Tangisan Erendira

Tangisan Erendira

di jalan Aracataca*, matamu kuyu
meski debu masih menyisakan tangisanmu
beri kabar tentang laut yang diam
dan langit yang tak lagi menyimpan hujan



di jalan Aracataca itu, Erendira
tak dapat tidur. Karena hujan
telah berhenti di tepi rumah Ulises.
jubah pertapa yang kasar,
seember kapur dan kuas
telah meninggalkan jejak
kakimu yang berlumpur

Erendira tak dapat tidur
karena malam tak mau berhenti
di pintu Ulises. Dan tiba-tiba Erendira membuka kancing baju Ulises sambil berkata: “aku belum pernah melihat laut.”

Langit kosong. Di luar orang-orang ramai melompat-lompat di atas papan berlari-lari membuat keju. Dan Erendira memilih jadi batu di atas sunyi yang beku

*Kota kelahiran Gabriel Garcia Marquez
Cape Town, Afsel.
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

SAJADAH TERAKHIR

SAJADAH TERAKHIR

di beranda, segelas rum Puerto Rico dengan tangki-tangki enamel putih dan …
Jejak Langkah

Jejak Langkah

Menekuni dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA, Edy A Effendi terus mengasah kemampuan…