Sinopsis Novel Indra J Piliang "Pinangan dari Selatan" - PARIAMAN ...

 Membaca novel ‘Pinangan dari Selatan’ karya Indra J Piliang, seolah-olah membaca potret sejarah yang terluka dalam tubuh bangsa Indonesia.  Satu potret yang menyiratkan bahwa berbagai peristiwa yang hadir dalam laku lampah kehidupan sehari-hari, banyak dirimbuni oleh aura amarah, dendam, dengki dan napsu kekuasaan untuk saling menjegal satu sama lain demi mencapai tujuan.
Semua laku lampah dalam kehidupan manusia untuk memenuhi hasrat libido dirinya, tertuang secara rapi dalam novel ‘Pinangan dari Selatan’ (PdS). Satu novel yang menyuguhkan berbagai jejak peristiwa sejarah tanpa larut dalam pendokumentasian sejarah secara verbal. Data-data dan setting cerita dalam PdS, oleh Indra J Piliang (IJP) dikemas dengan ketrampilan cerita yang memikat tanpa larut dalam alur pendataan angka-angka.
Novel PdS, mengingatkan saya pada hilangnya hasrat para novelis Indonesia untuk melakukan pendokumentasian sejarah yang ada. Sejarah kehidupan bangsa Indonesia yang begitu kaya akan berbagai risalah, lenyap begitu saja tanpa ada usaha para novelis untuk mencatat kembali kerumunan peristiwa masa silam.
Tentu saja, para novelis bukanlah sejarawan. Tapi berbagai peristiwa sejarah jika diabadaikan dalam bentuk novel, bisa menjelma jadi arsitektur cerita yang menarik bagi pembaca. Pembaca dibawa dalam alam alur cerita sejarah tanpa harus masuk dalam kerumunan angka-angka.
Contoh sederhana perihal arsitektur cerita yang menarik dalam novel Indonesia yang menguar peristiwa-peristiwa sejarah, bisa dijumpai pada novel Suropati dan Robert Anak Suropati karya Abdul Muis juga Hulu Balang Raja karya Nur Sutan Iskandar. Abdul Muis dan Nur Sutan Iskandar, merekam jejak peristiwa sejarah dengan kemasan bahasa sastra yang menarik pada zamannya. Sebuah zaman, di mana sejarah hanya dipahami dan dicatat dari kerumunan diktat-diktat baku tanpa ada elaborasi bahasa yang memikat.
Pada titik ini, di mana sejarah yang diurai dalam diktat-diktat baku, tak mampu lagi menabur gairah membaca bagi para pencari gumpalan peristiwa masa lalu. Dan novel-novel sejarah hadir, untuk membuka jalan bagi para penyuka sejarah, memeta peristiwa masa lalu dengan bahasa yang indah, tersusun rapi dan penuh imaji tanpa mengurangi detil sebuah peristiwa.
Pada novel sastra yang mengambil latar sejarah, yang sengaja memberi pemahaman akan peristiwa sejarah, kadar sejarah lebih kental. Aktualitas dan faktisitasnya lebih terasa ketimbang imaji yang dibangun pengarang. Tapi jika novel sejarah diniatkan sebagai upaya proses penciptaan kreatif pengarang, unsur faktisitasnya berada pada titik lebih rendah daripada imaji pengarang. Yang dibutuhkan pada wilayah ini, kemampuan literer para novelis membangun konstruk cerita dengan pengayaan bahasa dan kekuatan karakter si tokoh dalam mengelaborasi alur cerita yang disuguhkan.
Kenyataan ini, kenyataaan di mana unsur faktisitasnya lebih rendah ketimbang imaji pengarang, terlihat pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Lihatlah novel-novel Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Selain Pramoedya, kenyataan soal faktisitasnya lebih rendah dan hanya menguar penggalan-penggalan sejarah hanya jadi latar, terlihat juga pada novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk  karya Ahmad Tohari, Burung-Burung Manyar karya YB Mangunwijaya.
Keberhasilan Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia tidak terletak pada uraian tekstual peristiwa sejarah yang terjadi pada masa pergolakan bangsa Indonesia. Tapi Pram berhasil menghidupkan kembali karakter Minke sebagai personifikasi karakter Tirtoadisoerjo, yang amat memikat pembaca.
Pada lajur yang sama, lajur keberhasilan memainkan tokoh dalam novel yang menguar isu kesejarahan, juga ditemui pada novel Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe. Stowe mencoba mengobarkan semangat gerakan anti perbudakan di Amerika yang kemudian punya imbas terhadap civil war. Keberhasilan Stowe bukan pada rincian peristiwa perihal kehidupan para budak tapi lebih pada kemampuan memainkan karakter seorang budak yang bernama Paman Tom, budak yang penuh derita di bawah kekuasaan petani kaya raya  bernama Arthuer Shleby.
Pada wilayah yang sama, selain Pram dan Stowe, YB Mangunwijaya dan Ahmad Tohari, pun melakukan hal serupa. Meracik sebuah peristwa dengan kekuatan karakter tokoh-tokoh yang ada dalam novel-novelnya. Mereka berhasil secara literer membangun konstruksi bahasa dalam wilayah sastra dengan kekuatan karakter tokoh yang disandang.
Dan novel PdS karya IJP juga menyuguhkan unsur faktisitasnya lebih rendah ketimbang imaji pengarang. Di berbagai sudut cerita, IJP menyodorkan bangunan-bangunan imaji yang cukup liar dengan berbagai terma peristiwa yang menarik.
Pada novel PdS, di balik kehidupan yang terlihat biasa-biasa saja, terdapat kisah pertarungan hidup-mati. Bisa atas nama apapun: cinta dan kesetiaan, kejahatan yang membunuh kebaikan, kebaikan yang membunuh kejahatan, kebaikan yang membunuh kebaikan ataupun kejahatan yang membunuh kejahatan. Manusia selalu memiliki cara untuk mempertahankan rasnya, keturunannya, termasuk keluarga dekatnya, dengan cara apapun.
Inilah kisah perjalanan hidup Tentra, Sisca dan sekumpulan perempuan (66 orang) yang dipimpin Cecillia Pacitani. Sebagian perempuan itu bekerja di dunia malam yang dipenuhi asap rokok, alkohol, ecstacy dan gemerincing uang. Dunia yang ternyata terhubung satu sama lain dalam sistem tersembunyi, dari satu diskotik ke diskotik lain, dari satu gadis ke gadis lain.
Novel PdS mengurai perdebatan pemikiran para ikhwan yang dipimpin Ustad Noval (garis keras), Ustad Tarya (moderat), Ustad Agung (humanis) dan lain-lainnya. Inti perdebatan termasuk posisi perempuan dalam menghadapi dunia arsitektur Indonesia yang dibentuk dari Lingga-Yoni. Lingga-Yoni jadi lambang yang paling menonjol di Indonesia, terutama dalam bentuk Monumen Nasional.
Percikan cerita novel PdS yang dikemas IJP, selain melakukan eksposisi dan eksplorasi bahasa, juga soal kemapuan bercertia pengarang yang terlihat sangat terjaga dalam bangunan alur cerita. IJP bukan saja seorang pencerita yang baik tapi sosok yang mampu membangun setting secara subtil. Setting itulah yang kemudian menjadi bangunan pokok menciptakan suasan novel PdS yang di dalamnya terdapat berbagai peristiwa sejarah.
Pijakan Membaca Sejarah
Membaca kembali apa yang diurai Goenawan Mohamad perihal sastra, sepertinya menemukan bentuknya ketika melihat perihal novel yang berbau tema sejarah. Kesusastraan, dalam pandangan Goenawan Mohamad, adalah hasil proses yang berjerih payah, dan tiap orang yang pernah menulis karya sastra tahu: ini bukan sekadar soal keterampilan teknik. Menulis menghasilkan sebuah prosa atau puisi yang terbaik dari diri kita adalah proses yang minta pengerahan batin.
