Angkatan Sastra: Resume yang Menyesatkan

Angkatan Sastra: Resume yang Menyesatkan

Siapakah yang menghubungkan Shakespeare, Goethe, Dostoyevski dengan angkatan? Mereka besar sendiri-sendiri dan mengangkat sendiri-sendiri derajat sastra dan ke-budayaan dunia serta manusia (Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei II, HB. Jassin)

APA yang ingin kita katakan dengan slogan angkatan sastra? Apakah kehadiran sebuah angkatan mampu memberikan stigma bagi perkembangan sastra secara keseluruhan pada masa tertentu? Atau ia hadir sekadar pemoles bibir untuk memandang dan merin-dukan zaman baru bagi eksistensi kepenyairan sese-orang atau sebuah komunitas sastra?



Rangkaian pertanyaan tersebut, layak untuk diajukan ketika kita dihadapkan pada hakikat sastra sebagai sumber kreativitas. Dan bukan ladang memperebutkan “kursi” angkatan untuk mentasbihkan diri masuk dalam komunits penyair pada zaman tertentu.

Rangkaian pertanyaan di atas, mempertimbangkan pada satu hal bahwa angkatan sastra selalu mengabdi pada isme, gaya, kecenderungan-kecenderungan, dan orientasi-orientasi subjektif dari para sastrawan yang bergerak di suatu masa. Maka ketika angkatan sastra mengabdi pada isme, gaya, kecenderungan-kecen-derungan dan orientasi-orientasi sub¬jektif, yang terjadi kemudian lahirnya gejala fanatisme dan keseragaman yang dipromosikan oleh para sastrawan melalui karya-karyanya.

Gejala fanatisme dan keseragaman, salah satu-nya, akibat terganggungnya wilayah reproduksi puisi; satu proses yang menjaga kontuinitas tradisi penulisan puisi dan koherensi pengetahuan praktis sehari-hari dalam wilayah kata. Dalam konteks ini, tergangunya wilayah reproduksi puisi mengakibatkan krisis penciptaan dalam bentuk hilangnya makna puisi, dan krisis gagasan-gagasan sosial dalam bentuk krisis legitimasi, serta krisis kepribadian sang penyair itu sendiri, dalam bentuk krisis orientasi penulisan puisi.

Maka, ketika proses penciptaan puisi yang dikerjakan oleh sebagian penyair, terjebak pada dataran terganggunya wilayah reproduksi puisi, kreativitas dalam proses penciptaan tidak lagi menjadi tolak ukur; apakah puisi yang diciptakan sebagai sarana representasi dari bentuk krea¬tif sang penyair, atau sekadar kemampuan penyair mengako¬modir kata-kata yang dituangkan dalam bentuk puisi? Ketidakjelasan dalam proses penciptaan puisi sebagai akibat tergangunya wilayah reproduksi puisi ini, mau tidak mau, memaksa puisi kehilangan karakter dasarnya. Setiap puisi, seperti yang pernah disinyalir Goenawan Mohamad, adalah “roh” (katakanlah "inspirasi") yang hidup dan bergerak dalam "badan" (dalam hal ini sejumlah kata-kata); sang roh senantiasa cenderung mengatasi batasan kata.

Para penyair yang memasuki proses kreatif pada babakan 80- an, dan salah satunya diprakarsai Afrizal Malna, telah ikut serta menanamkan benih fanatisme dan keseragaman dalam proses penciptaan puisi. Penanaman benih fanatisme dan keseragaman, secara tidak sadar, telah ikut serta mempola "ideologi baru" dalam penulisan puisi. Sebuah cara penulisan yang didominasi semangat kesemarakan, untuk menumbuhkan gairah kepenyairan dalam konstelasi sastra Indonesa, tanpa dibekali tradisi penulisan yang berkiblat pada pola "estetika" yang jelas, transparan dan memberikan wacana baru bagi perkembangan puisi.

Dalam situasi semacam ini, apakah masih perlu memaksakan diri untuk menghadirkan sebuah angkatan sastra? Ketika para penyair yang bergerak di sekitar dekade 80-an dan 90-an, masih mencari bentuk penulisan.

* Dibacakan pada diskusi sastra, 29 Agustus 1998, kerjasama Harian Umum Republika dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin, Jakarta.
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment

Terpopuler