Horison, Kebudayaan dan Tangan Dingin Goenawan Mohamad: Sebuah Refleksi

Horison, Kebudayaan dan Tangan Dingin Goenawan Mohamad: Sebuah Refleksi

Oleh Edy A Effendi
HARI INI (10/7) edisi perdana Majalah Sastra dan Seni, Horison baru di tangan dingin Goenawan Mohamad diterbitkan. Sodoran pikiran yang digelindingkan Nirwan Dewanto, salah seorang redakturnya, perihal lahirnya kembali majalah sastra dan seni Horison baru itu, menarik untuk dibincangkan sebagai menu primer dalam agenda makanan pikiran kita. Nirwan, penyair dan eseis muda yang genial, membuka lembaran Horison baru dengan merekonstruksi perjalanan selama 27 tahun majalah sastra tersebut, sekaligus membangun satu piramida dalam bingkai kesenian Indonesia.
Ia menyuguhkan pikiran kritis dan segar, bahwa kita membutuhkan sikap trans-kultur, dan bukan sejenis kebanggan nasional. Setidak-tidaknya demikianlah cara untuk belajar dari ‘kekeliruan’ dalam sejarah kesenian kita di abad-20; keinginan yang terlalu besar untuk jadi ‘modern’, malah memencilkan kita dari arus-arus baru pemikiran dan penciptaan di seluruh dunia.
Tesis yang digulirkan Nirwana Dewanto, dalam batas-batas yang sangat minimalis, mengingatkan ‘keterlenaan’ kita pada kekeliruan cara memandang dan mensikpai perilaku kesenian yang bergerak dalam peta pelataran seni Indonesia. Gelagat semacam ini, lahir dari orientasi cara m,emandang dan mensikapi perilaku kesenian, yang bermuara pada disain-disain besar, tanpa mau menoleh pada elemen-elemen kecil, yang ikut menjaga wilayah kesenian dalam ‘rubrik budaya’ Indonesia. Sehingga yang terjadi kemudian, munculnya anggapan-anggapan pemebnaran tentang jeharusan untuk melegitimasi orientasi utama dalam hidup kebudayaan. Kondisi demikian, membungkam korespondensi budaya dengan wilayah lain. Karena perbincangan orientasi utama hidup kebudayaan, cenderung menutup koridor pikiran budaya lebih melebar.

Maka, kelahiran kembali majalah sastra dan seni Horison, yang dikawal Goenawan Mohamad dan grup Tempo, diharapkan mampu memberikan kontribusi baru bagi pijakan pikiran-pikiran budaya yang menyuguhkan adanya dialektika-imperialistik antar sesama.