Novel bergenre apapun, tentu saja tak lepas dari proses pengembaraan batin pengarang dengan teknik ketrampilan memainkan kata dan bahasa dalam berbagai ujaran yang membentuk sebuah prosa maupun puisi. Dalam soal teknik ketrampilan memainkan kata dan bahasa yang diusung dalam ranah karya sastra, yang dibutuhkan kemampuan literer pengarang dalam mengemas bahasa.
Persoalannya kemudian, sejauh mana teknik ketrampilan memainkan kata dan bahasa menjadi bagian yang utuh dalam proses penciptaan karya sastra. Tentu saja, novel yang mengurai peristiwa sejarah, tak serta merta merinci fakta-fakta sejarah. Tugas sastrawan adalah membangun konstruk peristiwa tanpa harus mencatat detil peristiwa sejarah.
Itulah kenapa Ben Anderson acapkali menyodorkan beragam novel sebagai titik pijak untuk melihat alur perubahan zaman yang sedang bergejolak pada titik mangsa tertenu. Ben mengurai dan mencoba menguar berbagai ragam semangat zaman pada periode tertentu dengan membesuk beberapa novel yang menggambarkan sebuah peristiwa sejarah.
Untuk memeta semangat dan gejolak lahirnya aura nasionalisme bangsa Filipina, Ben dalam karya Immagine Communities yang sangat fenomenal itu, mencoba mendekati novel Noli Me Tangere dan El Filibusterismo karya Jose Rizal sebagai cara untuk merekonstruksi kembali kejadian dan peristiwa nasionalisme bangsa Filipina. Dua novel Jose Rizal ini, satu kritik mengenai penjajahan Spanyol atas Filipina.
Jose Rizal menganjurkan kebebasan berbicara dan berkumpul, hak yang sama di depan hukum bagi Filipina, dan penunjukkan imam Filipina. Ia juga meminta Filipina untuk menjadi sebuah provinsi di Spanyol, dengan perwakilan di legislatif Spanyol (Cortes generales). Selain soal hak, Rizal menyeru kemerdekaan bagi Filipina. Seruan Rizal ini, dianggap pemerintah colonial, seruan radikal dan amat berbahaya dan ia dijadikan sebagai musuh negara. Novel Noli Me Tangere, kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia bertajuk Jangan Sentuh Aku dan El Filibusterismo, dialihbahasakan dalam Bahasa Indonesia menjadi Merajalelanya Keserakahan.
Novel yang merujuk pada peristwia sejarah, tetaplah bukan dokumen sejarah. Bukanlah diktat-diktat baku sejarah. Ia hanyalah penggalan peristiwa sejarah yang disusun dengan cara membangun konstruksi peristiwa melalui karakter tokoh, alur cerita dan dengan kemampuan literer sang pengarang. Novel yang hanyalah satu titik pijak untuk melihat peristiwa sejarah.
Dan novel Pinangan dari Selatan karya Indra J Piliang ini, mencoba membongkar struktur bangunan atau lambang-lambang mitologis yang dibuat di Indonesia yang kuat unsur perempuannya. Tokoh yang paling mempengaruhi anak-anak malam dan tokoh-tokoh penting di Indonesia, termasuk Soekarno, dan juga tokoh mitologis, Nyi Roro Kidul.
Novel Indra J Piliang, hanyalah cara lain memandang kerumunan jejak peristiwa sejarah dengan cara memeriksa kembali berbagai peristiwa masa silam agar mampu dijadikan ibrah (pelajaran) bagi pembaca. Sebuah pelajaran perihal masa lalu yang bisa dijadikan panduan atau peranti untuk menatap masa kini dan masa depan. Dan ternyata, kita memang membutuhkan kearifan dalam membaca karya orang lain. Karena bagaimanapun setiap teks memiliki kecerdasannya sendiri.
– Dimuat koran Kompas, 2016
Written by
edy a effendi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *