Ruang Pertunjukan, Dunia Simulasi Kenyataan

Ruang Pertunjukan, Dunia Simulasi Kenyataan


Oleh Edy A Effendi

Ruang pertunjukkan selalu berusaha bersandar pada realitas. Bersandar pada kenyataan-kenyataan yang terjadi di sekitar kita.  Dan kenyataan-kenyataan itu, selalu menjebak, mengkerangkeng  dengan berbagai gugusan ide yang bertebaran.  Gugusan ide yang berkeliaran dalam ruang pertunjukkan, hakikatnya penjabaran dari dunia simulasi kenyataan.
Gugusan ide itu, mau tak mau,  mengandaikan tarik menarik proses objektivikasi antara ruang pertunjukkan, para pelaku seni, kreator  dengan kenyataan yang terjadi di luar pertunjukkan.  Dan sebuah ruang pertunjukkan,  ditakdirkan untuk mentakbirkan berbagai ragam isu, gagasan dan berbagai pernik hidup yang berkeliaran di ranah publik. Dan gugusan ide itu, sering dijadikan alat ukur “bobot  kehadiran” sebuah seni pertunjukan.

Persoalannya yang timbul , apakah  perluasan “bobot kehadiran” seni pertunjukan, bentuk representasi dari keberhasilan sebuah seni pertunjukkan?  Yang ada, “bobot kehadiran” hanya satu cara untuk  memandang dan menggumuli sebuah seni pertunjukkan dari  konteks pemanggungan. Padahal seni pertunjukkan itu menjadi menarik jika di dalamnya menggundang sejumlah pemikiran, membangkitkan diskusi publik dan membangun relasi sosial di luar seni pertunjukan itu sendiri.

Mengundang sejumlah pemikiran, membangkitkan diskusi publik dan membangun relasi sosial, menjadi ruh seni pertunjukkan.  Sebuah seni pertunjukkan akan menjadi lengkap jika ia jadi bahan obrolan di berbagai ruang dan waktu.  Tentu saja, elemen-elemen di luar seni pertunjukkan, menjadi anasir penting, mengingat kehadiran seni pertunjukkan tak hanya mengelaborasi gugusan ide di dalam panggung. Tak sekadar baik buruk sebuah pertunjukkan.  Tak sekadar perayaan orgasme para pelaku seni yang mensetubuhi tubuhnya dalam seni pertunjukan.

Tentu saja, pada titik pijak ini , seni pertunjukkan tak hanya mensimulasi realitas tapi sebisa mungkin mampu mengkonstruksi realitas sebagai sebuah ruang dialog. Jika seni pertunjukkan mampu mengkonstruksi ruang dialog di luar pagar pertunjukkan , ia tak sekadar menjadi terminal bagi sebuah proses pemanggungan tapi juga jadi etalase tuk memotret kehidupan lain; baik potret politik, ekonomi,  budaya dan berbagai  cabang hidup lain. Seni pertunjukkan jadi subjek yang bisa mendikte objek-objek di luar seni pertunjukkan.  Dari sinilah kemudian perbincangan seni pertunjukkan tak sekadar soal persoalan ruang konvensional  dan tak konsvensional.  Atau lemahnya para kreator, khususnya koreografer kita  menyusun struktur ketika berhadapan dengan ruang tak konvensional.



Lihatlah apa yang dikerjakan Alessandra Lopez y Royo ketika menggumuli dua balet, The Prince of Pagodas yang diciptakan Cranko pada 1957, dan dipentaskan ulang oleh MacMillan pada 1989 serta Gong karya Morris yang pertama kali dipentaskan pada 2002. Dalam percakapan yang cukup panjang, karya-karya tari itu berikut musiknya, masing-masing oleh Benjamin Britten dan Colin McPhee, Royo mengkaji ulang makna-makna yang saling bertentangan dari pengaruh dan pemanfaatan kultural, serta makna transformasi dan terjemahan. Royo mencermati  tarik ulur identitas seksual lewat penggunaan gamelan sebagai indikator gay di kalangan komponis Amerika Utara abad ke-20, dalam deretan yang dimulai dari McPhee hingga Lou Harrison serta para penggubah sesudahnya.

Cara kerja yang diusung Royo, tak sekadar mempersoalkan seni pertunjukkan sebatas persoalan struktur, ruang konvensional atau tak konvensioal . Royo coba merambah detail lain yang memiliki bangunan relasi dengan dunia luar di luar pagar seni pertunjukan.

Dunia Simulasi Kenyataan
Jika mengikuti jejak pikiran Royo, para pelaku seni, para kreator,  bergerak tak hanya menjadi bagian dari seni pertunjukkan.  Mereka juga hadir sebagai penafsir karut marut kehidupan di ruang publik yang penuh ambigu. Maka domain tafsir terhadap persoalan ruang publik tak hanya milik pengamat atau kalangan akademisi tapi juga domain para pelaku seni itu sendiri.

Dari sinilah, para pelaku seni pertunjukkan dituntut melakukan simulasi kenyataan. Merekonstruksi ulang realitas publik sekaligus mendikte objek-objek publik. Menjabarkan realitas di luar dirinya menjadi bagian yang koheren dalam tubuhnya yang menari, tubuhnya yang meruang dalam kanvas dan tubuh yang menjelajah di setiap sudut panggung.

Tubuh yang meruang adalah tubuh yang mensimulasi kenyataan. Tubuh yang  meruang, adalah tubuh yang tak hanya berisi darah dan daging.  Di dalamnya ada ruh pertunjukkan yang berusaha mencari dan menciptakan  dengan kenyataan di luar tubuh. Bukankah menurut pesohor postmodernisme, Jean Baudrillard, masyarakat kini hidup dalam dunia simulasi, di mana kesan sesuatu tampilan didalihkan sehingga terlihat nyata.

Simulasi adalah suatu proses di mana representasi atas suatu objek justru menggantikan objek itu sendiri, di mana representasi itu menjadi hal yang lebih penting dibandingkan objek tersebut.  Tetapi ketika suatu tanda menutupi ketiadaan dari suatu realitas, akhirnya ia menjadi sesuatu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan realitas.  Inilah yang kemudian disebut Baudrillard, sebagai simulakra.

Simulakra, seperti diigaukan Baudrillard, filosof Perancis itu, adalah tanda atau simbol yang dibuat di media atau ruang budaya untuk merepresentasikan realitas. Simulakra adalah istilah untuk kondisi yang diproduksi, yaitu sistem di mana tanda kosong untuk menyebut diri mereka dan di mana makna dan nilai yang ada diuar ke ranah publik.
Di  tepi lain, seni pertunjukkan, seolah-olah sebuah bentuk simulasi –penggambaran dengan kerangka peniruan— seperti galibnya, mengandaikan pelbagai pernik realitas di luar ruang pertunjukkan, yang membentuk kesadaran dalam diri kita.

Realitas luar pertunjukkan, adalah realitas yang di dalamnya tumbuh beranekaragam kehidupan.  Maka sangat wajar jika Wicaksono Adi memberi simpul bahwa di dalam seni pertunjukkan semua batas menjadi longgar. Segala bentuk pernyataan bermakna yang di-amprokin dalam pertumbuhan ruang berikut permainan posisional para pesertanya, termasuk para penonton. Itu sebabnya seni pertunjukan menjadi lebih dekat dengan realitas dan peristiwa ketimbang seni yang lain (Wicaksono Adi, Menggelar Tubuh Tari, Kompas, 13 Mei 2012).

Tapi ada satu hal yang dilupakan Adi soal kekecewaan akhir-akhir ini  dari kalangan pengamat dan akademisi terhadap seni pertunjukkan.  Kekecewaan itu bermula karena tak adanya pergumulan yang intens dan konsiten terhadap epistemologi tubuh di kalangan penggerak seni pertunjukkan, khususnya seni kreasi tari. Minimnya kreasi pertunjukkan tari yang bertumpu pada fisikalitas tubuh tuk memahami tubuh menari menjadi bagian atau sub ordinat dari produsen budaya dan politik.

Kajian tari yang beranjak pada kurun 1990-an dan diprakasi Susan  Leigh Foster ini, mencoba menelisik soal  pengertian ketubuhan dan perwujudan pengetahuan serta hubungannya dengan  tindakan menulis.  Foster mengurai soal kreasi tari sebagai “sebuah bentuk  teorisasi , yang menjiwai dan dijiwai oleh proses penjabaran signifikansi tubuh.”
Berangkat dari titik pijak Foster,  seolah-olah seni pertunjukkan, terutama pertunjukkan tari,  terlalu asyik maksyuk dengan dirinya. Ia lupa menggandeng realitas di luar dirinya yang tumbuh dan berkembang dalam lingkup hidup para kreator pertunjukkan. Padahal dunia luar itulah yang menjadi injeksi sebuah pertunjukkan tercipta.

Semoga saja Indonesian Dance Festival 2012, tak hanya menjadi ruang pertunjukkan belaka. Tapi ia mampu melakukan pemetaan bahwa para pekerja seni itu bisa menjadi bagan tuk menggambar realitas di luar tubuhnya  sendiri.


Harian Umum Kompas, 27 Mei 2012

Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

SAJADAH TERAKHIR

SAJADAH TERAKHIR

di beranda, segelas rum Puerto Rico dengan tangki-tangki enamel putih dan …
Jejak Langkah

Jejak Langkah

Menekuni dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA, Edy A Effendi terus mengasah kemampuan…