sastra sufi memudarkan daya kritik keilmuan dalam Islam, sulit untuk dibuktikan sebagai satu diskursus. Karena memudarnya daya kritik keilmuan dalam komunitas Islam, bergerak lurus dengan tumbuh dan berkembangnya Islam sebagai sebuah dokrin ajaran. Dari sinilah kemudian perlunya satu pemahaman lain bahwa kehadiran teks sastra bernapaskan Islam, merupakan bagian terpenting untuk memahami hubungan kausalitas antara seni Islam dan spiritualitas Islam.

Hubungan kausalitas antara seni Islam (sastra) dan spiritualitas Islam itu, menurut Titus Burckhardt karena seni Islam diilhami oleh spiritualitas Islam secara langsung, sedangkan wujudnya dibentuk oleh karakteristik terten-tu dari tempat penerima wahyu al-Qur’an, yaitu dunia Semit dan nomadis yang nilai-nilai positifnya diuniversalkan Islam. Gagasan Burckhardt, yang mendapat sokongan Nasr ter-sebut, secara tegas ingin memberikan gambaran bahwa tradisi Islam dengan mode spiritualitas gnostiknya, intelektualitas dan spiritualitas tidak dapat dipisahkan. Dua hal ini merupakan realitas yang sama, karena hikmah, yang di atasnya seni Islam didasarkan, tidak lain adalah aspek kearifan (sapiential) dari spiritualitas Islam itu sendiri.

Hubungan kausalitas tersebut, menurut Burckhardt, yang kemudian dikembangkan Nasr, memberikan alasan untuk mema-hami, kapan saja terjadi suatu keruntuhan atau kemun­duran dimensi spiritualitas Islam, maka mutu seni Islam juga meng-alami kemunduran. Di dunia modern, seni Islam itu sendiri telah hancur sama sekali karena spiritualitas dan inte-lektualitas yang memberikan daya hidupnya telah dia­ baikan. Maka, mau tidak mau, hubungan kausalitas itu harus dipahami sebagai satu cara untuk melihat apakah memudarnya daya kri-tik dalam dunia Islam disebabkan membanjirnya puisi-puisi sufi yang cenderung “melontarkan lamunan”.

Krisis Intelektual

Secara keseluruhan, baik di kalangan sastra, maupun cerdik pandai, tengah terjadi krisis intelektual, yang kemudian mengubur arus maju perkembangan transformasi per-ubahan dalam komunitas Islam. Krisis intelektual tersebut, secara langsung menghambat arus informasi ke wilayah publik, yang secara samar, membutuhkan informasi sebagai satu pemberdayaan pribadi. Maka ketika arus informasi terhambat, gerakan pembaruan hanya semacam kredo yang berdiri pada datar-an teoritis, tanpa mau menyentuh reali­tas bawah. Dari sini-lah, gerakan pembaruan yang ditetaskan Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh dengan penerbitan Majalah Al-’Urwah Al-Wusqa sebagai upaya untuk menyebarkan ide-ide persatuan umat dan kemajuan Islam melalui sebuah media, menjadi terhambat. Padahal,anggota-anggotanya terdiri tokoh Islam dari berbagai dunia, seperti Mesir, India, Afrika Utara, dan lain-lain.

Penyebaran Majalah Al-’Urwah Al-Wusqa ke negara-negara Islam, kemudian dihentikan oleh pihak Barat yang sedang berkuasa. Melalui media massa, al-Afghani dan Abduh, mencoba menawarkan tema-tema anti-imperialisme, persatuan Arab, Pan Islam (solidaritas Islam) dan konsti­tusionalisme, merupakan bagian besar gagasan-gagasan yang diwariskan.

