RUMAH TANPA PENGHUNI

RUMAH TANPA PENGHUNI


Jalan setapak menuju rumahku, jalan menuju kehidupan tanpa penghuni. Sepi, sunyi, senyap, mengalir deras di selokan rumahku. Masuk ke berbagai sudut rumah. Comberan yang diam. Kolam ikan yang mati, jadi pendulum rumah tanpa penghuni.

Tak ada dunia di rumahku. Tak ada kehidupan di kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu dan dapur, semua mati. Lukisan di dinding jadi saksi kebisuan penghuni rumah. Tak ada suara, tak ada kata bertebaran. Semua mati. Kami seperti mayat-mayat hidup. Berjalan tanpa roh. Bergerak tanpa jiwa. 

Tak ada dunia di rumahku. Udara lembab masuk ke berbagai ruang. Tak ada cahaya di sudut-sudut kamar. Para penghuni berjalan tanpa kepala, tanpa hati. Duduk dan berdiri tak mampu melukis warna bumi, warna langit. Warna bumi, warna langit menjelma jadi warna kegelapan. Tak ada matahari pagi, tak ada senja sore hari di balik pintu rumahku. 

Tak ada dunia di rumahku. Meja makan terkubur ratusan tahun lalu. Kursi-kursi tamu jadi bangkai. Para tetangga tak mau singgah karena bau bangkai di setiap sudut kursi-kursi tamu, menyeruak jadi bau busuk. Bau busuk yang tumbuh dari para penghuni rumah. Aku duduk di atas kursi-kursi tamu itu, memintal bau busuk, membawa poster Tuhan sambil mengeja nama-nama hari. Hari demi hari tak ada lagi warna bumi, tak ada lagi warna langit. Matahari tak mau singgah, bulan tak mau mengendap. 




Tak ada dunia di rumahku. Di atas kursi tamu itu, aku mengeja Paulo Coelho: Jangan lupa, matahari terbenam yang indah perlu langit yang kelabu.


Teras rumah,  5 September, 2019

Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Terpopuler

SAJADAH TERAKHIR

SAJADAH TERAKHIR

di beranda, segelas rum Puerto Rico dengan tangki-tangki enamel putih dan …