Tafsir Sastra dan Tindakan Reproduktif

Tafsir Sastra dan Tindakan Reproduktif


KERJA penafsiran dalam dunia sastra, dalam batas-batas tertentu, memaksa kita untuk mematuhi peranti-peranti konseptual yang serba argumentatif dan koheran. Satu peranti konseptual yang disandarkan pada kerangka kerja ilmiah yang dibangun atas teori-teori, menghendaki adanya upaya kerja penafsiran teks tidak bersifat reproduktif (kembali kepada maksud pengarangnya), melainkan bersifat produktif melalui pembauran wawasan, ketika pembaca mencermati dan membongkar arti sebuah teks. Pada titik ini, teks mengalami proses pemaknaan dan interpretasi yang menyebar ke segala arah.

Kerja penafsiran di atas, setidak-tidaknya mengikuti jejak pikiran yang pernah dikembangkan Paul Ricoeur, yang kerap diapungkan oleh banyak penulis, ketika berhadapan dengan karya sastra. Pendekatan teori teks Paul Ricoeur tampaknya ingin memperlihatkan satu kerangka teori teks ketika berhadapan dengan sebuah karya wacana. Teks adalah karya wacana yang dimantapkan. Dan, sebuah karya wacana yang dimantapkan dalam tulisan memiliki otonomi semantis rangkap tiga: membebaskan teks dari ketergantungan maksud pengarang, sebuah teks juga membebaskan dirinya dari ketergantungan kelompok sasaran, atau audience yang semula dituju, dan sebuah teks juga membebaskan dirinya dari konteks yang semula dimana teks diproduksi.

Ricoeur mencoba memperlihatkan bagaimana orang bertolak dari penafsiaran sebuah teks untuk sampai kepada penafsiran eksistensi manusia dalam terang sebuah teks. Dalam perangkap ini, bahasa haruslah dilihat kembali secara utuh sebagai struktur dan proses, sebagai langue dan discours. Dari sinilah kemudian Ricoeur menyepakati cara kerja Benveniste yang secara tegas memilah semiotik dan semantik: semiotik mempelajari bahasa sebagai sistem, sedangkan semantik berurusan dengan wacana. Hanya saja, ada rangkaian pertanyaan yang layak dikedepankan, ketika Ricoeur bersikeras bahwa dalam teori teks, setiap teks yang sudah ditulis dan diumumkan dianggap mempunyai semacam kemerdekaan tekstual atau otonomi semantik, sehingga subjek (pengarang) dimatikan.



Dari “perlakuan”seperti inilah pengarang dilepaskan dari beban pemaknaan kembali dari karya yang telah ditetaskan. Tetapi, pada strata ini, bukankah teks meskipun memikili otonomi semantik, ia tidak berdiri pada otonomi mutlak. Juga dalam kajian tafsir sastra, seharusnya kita mampu keluar dari imperialisme wacana yang hanya disandarkan pada maraknya teori. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini, tentu saja, mencoba membuka kembali wacana yang masih tersimpan, dan juga mungkin tertinggal dalam benak kita terutama ketika beberapa kawan ikut meramaikan pikiran-pikiran sastra di lembar budaya Media Indonesia Minggu.

***
TULISAN Afrizal Malna Mobilitas Teks di Sekitar Biografi Puisi, (Media Indonesia Minggu, 18/9/1994) mencoba menolak kritik sastra yang menggunakan biografi sastrawan sebagai pendekatan. Menurut Afrizal, prosedur personifikasi yang ditempuh dalam memahami karya sastra akan melahirkan pembaca yang mistis. Wacana-wacana pembaca akan mengalami “Pemiskinan tekstual”, karena pembaca hanya menjadi pelaku reproduksi dari wacana yang telah dikukuhkan di luar karya yang dibacanya. Dari sinilah kemudian Afrizal melihat bahwa penyair dan puisi, adalah dua wacana yang berbeda dan tidak dapat dicari pertemuan genetis di antara keduanya. Hal ini karena puisi memiliki korespondensi (mobilitas teks) yang jauh lebih luas, daripada sekadar menempatkan kepenyairan sebagai sebuah wacana.

Pikiran Afrizal, dalam batas-batas tertentu, ikut serta melakukan penolakan terhadap tafsiran sastra yang berpijak pada realitas biografi pengarangnya. Dan kerja penafsiran yang menyandarkan pada ruang-ruang biografis adalah tindakan reproduktif (menjelaskan kembali maksud pengarang), yang pada akhirnya pengarang menjadi kritikus bagi karyanya sendiri. Cara kerja semacam ini, mempertegas satu anggapan bahwa sastra harus keluar dari perbudakan politik penilaian. Di mana politik penilaian lebih banyak menjatuhkan sastra untuk melegitimasi sastrawan dan bukan karya sastra itu sendiri (periksa tulisanAfrizal Malna Arsitektur Kata dan Refigurasi Ruang Publik, dokumen pribadi). Maka, ketika sastra harus keluar dari perbudakan penilaian, ia mematikan tafsir sastra sebagai satu proses pemaknaan yang menyebarkan ke segala arah.
Tindakan reproduktif ini, pernah juga dilakukan Umberto Eco, ketika menjelaskan novel The Name of the Rose di televisi Jerman. Atau dalam Khazanah sastra Indonesia, kasus pembelaan Ahmad Tohari, Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra, (Horison, November 1984) ketika Tohari memberi respon balik terhadap tulisan F. Rahardi mengenai novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang berjudul Cacat Latar yang Fatal, (Horison, Nomor 1, 1984).