Kemajuan Pan Islam dalam mengembangkan basis kekuatannya, tidak bisa di-lepaskan dari usaha-usaha yang gigih kalangan penggerak Pan Islam, yang mempublikasikan pikiran-pikirannya melalui media massa.Hanya saja, gera­kan intelektualisasi yang dikembangkan mereka, mendapat kritikan tajam, karena seringkali mengumbar “wejangan teoritis” semata, tanpa mau melakukan sentuhan ke lapisan bawah.

Maka menurut Fazlur Rahman, watak artifisial bangunan intelektual ilmiah Islam klasik, yang mengambil konstruksi teoritis –bahkan isi utamanya– dari gagasan Hellenisme, seperti kalam dan filsafat, telah mengundang reaksi dari kalangan ortodoksi, seperti al-Ghazali dan Ibn-Taym’yah. In-elektualitas mereka terpenggal, karena perlakuan dari ka-angan ortodoksi yang seringkali bersikap ekstrim terhadap para penganjur intelektual ilmiah Islam klasik. Kondisi se-eri ini terus saja berlanjut hingga memasuki fase modern.

Menurut Rahman, ada dua tipe cendekiawan Muslim dalam meresponi modernitas atau gerakan pembaruan. Di satu sisi kalangan cendekiawan Muslim melakukan adopsi gagasan-gagasan yang disebar dari tradisi Barat dan pranata-pranatanya disokong secara fanatik, yang kemudian mencari pembenaran dengan mengutip teks-teks al-Qur’an. Dan di sisi lain, ke-omok cendekiawan yang menolak modernitas dan mengajukan al-eratif apologetik, berdasarkan pemaha­man al-Qur’an secara literer (Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas).

Dari sinilah imbauan Simuh yang ditujukan untuk komunitas sastrawan Muslim, perlunya kesadaran bahwa masa kini adalah zaman keprihatinan akan “keterbelakangan” dan kemunuran umat Islam, layak untuk diajukan. Karena ide pembaruan untuk membina masa depan yang dinamis dengan ori-nasi ilmiah belum disadari dan diminati para sastra­wan Is-am. Dan sebagian besar corak sastra Islam yang mereka tetaskan, mengarahkan umat ke masa lalu, yakni arah renungan-renungan sufistik dan mengembangkan ingatan umat pada kejayaan zaman al-Hallaj dan al-Ghazali. Memang, gerakan pembaruan Islam di Indonesia selalu berhadapan dengan dua arus kekuatan besar: konservatisme (menengok Is-am ke masa lalu) dan progresivisme (merekronstruksi Islam ke masa depan). Maka wajar jika isu “pembaruan Islam” digu-iran, respon umat Islam (termasuk para sastrawan) bersikap mendua: antara setuju karena kebutuhan akan perlunya pembaruan, dan menolak isu pembaruan, karena khawatir mengurangi kemurnian doktrin agama.

Hanya saja, dalam konteks pembaruan Islam di Indonesia, Simuh melupakan satu fakta sejarah, bahwa warna Islam yang berkembang di Indonesia telah mengalami pembauran, mengalami modifikasi, deviasi, adaptasi kultural dan reinterpretasi tekstual dari warna keislaman yang berkem­bang pada zaman Rasul, sahabat Nabi dan bahkan warna Islam yang berkembang di daratan Timur Tengah. Sehingga respon terhadap isu pem-baruan Islam di Indonesia memiliki implikasi yang melebar pada level individual, yakni terciptanya kesalehan sosial daripada menyemarakkan kesalehan individual, yang lebih menonjolkan pada kesalehan simbolik; atribut peci, tasbih dan sorban. Berangkat dari sinilah, saya menolak anggapan Simuh, bahwa sastra sufistik yang berkembang di Indonesia sebagai biang keladi kemunduran daya kritis umat Islam.

dimuat Harian Republika
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Kisah Sedih Sastra Islam

Kisah Sedih Sastra Islam

Oleh Edy A Effendi PADA tahun 1948, sebuah sandiwara radio bertajuk Sinar Memancar dari Jabal An-Nu…