Sehingga bangunan kebudayaan tidak lagi dibingkai oleh narsisisme kultural yang mempersoalkan tembang diri dan nyanyian sunyi dari kecemasan-kecemasan nasionalisme, yang banyak dibauri oleh satuan kerangka berpikir yang tidak jelas. Maka, dibutuhkan idea of progress yang bertitik tolak dari konsepsi-konsepsi mengenai makna dan implikasi dari sebuah itikad, untuk melahirkan kembali satu medan kebudayaan di dalam sebuah jurnalisme seni, yang memiliki karakter dalam menggarap sebuah gagasan.
Kelahiran Kembali Horison
Kelahiran kembali Horison, dalam banyak hal, mencoba merapatkan kembali aspirasi-aspirasi kesenian yang tercecer, yang tidak mampu dirumuskan secara tegas oleh “Angkatan lama” majalah itu. Praktis, selama dua dasawarsa terakhir, Horison ditinggalkan oleh pembaca karena tidak lagi menurunkan pikiran-pikiran budaya dan karya-karya sastra yang bermutu. Hal ini disebabkan, Horison yang mampu mendistribusi pikiran-pikiran kritis dari satu agenda kebudayaan yang dapat dijadikan referensi publik. Implikasi yang lahir dari situasi semacam ini, terjadi representasi pemikiran-pemikiran budaya, yang cenderung melahirkan deformasi. Sehingga bias yang hadir dari kondisi demikian, adalah adanya kekeringan akan tawaran-tawaran dialog substansial mengenai persoalan kesenian, yang seharusnya menajdi ajang perdebatan budaya yang cukup serius.
Virus ini, tiba-tiba saja, lahir dan menjangkiti seluruh perangkat kesenian lain di luar wilayah Horison sebagai salah satu sentrum media massa yang berbasis budaya. Amdilah satu kasus, ketidakmampuan lembar-lembar budaya di koran-koran, yang membuka ruang dialog budaya secara kritis.
Krisis yang serius, yang dialami Horison saat ini, adalah memperjuangkan adanya keseimbangan antara idelisme untuk menggulirkan tema-tema yang cerdas serta memiliki klarifikasi kualitas yang baik, dengan arus pasar yang mendesak pada kebutuhan-kebutuhan elementer yang berpijak pada persoalan materi. Dari sinilah dapat dibenarkan tesis yang disuguhkan C. Wright Mills ketika mempersoalkan konsep ‘cultural apparatus”.
memaparkan bahwa idealisme dan materialisme adalah dua konsep abstrak yang dikotomis. Namun dalam kehidupan sehari-hari keduanya tak bisa dipisahkan. Setiap tanda menunjukkan pengaruh tertentu karena konteks yang spesifik berupa kondisi yang istimewa, keuntungan, kerugian, frustasi, aspirasi, harapan dan kecemasan.
Maka, reaksi yang lahir dari benturan-benturan idealisme dan materialisme adalah sikap skeptis, yang menaburkan afirmasi kemuraman sebagai katarsis (meminjam pernyataan kawan saya, Jamal D. Rahman). Afirmasi-afirmasi kemuraman inilah, yang kemudian meruntuhkan majalah yang berbasis budaya untuk tetap terjaga. Tampaknya, kondisi demikian, ditilik dari latar sejarah, adalah salah satu variabel yang ikut membunuh kelangsungan hidup majalah-majalah sastra. Hal ini dapat dilacak dari kematian majalah-majalah budaya. Ambilah satu kasus kematian majalah Poedjangga Baroe, Kisah, Siasat, Sastra sebagai akibat langsung dari kemuraman-kemuraman yang tak trjelaskan.
Anggapan-anggapan ini bisa saja meleset, jika para penjaga majalah budaya masa silam, mampu menawarkan media lain yang lebih inklusif dalam menciptakan komunikasi ke wilayah publik. Artinya, mereka mau membuka diskursus dialogis dalam menerjemahkan gagasan-gagasan yang disadur dari realitas keseharian. Oleh karena itulah, meluruskan orientasi dalam mengelola majalah yang berbasis budaya, tidak hanya bertumpu pada pola keseimbangan yang lebih konstruktif, agar jadi pelayan sekaligus pemberi yang baik bagi masyarakat pembaca.
Kehadiran kembali Horison, terasa sangat tepat di tengah-tengah situasi kegaguan media jurnalisme seni yang banyak membicarakan tema-tema kesenian yang belum selesai. Kupasan-kupasan yang dilemparkan ke publik, yang terangkum dalam media massa saat ini, hanyalah semacam reportoar dari sebuah kepentingan publikasi bisnis. Situasi ini, ditopang oleh arus-arus besar budaya, yang ideologi mempersoalkan para pelaku budaya terlibat secara intens dalam sebuah pergumulan personal yang mampu membangun medan kesadaran pribadi.
Maka, niat meletakkan Horison sebagai sebuah laboratorium yang memiliki kepercayaan terhadap perubahan adalah salah satu bentuk ijtihad dari satu komunitas budaya lokal, yang akan melakukan fatwa terhadap laju perubahan yang ada di sekitar dirinya.
Terminologi Weber
Oleh karena itulah, kalau meminjam terminologi Weber, perubahan yang menuju pada modernitas, selalu mengacu pada rasionalisasi. Dengan demikian, Weber mengisyaratkan bahwa perubahan berarti memahami secara rasional motivasi budaya yang sedang tumbuh dalam masyarakat. Sehingga gagasan trans-kultural yang akan dikembangkan oleh Horison, menjadi jembatan bagi pembaca untuk melakukan korespondensi dengan dunia di luar dirinya. Tentunya, penegasan kembali Horison baru, untuk melakukan invasi kultural dengan dunia luar, merupakan organisme yang hidup dalam persenyawaan sastra dan seni Indonesia.
Indikasi di atas, menggiring untuk dijadikan sandaran bagi para pekerja Horison Orde Baru, agar bercermin dari lembaran sejarah masa lalu. Paling tidak, Horison yang dikomandoi Goenawan Mohamad, mampu membangun pranata jurnalisme seni yang tidak hanya mengambil aspirasi kesenian kalangan ‘borjuis’. Tetapi dapat memungut aspirasi yang lahir dari serpihan-sepihan seniman ‘pinggiran’.

Artinya, dalam batas-batas tertentu, Horison dengan manajemen baru, tidak didominasi oleh tema high culture. Kekhawatiran ini merebak di kalangan seniman, karena Tempo sebagai pengelola tunggal, memiliki impresi primer sebagai media jurnalis yang lahir dari kalangan elit. Dalam kasus semacam ini, kita diingatkan oleh Sutan Syahrir melalui tulisannya di majalah Poedjangga Baroe tentang Kesoesastraan dan Ra’jat, bagi Syahrir, agenda bacaan kesusasteraan tetap berpijak pada kebutuhan melakuka kontribusi pikiran sastra yang layak untuk dibaca oleh rakyat. Begitu agung gema yang dikibarkan Syahrir, sehingga sastra tidak menjadi legislator of the World (terima kasih Percy Byssche Shelley) yang terasing dari komunitas yang mendiaminya.
Akhirnya, kita diingatkan kembali oleh Derek Walcott, seorang pemenang hadiah nobel sastra 1992, yang kali ini ikut menyemarakkan edis ‘perdana’ Horison. Katanya, kita telah keterlaluan merintih berkepanjangan menggarisbawahi masa lalu. Dan kita pun dapat membaca sodoran puisinya, yang seoalh-olah ikut menyongsong kelahiran kembali majalah Horison, yang ia beri judul “Bulan Pagi”:
Masih dihantui oleh peredaran bulan
yang melaju dengan layar penuh
melewati gunung Morne Coco yang bagai lengkung punggung ikan paus,
aku megap oleh kecemerlangan cahayanya.
Ini awal Desember,
angin sepoi menyegarkan kulit bumi ini,
permukaan laut yang bagai kulit angsa,
dan kuperhatikan semburat biru
bayang-bayang gunung Morne Coco,
jam-matahari desember,
bahagia bahwa bumi masih berubah,
bahwa bulan purnama masih bisa membutakanku dengan dahinya
pagi-pagi cerah ini,
dan bahwa ranting-ranting putih mulai bersemi di jantungku.

Selamat bekerja untuk Goenawan, Nirwan, Taufik Rahzen, Bambang Bujono, S. Malela dan Sapardi Djoko damono. Hari ini, engkau lahir kembali di antara ribuan gelombang manusia, dengan tantangan dan persoalan bagi anda sekalian yang memiliki “kepercayaan pada perubahan”.


  • Dimuat di Harian Republika. Lupa tahun berapa
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler