Baginda Nabi Tak Meninggalkan Warisan Harta

Baginda Nabi Tak Meninggalkan Warisan Harta



Sebagian besar orang melihat kekayaan hanya dari sisi lahir, materi. Orang yang punya mobil langsung dicap lebih kaya ketimbang orang yang punya motor. Orang yang punya rumah dianggap lebih kaya ketimbang orang yang masih tinggal di kontrakan. Inilah ukuran kekayaan secara materi.

Inilah ukuran kekayaan secara materi. Saya teringat wejangan Imam Ghazali dalam risalahnya "Al-Adabu fid Din", khususnya pasal "Adabul Ghani". Kata Imam Al-Ghazali orang kaya itu harus selalu bersikap tawadu' (luzumut tawadlu') dan menghapus sikap sombong (nafyut takabbur).

Di tepi lain Imam Ghazali mengurai bahwa aktivitas ekonomi manusia itu harus disandarkan pada aktivitas menuju hari akhir dan hari pembalasan. Artinya setiap gerak dalam mencari kekayaan itu harus berpijak pada pertanggung jawaban pada hari akhir, hari pembalasan.

Lebih jauh Imam Ghazali melihat sebuah kekayaan adalah pencapaian menuju kesuksesan hidup yang abadi. Kekayaan dalam filosofi hidup harus diwujudkan dalam konsep tauhid, hari akhirat (hari pembalasan), dan risalah Rasulullah SAW), yang dibuktikan dengan amal perbuatan.

Rasulullah kalau mau mengejar kekayaan, itu sangat mudah. Pemimpin umat, sahabat-sahabat Nabi yang kaya raya, juga pasti ikhlas jika menghibahkan hartanya untuk Baginda Nabi. Tapi Baginda Nabi tidak mengejar pada titik kekayaan. Beliau lebih mementingkan kehidupan umatnya.

Warisan Rasulullah yang harus dijaga manusia yang mengaku umat Nabi Muhammad SAW, adalah sholat. Sholat di awal waktu dan berjamaah ke masjid. Menurut Baginda Nabi, sejumlah kemuliaan akan dilimpahkan bagi yang menjalankan sholat dan sejumlah kehinaan bagi yang meninggalkannya.

Terkait sholat di awal waktu dan berjamaah ke masjid, ini statemen Baginda Nabi bukan statemen saya. Kalau mau marah, nyinyir dan membully kultwit saya soal sholat, silakan marah, nyinyir dan membully Baginda Nabi. Baginda Nabi yang bersabda. Saya hanya meneruskan saja.

Kembali ke warisan kekayaan Baginda Nabi. Baginda Nabi wafat di pangkuan Ummul Mukiminin, Bunda Aisyah. Tak meninggalkan kekayaan. Waktu Nabi wafat, Sayyidina Abu Bakar, ayahanda Bunda Aisyah sedang berada di rumah. Beliau langsung menuju rumah Rasulullah.

Pas di rumah Baginda Nabi, Sayyidina Abu Bakar membuka kain yang menutup Nabi dengan linangan air mata, lalu mencium kening Baginda Nabi. Beliau kemudian ke rumah Sayyidina Umar, menenangkan Sayy Umar. Tak berhasil. Sayyidina Umar tidak percaya kalau Baginda Nabi wafat.

Baginda Nabi, akhlaknya sangat mulia. Kemuliaan akhlak Baginda Nabi ini tertanam sejak kecil. Akhlak yang sangat mulia ini berimbas pada cahaya ilahiah yang memancar dari seluruh anggota tubuh Baginda Nabi. Cahaya ilahiah inilah mampu menutup terangnya sinar bulan purnama.

Dan pantulan cahaya ilahiah pada diri Baginda Nabi bisa berimbas pada diri kita jika kita mampu menjalankan warisan yang amat berharga dari Baginda Nabi; sholat di awal waktu dan berjamaah ke masjid.

Pantulan cahaya ilahian ini, tak bisa dilihat dengan mata lahir.

Memang jika kita meninggal, kita tak boleh menelantarkan anak-anak kita. Tapi maksud tak boleh menelantarkan anak-anak kita, tak harus berorientasi dengan meninggalkan kekayaan. Meninggalkan ilmu yang bermanfaat, meninggalkan jejak akhlak yang baik, itu warisan paling berharga.

Mari kita senantiasa bersyukur, dawamusy syukr dan terus bekerja untuk kebajikan, at-tawashul ila a‘malil birr. Bersyukur dengan apa yang kita terima hari ini dan terus menerus menebar kebajikan antar sesama.

Kultwit ini, tuk mengingatkan diri sendiri dan diri yang lain. Itulah kenapa saya menggunakan kata ganti orang pertama jamak, "kita". Kultwit ditulis dengan bahasa yang lugas. Tak perlu berbelit-belit. Penulisan kultwit akan berbeda jika kita menulis di media atau jurnal ilmiah.







Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Jejak Langkah

Jejak Langkah

Menekuni dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA, Edy A Effendi terus mengasah kemampuan…