Imam Ghazali Bertemu Nabi 200 Kali Lebih ketika Menulis Ihya Ulumuddin

Imam Ghazali Bertemu Nabi 200 Kali Lebih ketika Menulis Ihya Ulumuddin

 Setiap usai ngaji Ihya  rasanya beda. Setelah asupan rohani, menyusul asupan jasad.

Memang banyak kritik terhadap Kitab Ihya Ulumuddin. Salah satu kritik itu datang dari Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah berujar, perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu. (Majmu’ Fatawa 6/54).

Kritik Ibnu Taimiyah soal hadis-hadis palsu dalam Kitab Ihya, bisa jadi benar. Tapi ada cerita yang pernah dituturkan seorang Mursyid ketika saya sowan ke pengajiannya, hadis-hadis yang ditulis Imam Al Ghazali dalam Kitab Ihya tersebut dikonfirmasi langsung ke Baginda Nabi. Selama menulis Kitab Ihya Ulumuddin di menara Masjid Damaskus ini, Al Ghazali bertemu Baginda Nabi dalam mimpi hampir 200 kali. Jadi hadis-hadis yang ia tulis, langsung dikonversi ke Nabi.

Cerita lain yang menarik dari Sang Mursyid, kehadiran Kitab Ihya Ulumuddin pada mulanya ditolak oleh “dekan” di kampus An Nidzamiyah. Kitab Ihya dianggap (seperti tuduhan Ibnu Taimiyah), ajarkan cerita-cerita bohong dan meminta kepada para mahasiswa untuk mengumpulkan Kitab Ihya di pelataran kampus untuk dibakar.

Imam Al Ghazali sedih. Dalam mimpinya, Sang Hujjatul Islam bertemu Nabi. Ia mengadu ke Baginda Nabi bahwa kitabnya mau dibakar. Kebetulan dalam mimpi itu hadir sang dekan. Nabi menegur Sang Dekan dan dengan lidi di tangan, Nabi memukul secara pelan di punggung Sang Dekan. Pagi harinya, setelah terjaga, ada luka di punggung sang dekan. Singkat cerita, akhirnya kitab Ihya, batal dibakar.

Jangan tanya sumber cerita Sang Mursyid. Seorang Mursyid yang benar-benar Mursyid bisa melakukan komunikasi antar ruh dengan manusia yang sudah meninggal, termasuk dengan Imam Al Ghazali.

Orang seperti Imam Al Ghazali, tentu bisa langsung dialog dengan Baginda Nabi. Sosok manusia yang sudah tahu kapan meninggal.

Subuh pagi. Hari Senin. Imam Al Ghazali meminta kepada muridnya, “Bawa kemari kain kafan saya.” Sang Imam kemudian mencium kain kafan itu sambil berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.” Hari meninggalnya Imam Al Ghazali sama dengan hari wafatnya Baginda Nabi.

Imam Al Ghazali (ada yang menulis Ghazzali karena disandarkan ke ayahnya, seorang penenun, sehingga nisbatnya ditasydid, Ghazzali) meninggal di Kota Thus, 1111/14 Jumadil Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran, dalam usia sekitar 52 tahun lebih.

Ini sekadar tulisan ringan menjelang pergantian hari. Ditulis dengan HP saya yang jelek ini. Pegel nulis di HP. Maka saya akhiri.

Malam Ramadan, 10 Juni 2017
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment

Terpopuler