Penggemparan dalam Dunia Tafsir Sastra

Penggemparan dalam Dunia Tafsir Sastra


KETIIKA sebuah tafsir digulirkan, maka keutuhan sebuah karya tercemarkan oleh faktor subjektif dari sang penafsir. Dari sinilah kemudian, sebuah tafsir seharusnya mematuhi perangkat-perangkat konseptual yang serba argu¬mentatif dan koheren, agar orisinalitas karya tetap terja¬ga. Akan tetapi, seringkali tafsir sastra memasuki ruang-ruang subjektif pengarang di luar wilayah karya, sehingga tafsir tidak lagi berada dalam kerangka objektif. Tengok saja ketika Daniel Dhakidae mengupas novel Para Priyayi karya Umar Kayam.Daniel Dhakidae membongkar karya tapi melakukan pembo¬coran biografi. Dari sinilah kemudian tafsir sastra menga¬lami distorsi: sebuah penggemparan tafsir, yang lebih memprioritaskan pada data-data pribadi.

Di sisi lain, persoalan tafsir sastra seringkali melakukan imperialisasi wacana. Imperialisasi wacana adalah salah satu bentuk penjajahan terhadap karya dengan pendekatan beragam teori, sehingga hakikat dari sebuah tafsir yang membedah "urat nadi" karya, diabaikan.Dalam konteks ini, karya sastra yang ditafsir sering digunakan sebagai perangkat lain untuk mempertegas otoritas teori yang digulirkan kritikus. Salah satu contoh tafsir sastra yang mencoba mengambil “setting” ilmu-ilmu sosial sebagai satu bentuk pendekatan adalah telaah yang dikerjakan Daniel Dhakidae mempersoalkan bahwa novel Para Priyayi ketika dihadapkan kepada ahli-ahli ilmu sosial, mereka akan bersikap mendua: apakah novel Para Priyayi dapat dilacak sebagai traktat ilmu-ilmu sosial, atau hanya fiksi belaka?



Pikiran Daniel didasarkan pada satu asumsi dominan ketika para pengamat membedah novel Para Priyayi bahwa kehadirannya ingin menepis kesimpulan yang “fixed” dari para ilmuwan Barat, khususnya Clifford Geertz tentang dunia kaum priyayi. Dan lahirnya novel Para Priyayi ditu¬lis karena ilmu-ilmu sosial tidak lagi mampu menjelaskan banyak hal.

Bentuk penjelajahan tafsir seperti yang dikembang¬kan Daniel, dalam batas-batas tertentu, telah menyeret arus sastra dalam di-siplin lain, yakni wacana ilmu sosial sebagai pisau analisis. Memang tidak "diharamkan" mendeka¬ti karya sastra dengan berbagai disiplin ilmu untuk memperkaya pembongkaran karya. Akan tetapi, seringkali per¬angkat-perangkat ilmu yang digunakan, berada di atas karya yang sedang dibedah, sehingga pembicaraan tidak lagi mema¬suki wilayah karya, tapi pembicaraan lebih didominasi pada disiplin ilmu yang digunakan sebagai metode pendekatan.

Atau mengikuti jejak pikiran Goenawan Mohamad,bahwa penilaian-penilaian yang berdasarkan ukuran-ukuran di luar kesusastraan, tidak cukup memadai jika tanpa ukuran-ukuran kesusastraan. Kalau Daniel sedikit toleran terhadap karya yang dilahirkan Kayam, seharusnya pemberdayaan tafsir lebih memungkinkan pada pendekatan tema yang disuguhkan oleh Kayam. Bukankah tema-tema “wong cilik”, priyayi dan santri-abangan mendominasi karya-karya Kayam yang lain, seperti Bawuk dan Sri Sumarah, serta Mangan Ora Mangan Kumpul. Dan bukankah Kayam memiliki "cacat-cacat latar" ketika membedah dunia “wong cilik”, priyayi dan santri abangan? Cacat latar yang dikembangkan Kayam terlihat ketika dia memposi¬sikan santri abangan sebagai bentuk pengelompokkan kultur yang horisontal, tidak bisa disejajarkan dengan priyayi wong-cilik yang memiliki dimensi sosio-politik dengan garis vertikal. Apalagi penggambaran kehidupan pasar di Wanagalih, kurang menggunakan bahasa lokal yang kuat, karena dalam hal deskripsi masih terasa ada jarak.

Dari konteks inilah, kemudian karya-karya Kayam hanya memiliki daya gugah perubahan sosial ke wilayah dalam, dan tidak bisa membangun satu bentuk perubahan ke luar struktur masyarakat yang ada. Padahal memahami perubahan, demikian juga memahami transformasi, menurut Weber adalah memahami motivasi budaya dari masyarakat tersebut. Maka Weber melihat lahirnya kapitalisme bukan dari sudut pergeseran penguasaan alat produksi, seperti Marx atau pengamat ekonomi lainnya; melainkan dari sudut perkembangan suatu nilai, dalam hal ini, pengaruh Calvinisme sebagai suatu “Weltanschauung”, suatu pandangan hidup.

Dari perkembangan tafsir sastra yang marak di media massa, terasa ada semacam jarak antara sang kritikus dengan karya yang dibedah. Jarak itu semakin tampak tegas ketika sang kritikus hanya mengumbar aneka ragam teori sebagai arena mendekati sebuah karya. Atau mungkin kita tidak memiliki perangkat-perangkat "lunak" dalam memahami dan mensetubuhi sebuah karya, sehingga pembongkaran dalam melakukan tafsir harus dibingkai dengan aneka ragam inter¬pretasi subjektif yang disandarkan pada maraknya teori.

Sebuah teori seharusnya dipakai untuk mematuhi perangkat-perangkat konseptual yang serba argumentatif dan koheren dalam mendekati teks-teks sastra, bukan untuk melakukan "penggemparan" terhadap karya sastra. Bukankah salah satu tugas sastra dan kesenian pada umumnya, membuat penghayatan manusia terhadap kehidupan agar lebih intens, sehingga mengundang berbagai ragam refleksi, dan pada akhirnya mampu membangun medan kesadaran publik. Cara kerja semacam ini, seharusnya perlu dikembangkan, ketika karya sastra sedikit "ditulis" dan kritik sastra mengalami kemandegan.

Media Indonesia, 1998

SHARE

Related Posts

There is no other posts in this category.
Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler