SAJADAH TERAKHIR

SAJADAH TERAKHIR



di beranda, segelas rum Puerto Rico
dengan tangki-tangki enamel putih
dan pipa kronium mengantarku pada Claude Levi-Strauss.

angin memecah malam
tak ada lagi segelas rum Martinique
yang disuling dengan instrumen-instrumen lapuk
sejak abad 18, aku merindukanMu di sini
di antara kamar tidur dan rahim ibuku yang telah
dihuni batu-batu.

malam hari, bersama Gramsci
engkau mengajakku menari
di atas ribuan gelombang dan ombak kecil
yang menyapaku di setiap pagi

aku pungut gelombang, ombak
dan pasir putih yang tergeletak di tepi laut
dan di beranda rumah kecilku, langit menghujani bumi ketika tiap nafas bergulir di sela rawa-rawa

aku panggil sajadahku yang tak lagi
berjalan diatas rakaat subuhku.
kulayarkan sajadahku menepi di pinggir jendela kamar membaringkan langkahku yang terbujur
di selokan rumah

di simpang jalan, ketika sarung
sembahyangku tak lagi bicara,
sepasang merpati terbang di atas taman
mematuk putik, mengabarkan tentang tulang sumsumku yang kian mendayuh di tepi laut


Tangerang, 2003

Puisi saya ini sudah dimuat Harian Umum Kompas



Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

Jejak Langkah

Jejak Langkah

Menekuni dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA, Edy A Effendi terus mengasah kemampuan…