Di wilayah seni rupa, Dadang Christanto juga melakukan pembelaan terhadap kritik yang lahir dari Semsar Siahaan atas karya 1001 Manusia Tanah, bahwa air laut di pantai Marina telah terkontaminasi oleh bahan plastik 1001 Manusia Tanah. Tindakan reproduktif yang dikerjakan sang kreator, seolah-olah menafsirkan tafsir yang bermuara pada perbedaan dan makna-makna yang lahir dari perbedaan. Acapkali, situasi ini, menutup rapat pintu tafsir yang dihinggapi oleh maraknya interpretasi teks terhadap karya wacana. Sehingga sebuah teks sebagai karya terbuka, sulit untuk didekati.
Dalam wilayah lain, perbedaan tafsir yang sangat menonjol terhadap suatu teks, biasanya sering terjadi dalam wilayah keagamaan, yang sering kali melupakan beda pendapat sebagai order of nature (ketentuan alam). Dalam tradisi Kristiani dan Islam, munculnya kelompok evangelis (eksklusif) yang diwakili Hendri Kraemer dan karl Bath di barisan Kristen dan Sayyid Qutb serta penafsir Shi’a Muhammad Al Balaghi dari komunitas Islam. Sedangkan kelompok Ekuminis dari unikum Kristiani (inklusif) ditempati Raymond Panikar dan George Khodr. Sementara kelompok inklusif dari Islam, didukui Shekh Muhammad Abduh dan Rashid Ridha. Contoh kecil ini, hanya sebagai gambaran, bahwa hamparan perbedaan terhadap suatu teks, memang telah mrasuki semua sektor disiplin pengetahuan. Dans ebuah tafsir, seharusnya dibangun sebagai sarana untuk memproduksi makna-makna dan gagasan-gagasan. Sebuah reproduksi makna dan gagasan yang dibingkai kemauan untuk mengubah kondisi yang stagnan.

***

DI tengah ingar-bingar pikiran Afrizal Malna (Media Indonesia, 29-06-1997), Oyos Saroso HN (Kritik Sastra di Tengah Kerancuan Wacana, (Media Indonesia, 22-06-1997) yang memandang bahwa kita memang terlalu banyak berteriak, namun tak sanggup untuk berbuat sesuatu dengan serius, khususnya dalam pemberdayaan kritik sastra, atau pemaksaan “penggemparan” pemikiran perihal sastra yang dikerjakan Nor Pud Binarto (Hancurnya Sebuah Otoritas, (Media Indonesia, 20-07-1997, tampaknya ada baiknya melihat celah pikiran Goenawan Mohammad ketika memperingati ulang tahun ke-80 HB Jassin.

Goenawan mencoba memeriksa kembali perkembangan teori dan kritik sastra dalam dua dasawarsa terakhir dengan melemparkan pertanyaan: tidaklah sebenarnya sebuah kritik sastra bermula, dan terus berkaitan, dengan apa yang vital bagi puisi dan prosa, yakni kelanjutan metafor sebelum ditarik ke dalam imperialisme wacana? Sampai di manakah pembahasan sebuah pengalaman estetik, ketika kita bertemu dengan sebuah puisi (atau prosa?), tak didominasi hanya oleh pengungkapan “isi semantik?”

Pertanyaan Goenawan memberi kesan, bahwa tradisi kritik sastra kita dibanjiri oleh imperialisme wacana, yang mencoba membuka aneka teori dan prosa berdiri pada dataran metafor. Maka ketika imperialisme wacana merajalela dalam pendekatan kritik sastra, ia cenderung didominasi pada pengungkapan isi semantik dan melupakan gaya bahasa yang ada dalam puisi dan prosa, sebagai otonomi individu. Dari sinilah sebuah pendekatan kritik sastra yang diapungkan Nor Pud Binarto, yang melakukan pemaksaan berbagai ragam wacana masuk ke dalam wilayah sastra, menjadi tidak relevan. Atau keterbatasan tafsir Suryadi ketika berhadapan dengan dunia sastra (Sastra: Di antara Idealisme dan Konspiras, 12-10-1997), layak dipersoalkan.

Persoalan pendekatan kritik sastra inilah, yang kemudian menimbulkan perasaan anxious, sakwasangka. Satu pendekatan kritik sastra, tentunya mengabaikan metode penekatan lain. Dalam tataran ini, kita seriang terjebak pada apa yang prnah dikatakan Vincent Crapanzano, didominasi oleh dilema Hermes.Hermes dalam tradisi Filsafat Yunani, adalah mediator (menteri penerangan) Zeus, Hermes hanya berjanji kepada Zeus, untuk tidak melakukan pernyataan-pernyataan yang berbau kebohongan dan kedustaan. Hanya saja, Hermes tidak pernah berjanji mengatakan seluruh kebenaran. Akibat dari janji Hermes itu, tentunya ada yang tidak disampaikan atau sengaja ditanggalkan. Maka, pendekatan pada satu teori teks, sering kali menitikberatkan pada satu sisi pendekatan tertentu dan dengan kerangka perspektif tertentu, sehingga mengabaikan sisi lain, dan perspektif lain.
Dan ternyata, kita memang membutuhkan kearifan dalam membaca karya orang lain. Karena bagaimanapun setiap teks memiliki kecerdasannya sendiri.

Sumber Media Indonesia, 26 Oktober 1997

Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler