Arief dan Kearifan Lokal

Arief dan Kearifan Lokal


Oleh Edy A Effendi

Membangun infrastruktur kota, sudah sepatutnya berpijak pada nilai-nilai keadaban. Nilai-nilai keadaban itu bertumpu pada entitas lokal yang tumbuh dan berkembang dalam relung-relung masyarakat kota itu sendiri. Dan semua itu harus bersandar pada kearifan lokal.


Kearifan lokal dalam simpulan sederhana bisa dideskripsikan sebagai suatu kekayaan budaya lokal yang mengandung kebijakan hidup; pandangan hidup (way of life) yang mengakomodasi kebijakan (wisdom) dan kearifan hidup. Dalam konteks ke-Indonesia-an, — kearifan lokal itu tidak hanya berpijak secara lokal pada kultur atau etnik tertentu, tetapi ia bisa mewujud dalam cakupan lintas budaya, lintas entik. Pada titik ini, kearifan lokal bisa menjadi penyangga nilai-nilai nasional yang berskala nasional.

Kearifan lokal juga bisa dimaknai sebagai kearifan setempat (local wisdom) yang dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan lokal yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai yang tertanam dan diikuti oleh warga masyarakatnya.

Dalam berbagai literatur, ambillah contoh pada sisi pendekatan antropologi, kearifan lokal dikenal pula sebagai pengetahuan setempat (indigenous or local knowledge), atau kecerdasan setempat (local genius), yang menjadi dasar identitas kebudayaan (cultural identity).

Tulisan ini mencoba membaca dari dekat perihal kearifan lokal dalam skala yang lebih mikro, Kota Tangerang. Merujuk pada definisi di atas, apakah aura kearifan lokal bisa terwujud dalam era kepemimpinan Arief Rachadiono Wismansyah, yang menjadi masinis Kota Tangerang saat ini. Apakah Arief mampu menarik gerbong kearifan lokal dalam kurun lima tahun masa jabatannya? Atau ia akan jadi pelanjut mantan Walikota Wahidin Halim, yang banyak menabur mimpi soal kearifan lokal. Padahal, Wahidin sejatinya menamam benih ketidakarifan lokal dalam merancang bangun Kota Tangerang selama dua periode kepemimpinannya.

Arief tentu sadar masalah krusial Kota Tangerang yang dihuni warga dari berbagai kultur dan etnik yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Konstelasi kehidupan Kota Tangerang yang dihuni berbagai ragam budaya dan etnik itu, tentu tak mudah untuk mengelaborasi kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari.

Persoalan tak mudah ini terkait reputasi Arief, yang tak begitu menonjol dalam aspek kepemimpinan. Selama menjabat Wakil Walikota Tangerang, Arief hanya menjadi ekor kekuasaan Wahidin Halim. Ia tak mampu menelorkan gagasan-gagasan brilian sebagai orang kedua Kota Tangerang waktu itu. Arief banyak ditaburi aura keberuntungan; anak muda yang baik dan anak orang kaya. Di luar dua pilar itu; muda dan anak orang kaya, tak ada yang menonjol dalam gerak jiwa dan gerak raga Arief Wismansyah.

Pada traktat seperti ini, apakah sosok Arief mampu menebar kearifan setempat (local wisdom) yang dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan lokal yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai yang tertanam dan diikuti oleh warga masyarakatnya?

Akhlakul Karimah Salah Kaprah
Ada beban yang harus dipikul Arief terkait slogan mentereng Kota Tangerang, Kota Akhlakul Karimah ketika hendak menerapkan konsep kearifan lokal. Konsep Akhlakul Karimah yang diusung Wahidin Halim tak memberi imbas yang nyata bagi gerak laju kehidupan masyarakat Kota Tangerang. Slogan ini hanya bagus dalam tataran lisan tapi menjadi buruk dan tak beridentitas dalam laku kehidupan aparatur pemerintah Kota Tangerang.

Dalam periode pertama kepempimpinan Wahidin, sangat mudah dibaca slogan Akhlakul Karimah tak mampu menjadi elan vital dan gerak hidup aparatur Pemkot Tangerang. Di sana-sini bertaburan aura korupsi dan nepotisme. Dan gaya kehidupan aparatur Pemkot Tangerang ini berlanjut pada babakan kedua kepemimpinan Wahidin.

Satu hal yang perlu dicatat, pada babakan kedua ini, Arief ada di dalamnya sebagai Wakil Walikota Tangerang. Artinya, Arief ikut andil dalam melambungkan slogan kosong Akhlakul Karimah itu. Sebuah slogan yang tak mampu menyentuh kalbu warga masyarakat Kota Tangerang. Pada tepi ini, ketika Arief tak berbuat banyak dalam mengejawantahkan berbagai kebijakan, ia memang tak lebih sekadar ekor, buntutnya Wahidin Halim.

Slogan Akhlakul Karimah cermin sikap Pemkot Tangerang yang tak punya kecerdesan spiritual. Kecerdasan spiritual, dalam pandangan sineas dan budayawan Garin Nugroho, adalah kecerdasan yang mampu memetakan masalah, mewujudkan strategi yang operasional di masyarakat, sekaligus menjawab tuntutan aspek kehidupan sehari-hari berbangsa.

Bisa diduga kasus kegelisahan terhadap moralitas dan akhlak generasi muda dipecahkan dengan cara-cara yuridis formal bersumber pada formalisme agama dan kehilangan kecerdasan spiritual. Sementara pokok masalah, yakni strategi kebudayaan terhadap keutamaan bangsa disiplin, respek, toleran, kerja keras, dan sebagainya penegakan hukum, serta kepemimpinan yang menjadi modal dasarnya tidak menjadi prioritas atau bahkan tidak ditumbuhkan.

Apa yang diigaukan Garin Nugroho menemukan bentuknya dalam skema kehidupan Kota Tangerang. Berbagai persoalan yang timbul di Kota Tangerang diselesaikan dengan formalitas aturan dan formalitas agama. Ini tak berarti aturan-aturan formal, aturan-aturan yuridis dan aturan-aturan agama dipinggirkan dalam silang sengketa kehidupan warga. Tapi sejatinya, jika mau menerapkan konsep Akhlakul Karimah, hal-hal yang sifatnya mendasar pada pembentukan akhlak harus dikedepankan. Hal-hal mendasar itu seperti sikap disiplin, respek, toleran, kerja keras, kejujuran dan keterbukaan harus diusung terlebih dahulu.

Faktanya, nilai-nilai mendasar pada pembentukan akhlak itu diabaikan. Berbagai kasus yang terjadi di Kota Tangerang seperti pembersihan PSK, relokasi warga, penerimaan CPNS, mutasi dan rotasi jabatan, tak mencerminkan sikap keadaban dan tak ada vibrasi slogan Akhlakul Karimah yang mewujud dalam laku aparatur Pemkot Tangerang. Dan contoh yang paling faktual dan sangat dekat dengan ingatan kita, adalah praktik uang dalam Pilkada Kota Tangerang yang baru saja berlalu. Lantas, apakah kita tak malu melafalkan dan merayakan slogan Akhlakul Karimah dalam derap langkah Pemkot Tangerang?

Dua Pekerjaan Rumah

Ada dua pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Arief dalam kapasitasnya sebagai walikota. Dua pekerjaan rumah itu pembenahan pada sektor olahraga dan kebudayaan. Dua sektor ini yang diabaikan dalam era kepemimpinan Wahidin Halim.

Di sektor olahraga, ambilah contoh soal Persikota. Di era kepemimpinan Wahidin, Persikota tak menemukan bentuknya sebagai klub kebanggaan masyarakat Kota Tangerang. Bahkan pada satu titik ekstrim, Persikota ditelantarkan hanya karena ketidakmampuan Wahidin mengelola olahraga yang digemari masyarakat itu. Dan anehnya, warga Kota Tangerang lebih memilih sebagai suporter Persita Kabupaten Tangerang ketimbang Persikota. Maka tak pelak, jika ada “duel el clasico” antara Persikota vs Persita dan terjadi keributan, yang terlihat perang sesama warga Kota Tangerang.

