Bercerminlah Secara Rohani

Bercerminlah Secara Rohani

Oleh Edy A Effendi

Cermin. Barang sepele tapi kenapa bisa mengatur diri kita. Cermin bisa membuat orang pede. Bisa ‘bikin’ orang ragu. Bisa membuat orang malu dan bisa membuat orang bercermin tentang riwayat hidup yang bersemayam dalam diri. Itulah cermin, cerita mini
.

Cermin, cerita mini tentang diri manusia. Benda yang sering kita anggap sepele tapi menaburkan banyak kisah. Berbagai ragam persoalan tumbuh ketika kita bercermin.

Bayangkan saja. Meski sudah berdandan rapi di depan cermin, di dalam rumah tapi pas keluar pakai motor atau mobil, kita gak pede, terus lihat spion. Bercermin lagi. Ngukur wajah diri. Sudah pantas apa belum.

Pas di jalan, ada mobil parkir, masih sempat kita curi kaca jendela mobil, tuk bercermin. Kadang pakai handphone tuk bercermin, sekadar memastikan kepantasan raga. Memastikan jasad.

Tapi semua cermin yang digambarkan di atas, bersandar pada cermin jasad. Cermin tentang diri kita secara lahir. Dan hampir kita lupa untuk bercermin perihal ruang batin kita. Padahal, ruang batin, adalah sejatinya cermin diri kita.

Sekadar membesuk lintasan sejarah, cermin yang dibuat paling awal, adalah kepingan batu mengkilap seperti obsidian, sebuah kaca volkanik, terbentuk secara alami. Cermin obsidian ditemukan di Anatolia (kini Turki), berumur sekitar 6000 SM.

***

Problem yang paling mendasar dalam diri kita adalah, kenapa kita sering bercermin secara jasad tapi lupa bercermin secara batin. Secara ruhani.

Penekanan pada aspek ruhani inilah, yang diuar Imam al-Ghazali. Sang Hujjatul Islam ini, melihat manusia tersusun dari unsur jasmani dan ruhani. Namun Sang Imam, al-Ghazali itu, lebih menekankan aspek ruhani. Hakikat manusia adalah jiwanya, ruhaninya. Titik inilah, titik ruhani, yang membedakan manusia dengan makhluk-rnakhluk Allah lainnya.

Pada kerangka inilah, Imam al-Ghazali mengurai, bahwa beban yang harus dipikul manusia itu adalah perihal amanah atau al-taklif, dan diberikan pula kebebasan dan tanggung jawab memiliki serta memelihara nilai-nilai ilahiah.

Dalam jejak pikiran Imam al-Ghazali berikutnya, aspek ruhani manusia meliputi al-qalb, al-ruh, al-nafs dan al-’aql. Empat aspek inilah yang menjadi motor penggerak dalam diri manusia.

Kembali ke soal cermin dengan merujuk pada pendapat Imam al-Ghazali, ia mencoba menjawab karut marut kehidupan manusia ini dengan sodoran Teori Cermin (al-Mir’ah). Al-Ghazali melihat hati manusia ibarat cermin, sedangkan petunjuk Tuhan bagaikan nur atau cahaya. Jika hati manusia benar-benar bersih, niscaya ia akan bisa menangkap cahaya petunjuk Ilahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya.

Persoalannya, apakah hati kita sering bercermin hingga memantulkan nur atau cahaya? Nur atau cahaya di sini, adalah cahaya imateri bukan cahaya materi. Jika hati kita selalu bercermin, jika jiwa kita selalu bercermin, jika ruhani kita selalu bercermin, tentu saja akan ada pantulan cahaya. Ada pantulan petunjuk perihal jejak hidup kita. Jejak hidup masa lalu, jejak hidup masa kini dan jejak hidup masa depan. Latar belakang dan latar depan, dilihat dari latar masa kini.



Jika ruang batin kita selalu bercermin, maka segala laku lampah kita adalah laku lampahNya. Laku lampah yang digerakkan oleh mata, telinga, kaki, tangan, adalah cerminNya. Inilah janji Allah dalam hadis Qudsi: Apabila Aku telah mencintainya, maka Akulah yang menjadi telinganya yang dipakai untuk mendengar. Akulah matanya untuk melihat, Akulah tangannya untuk bekerja, dan Akulah kakinya untuk berjalan. Apabila dia meminta kepada-Ku akan Aku beri, dan apabila ia meminta perlindungan akan Aku beri. (Riwayat Bukhari dan Abi Hurairah).

Mari kita selalu bercermin. Bercermin pada ruang batin kita, pada ruang jiwa kita, pada ruang ruhani kita. Jika kita selalu bercermin, tentu segala gerak hidup kita adalah cerminNYA.

***

Dimuat di sulukmaleman.org

Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

SAJADAH TERAKHIR

SAJADAH TERAKHIR

di beranda, segelas rum Puerto Rico dengan tangki-tangki enamel putih dan …
Jejak Langkah

Jejak Langkah

Menekuni dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA, Edy A Effendi terus mengasah kemampuan…