Puisi Indonesia: Sembunyi dalam Gelap

Puisi Indonesia: Sembunyi dalam Gelap


.

Puisi yang penuh dengan metafor gelap, kalimat panjang yang hampir-hampir tak terpahami dan tema-tema subjektif yang asal terlontar saja dari penyairnya, telah menyebabkan puisi Indonesia pada suatu masa tersisih, menjadi semacam benda-benda asing yang tak mempunyai peranan sama sekali dalam kehidupan bersama. Puisi Indonesia modern itu adalah contoh tragis dari kesenian kita yang belum lagi matang, sebab dengan segala kerumitannya ia telah menolak dirinya sebagai puisi. Puisi telah hampir ditolak, tetapi puisi modern itu justru telah mengarahkan kematiannya sendiri. Pernyataan Sutisna Adji ini, yang dimuat dalam buku Tentang Kritik Sastra Sebuah Diskusi (Editor Lukman Ali, 1978), terutama diarahkan kepada puisi-puisi Ajip Rosidi yang termaktub dalam kumpulan Pesta bersama Wiratmo Sukito dan Iwan Simatupang, yang beredar sekitar tahun 1955-an

Seperti kita tahu, pada kurun tahun 1950-an, konstelasi politik di ranah Indonesia tercabik-cabik oleh berbagai kepentingan elit partai yang begitu menjamur. Sebuah kepentingan yang menggiring pada orientasi ke-kuasaan semata, secara sadar ikut serta mempengaruhi proses kreatif para penyair yang bergerak pada masa itu.

Masa itu adalah masa gelap dalam orientasi pergerakan Indonesia menuju tatatan masyarakat yang beradab. Berbagai ragam kehidupan terjebak pada upaya pencarian identitas kekuasaan kelompok, organisasi dan semangat lokal yang ekstrim, sehingga tumbuh subur semangat indi-vidualisme radikal. Konflik antara intelektualisme dan ideologi negara, ter-cermin dalam berbagai kontroversi mengenai bentuk dan praktik demokrasi.

Pada masa itu, terbit majalah Kisah (1953) yang dipimpin HB Jassin. Majalah Kisah mampu melahirkan karya-karya cukup berwibawa dari kalangan sastrawan Indonesia dengan berbagai ragam bentuk hasil sastra. Majalah ini juga memberi penghargaan khusus terhadap para sastrawan Indonesia yang dianggap memiliki kualitas terbaik yang dimuat majalan Kisah.

Di tepi lain, penghargaan serupa juga diberikan Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) yang berkedudukan di Jakarta, sejak tahun 1953, secara rutin memberi penghargaan Hadiah Sastra bagi para sas-trawan yang dianggap memiliki produk karya yang cukup bermutu.

Pada tahun 1953, Mochtar Lubis dengan novel Djalan Tak Ada Udjung, kumpulan cerita pendek Tjerita dari Blora ditulis Pramoedya Ananta Toer, kumpulan puisi Tandus karya S Rukiah, lakon drama Awal dan Mira ditulis Utuy Tatang Sontani dan puisi terjemahan Puisi Dunia yang digarap Taslim Ali, mendapat penghargaan dari BMKN. Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 1956, BM-KN tidak memberi penghargaan karya terbaik tapi penghargaan bagi para sastrawan yang paling kreatif dan berhasil menciptakan karya-karya yang mampu memberi kontribusi positif bagi pertumbuhan karya sastra waktu itu pada kurun 1955-1956. WS Rendra, Ajip Rosidi dan Toto Sudarto Bachtiar diberi penghargaan untuk kategori puisi. Sementara Sitor Situmorang, Mochtar Lubis dan Achdiat Kartamihardja untuk kategori prosa

Pada situasi seperti itulah, Sutisna Adji melakukan kritik cukup pe-das terhadap perkembangan puisi waktu itu. Puisi Indonesia modern itu, menurut Sutisna Adji, adalah contoh tragis dari kesenian kita yang belum lagi matang, sebab dengan segala kerumitannya ia telah menolak dirinya sebagai puisi. Puisi telah hampir ditolak, tetapi puisi modern itu justru telah mengarahkan kematiannya sendiri

Pernyataan hampir serupa pernah dilontarkan Sutardji Calzoum Bachri, ketika melihat “parade” puisi yang marak pada putaran waktu 90-an, didominasi oleh puisi-puisi gelap. Sebuah hamparan puisi yang dirimbuni kata-kata tanpa makna; sebuah puisi yang menampilkan metafor-metafor gelap dan idiom-idiom benda yang tak terjelaskan hubungan sintaksisnya. Salah satu sasaran “tem-bak” Sutardji adalah seorang penyair yang cukup rajin dan setia dalam meng-arungi dunia kepenyairan Indonesia; Afrizal Malna.

Malna dalam konstelasi kepenyairan Indonesia, telah ikut mewarnai suasana baru pada corak penulisan puisi dekade 90-an sebuah suasana baru yang dibangun dengan idiom-idiom kosmopolitan dan bentuk kubus pa-da format puisinya, serta keberaniannya melakukan pembunuhan posisi makna kata secara liar, ketika menuangkan kata-kata dalam perbenda-haraan puisinya. Tentu saja, suasana baru ini berbeda dengan proses perkembangan penulisan puisi Malna di masa-masa awal kepenyairannya, ketika ia menulis puisi Penyair Anwar dan Matahari Bachri. Dua buah puisi yang menggambarkan persing-gungan Malna dengan “dua imam besar” mazhab penyair Indonesia.