Tentu saja, ini menjadi poin signifikan bagi Arief untuk melakukan pembenahan ke dalam, khususnya pembenahan pada dunia olahraga secara keseluruhan di ranah Kota Tangerang.

Pekerjaan rumah kedua pada sektor kebudayaan. Sangat terlihat pada era kepemimpinan Wahidin Halim, ia melupakan elemen kebudayaan sebagai sub ordinat yang penting dalam organ pembangunan masyarkat Kota Tangerang. Seolah-olah dengan menggelar Festival Cisadane, Pemkot Tangerang sudah peduli pada aspek kebudayaan. Kebudayaan yang dipahamai pada traktat ini, kebudayaan verbal, kebudayaan material.

Maka tak heran, jika Kota Tangerang semakin hari semakin tak menemukan identitas diri, tak mampu menemukan roh kearifan lokal. Sebagai daerah penyangga Jakarta, Kota Tangerang tak bisa dibaca lagi sebagai kota penyangga yang mampu meramu antara kepentingan lokal dan kepentingan nasional.

Atau menurut Gayatri Spivak, dengan konsep ”subaltern”, manusia Indonesia, khususnya Kota Tangerang sudah masuk perangkap subaltern. Sublatern mengandaikan seluruh subyek yang tertekan, lemah, dan marjinal. Mereka adalah kaum terjajah yang inferior dan bisu. Dari fenomena sublatern ini, Spivak berhasil memperlihatkan, bahwa dalam “kolonialisme” tidak hanya terjadi penaklukan fisik, namun juga penaklukan pikiran, jiwa, dan budaya.

Pada titik inilah, Festival Cisadane akhirnya hanya jadi agenda rutin tanpa roh kebudayaan yang bernas. Atau dalam bahasa yang lain, hanya agenda untuk menggelontorkan dana pada sektor wisata dan budaya.

Berbagai pernik-pernik kebudayaan yang ada seperti Tari Cokek, Masjid Kali Pasir, Masjid Pintu Seribu, Bendungan Pintu Air Sepuluh, Situ Cipondoh, dan tradisi masyarakat Tionghoa yang menisbahkan Barongsai sebagai ikon kebudayaan China yang tumbuh di Kota Tangerang, hanya jadi ornamen. Pernik-pernik kebudayaan tersebut tak dirawat dan dijaga dengan baik. Sekadar ada tapi sejatinya tak ada roh di dalamnya retasan-retasan kebudayaan tersebut.

Semua retasan untuk mewujudkan kearifan lokal, dibutuhkan sikap idealis dari para aparatur Pemkot Tangerang dan tentu saja didukung secara aktif warga Kota Tangerang. Semua itu akan bergerak dan berjalan sesuai koridor, jika setiap pribadi menanamkan benih idealisme dalam mengibarkan bendera kearifan lokal.

Idealisme bersandar pada ide, dunia di dalam jiwa. Pikiran ini meletakkan hal-hal yang bersifat ide dan menempatkan pernik-pernik yang bersifat materi, fisik, ke dalam kasta terendah. Idealisme menganggap semua realitas yang terdiri dari roh, jiwa, ide, pikiran-pikiran, menjadi konstanta yang agung dalam orkestra hidup manusia.

Sebagai konstanta, sebuah ketetapan yang tetap, di dalamnya dibingkai satu nilai yang bernama moralitas. Seluruh gerak aparatur Pemkot Tangerang sebagai pelayan warga, harusnya berpijak pada tataran ini. Tataran moralitas. Dan Arief harusnya mampu mengepakkan sayap kearifan lokal. ****

Edy A Effendi, seorang penyair dan jurnalis.
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

1 komentar

  1. Muhammad Ihwan7 Maret 2014 01.41

    Keren, aku suka.. walau sama penulisnya disebut tulisan nggak bagus...

    BalasHapus

Posting Komentar

Terpopuler

Jejak Langkah

Jejak Langkah

Menekuni dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA, Edy A Effendi terus mengasah kemampuan…
SAJADAH TERAKHIR

SAJADAH TERAKHIR

di beranda, segelas rum Puerto Rico dengan tangki-tangki enamel putih dan …