Dalam proses penulisan Malna selanjutnya, yang kemudian banyak diikuti oleh sebagian penyair dekade 90-an, puisi-puisi Malna secara se-pintas berdiri di balik tabir kegelapan. Kegelapan puisi-puisi Malna dan se-bagian penyair yang bergerak pada paruh 90-an, terlihat pada cara penggunaan kata yang rumit dan tidak sederhana, bahkan jauh lebih rumit dibanding sajak-sajak dalam puak rigorous (Agus Sardjono: Pasca Manifes: Puisi Indonesia dalam Empat Orde Baru, 1998). Misalnya saja puisi berjudul Restoran Dari Bahasa Asing memperlihatkan secara tegas fenomena kege-lapan tersebut. Malna me-nulis, Aduh, udara penuh cemburu, tali sepatu, kaos kaki, dan obrolan tiga ribu perak. Tetapi aku dengar kepalamu bere-volusi jadi jamur, jadi bahu, jadi kamar mandi di malam hari.

Menurut Sardjono, puisi-puisi Malna memperlakukan diksi melalui pilihan kata yang rumit dan sulit membangun komunikasi dengan publik, lewat komposisi persajakan yang mengingatkan kita pada kecenderungan instalasi dunia seni rupa. Kecenderungan semacam inilah yang kemudian mendorong Malna menyusun kata dalam puisi-puisinya seperti menyusun benda dalam sebuah instalasi. Perlakuan Malna terhadap posisi makna kata, mempertegas stigma kegelapan bersikukuh dalam puisi-puisinya.

Terhadap tuduhan Sutardji dan Sarjono, Malna mempertegas bah-wa lahirnya penilaian terhadap puisi-puisi yang dianggap gelap, bisa dilihat sebagai representasi sedang berlangsungnya pergeseran struktur semiotik, dalam masyarakat yang tidak mendapatkan apresiasi. Puisi-puisi gelap adalah representasi dari kenyataan yang hidup disekitarnya. Dalam hal ini berlakunya determinasi semiotik dari suatu keadaan, mungkin terlalu dia-baikan penga-ruhnya terhadap komunikasi puisi, sehingga kehadiran puisi-puisi gelap dinilai negatif. Malna juga menilai puisi Indonesia modern tidak memiliki akar yang jelas, arkeologinya gelap. Maka lahirnya puisi-puisi gelap juga tidak bisa dipisahkan dari kenyataan ini: betapa puisi-puisi yang diang-gap gelap ternyata menyimpan lingkungan teks yang tidak sederhana untuk begitu saja menghukumnya sebagai puisi-puisi gelap.

Dengan demikian pernyataan terhadap lahirnya puisi-puisi gelap akhir-nya terkesan lebih sebagai representasi dari adanya ketegangan elite sastra da-lam mengapresiasi berlangsungnya konflik-konflik semiotik kepada khalayak pembaca.

Menurut Malna, penilaian puisi gelap pertama kali digunakan Chairil Anwar ketika menilai puisi-puisi Amir Hamzah sebagai puisi gelap (duistere poezie), yang memerlukan pengetahuan sejarah dan agama untuk memaha-minya. Seperti diketahui bersama, Amir Hamzah seringkali menggunakan ba-han yang bersumber dari naskah-naskah lama, diksi-diksi bahasa Melayu yang tidak umum lagi dipakai dalam realitas komunikasi sehari-hari.

Dalam pandangan Malna, kegelapan di sini bukan berarti tidak terpahami, tapi karena puisi Amir Hamzah memerlukan teks lain untuk mem-bacanya. Perhitungan estetika puisi Amir Hamzah, sama pentingnya dengan perhitungan intelektual dalam proses penulisan puisi-puisinya. Puisi-puisi Amir Hamzah sarat dengan referensi. Tentu saja, stigma kegelapan dalam konteks puisi-puisi Amir Hamzah yang dibidik oleh Chairil Anwar, berbeda dengan “tembakan” Sutardji Calzoum Bachri, yang menganggap kegelapan dalam puisi dekade 90-an, bersarang pada kegelapan kata yang tidak bermakna, metafor-metafor gelap dan idiom-idiom yang tidak memiliki keter-kaitan tema dalam bangunan puisi.

Hanya saja anggapan Sutardji, menurut Malna bisa menjadi bagian dari demobilisasi sastra yang berlangsung, dan kian menyurukkan kehidup-an sastra tanpa pembicara (Puisi Gelap Sebuah Kisah Krisis Sastra, makalah diskusi di IAIN Jakarta, 1998). Anggapan Sutardji dan Sardjono juga pembelaan yang diapungkan Malna, membangun rangkaian pertanyaan yang masih menggantung; benarkah sejarah panjang puisi Indonesia selalu dihuni “afirmasi-afirmasi kemuraman sebagai katarsis” dan rimba kegelapan pada puisi-puisi yang dite-taskan oleh sebagian penyair kita? Dan bukankah “tidak ada karya seni mana pun juga yang berfungsi dalam situasi kosong; bahwa setiap sajak merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari se-buah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya”, seperti yang diigaukan A. Teeuw..

Pernyataan Teeuw bahwa tidak ada karya seni mana pun yang berfungsi dalam situasi kosong: bahwa setiap sajak merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya, tercermin dalam penyair Acep Zam Noor.

Dimuat Kompas, Puisi Indonesia: Sembunyi dalam Gelap, 1 September 1998.

Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Jejak Langkah

Jejak Langkah

Menekuni dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA, Edy A Effendi terus mengasah kemampuan…